EtIndonesia. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah meningkat tajam setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat tengah bersiap melancarkan serangan militer besar terhadap Iran, dengan skenario terburuk mencakup upaya pergantian rezim. Situasi ini kini berkembang menjadi krisis internasional setelah Rusia dan Tiongkok terseret langsung ke dalam pusaran konflik.
Sinyal Serangan: Tenggat Trump dan Bocoran Operasi Militer
Pada 31 Januari 2026, situs independen Amerika DropSite melaporkan bahwa pejabat tinggi militer AS telah memberi tahu salah satu sekutu utama Washington di Timur Tengah bahwa Presiden Donald Trump kemungkinan akan memberikan otorisasi serangan militer terhadap Iran pada akhir pekan ini, bahkan secepat Minggu dini hari.
Menurut bocoran media Israel, operasi militer tersebut diperkirakan berlangsung antara tengah malam hingga pukul 03:00 waktu setempat, dan tidak terbatas pada fasilitas nuklir atau pangkalan rudal, melainkan juga berpotensi menargetkan struktur kekuasaan politik Iran.
Pada hari yang sama, Trump dalam konferensi pers di Gedung Putih menyatakan bahwa dia telah menetapkan batas waktu terakhir bagi Iran untuk mencapai kesepakatan.
“Apakah Amerika akan menggunakan kekuatan militer? Jawabannya hanya diketahui oleh Iran sendiri,” ujar Trump.
Dia juga menegaskan bahwa militer AS tidak akan mundur dan akan tetap dikerahkan di sekitar wilayah Iran.
Pentagon: “Iran Tidak Boleh Memiliki Senjata Nuklir”
Sehari sebelumnya, 30 Januari 2026, Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth menegaskan bahwa militer AS siap menjalankan keputusan apa pun yang diambil Presiden Trump terkait Iran.
Hegseth menekankan bahwa pernyataan Trump soal pelarangan senjata nuklir Iran bukan sekadar ancaman kosong. Dia bahkan mengungkap bahwa AS telah menerbangkan pembom siluman B-2 melintasi setengah bumi tanpa terdeteksi Iran, sebagai pesan kemampuan strategis yang jelas.
CENTCOM: Iran Siapkan Aksi Bersama Rusia dan Tiongkok
Masih pada 31 Januari, United States Central Command (CENTCOM) mengeluarkan pernyataan resmi yang menyebut bahwa Iran tengah merencanakan aksi gabungan dengan Rusia dan Partai Komunis Tiongkok di Selat Hormuz.
CENTCOM memperingatkan bahwa pihaknya tidak akan menoleransi tindakan berbahaya, termasuk:
- Penerbangan rendah di atas kapal perang AS
- Manuver agresif kapal cepat Iran
- Pengambilan gambar jarak dekat terhadap aset militer AS
Iran diminta menghentikan tindakan semacam itu karena berisiko memicu ketidakstabilan regional yang lebih luas.
Lampu Hijau Operasi dan Skenario “Pemenggalan Kepemimpinan”
Media Israel Channel 13 melaporkan bahwa Dewan Kepala Staf Gabungan AS telah menyetujui rencana operasi militer terhadap Iran.
Sejumlah media Amerika juga menyebut Washington tengah mempertimbangkan opsi ekstrem berupa “pemenggalan kepemimpinan”, termasuk kemungkinan menargetkan Ali Khamenei, serta mengirim pasukan khusus AS untuk menyerang fasilitas nuklir Iran dari dalam wilayahnya.
Rusia–Iran: Ancaman Balasan dan Peringatan ke Israel
Pada 30 Januari 2026, Vladimir Putin menerima Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Akbar Ahmadian, di Kremlin.
Dalam pertemuan tersebut, Ahmadian memperingatkan bahwa setiap aksi bermusuhan AS akan dibalas secara tepat, efektif, dan memiliki daya gentar, termasuk kemungkinan serangan langsung terhadap Israel.
Iran juga menyatakan telah mengetahui rencana operasi lawan, sehingga respons balasan tidak akan terbatas di laut, melainkan mencakup skenario konflik yang lebih luas dan kompleks. Teheran bahkan mengancam bahwa kedutaan besar AS di Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab dapat menjadi sasaran jika serangan terjadi.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan pasukan khusus Iran dilaporkan telah menerima perintah untuk:
- Mengamankan pangkalan rudal dan fasilitas nuklir
- Bersiap menghadapi operasi pendaratan helikopter AS
Pergerakan Udara dan Tawaran Uranium
Dalam 24 jam terakhir, sedikitnya tiga pesawat angkut berat Antonov Rusia dan satu pesawat Ilyushin dilaporkan mendarat di Iran, memicu spekulasi dukungan logistik darurat.
Di sisi lain, beredar informasi bahwa Iran, melalui jalur Turki, menyampaikan tawaran kepada AS:
Menyerahkan sekitar 400 kilogram uranium yang diperkaya dengan imbalan penghentian aksi militer.
Sebagai catatan, jumlah tersebut cukup untuk memproduksi sekitar 10 hulu ledak nuklir, sehingga tawaran ini dinilai sebagai langkah darurat Teheran untuk menghindari perang terbuka.
AS Tingkatkan Pengerahan Militer Global
Militer AS terus meningkatkan kesiapan tempur.
- Pembom B-52 Stratofortress telah lepas landas dari AS dan tiba di Pangkalan Diego Garcia
- Sebuah kapal perusak Angkatan Laut AS berlabuh di Pelabuhan Eilat, Israel, sebuah langkah langka meski kapal AS rutin beroperasi di Laut Merah
Langkah ini dinilai sebagai pesan strategis langsung kepada Iran dan pihak-pihak yang mendukungnya.
Tekanan Finansial dan Sanksi Tambahan
Pada 31 Januari, Menteri Keuangan AS, Scott Bessent memperingatkan elite Iran bahwa rezim Teheran tidak membangun kesejahteraan rakyat, melainkan menghamburkan pendapatan minyak untuk:
- Program nuklir
- Pengembangan rudal
- Pendanaan terorisme global
Trump menyatakan dirinya berpihak kepada rakyat Iran, dan telah menginstruksikan Departemen Keuangan untuk menjatuhkan sanksi tambahan, termasuk terhadap:
- Enam pejabat tinggi IRGC
- Kepala Intelijen Hadami
- Lima komandan provinsi
- Miliarder Iran Babak Zanjani
Tiongkok Terjun Langsung: Dukungan Intelijen dan Armada PLA
Situasi semakin kompleks setelah Tiongkok secara terbuka menyatakan tidak akan mengizinkan pergantian rezim di Iran.
Laporan intelijen menyebut satelit Tiongkok tengah memantau sistem pertahanan udara AS di Timur Tengah, dan jika konflik pecah, Beijing berpotensi memberikan dukungan intelijen langsung kepada Iran.
Beberapa kapal perusak berat PLA, termasuk kapal logistik Gaoyouhu, dilaporkan telah berlayar dari pangkalan Hainan menuju perairan dekat Iran. Unit PLA darat dan udara juga diduga bersiap untuk dikerahkan.
Di media sosial, warganet menyebut langkah Beijing sebagai “Perang Melawan Amerika ala Zaman Baru”, menilai Xi Jinping telah berani mengambil risiko konfrontasi langsung dengan Washington bersama Iran dan Rusia.
Seruan Boikot Global terhadap Tiongkok
Menanggapi perkembangan ini, Departemen Luar Negeri AS pada 31 Januari 2026 menyerukan dunia internasional untuk memboikot produk Tiongkok.
Washington menuduh rezim Beijing:
- Menjual produk murah tanpa nilai
- Memperdagangkan “persahabatan murah”
- Melegalkan kejahatan yang dinilai dapat menghancurkan fondasi peradaban global
Kesimpulan: Dengan tenggat yang ditetapkan Trump, kesiapan militer AS, serta keterlibatan langsung Rusia dan Tiongkok, krisis Iran kini telah berkembang menjadi ancaman konflik global. Selat Hormuz, Timur Tengah, dan bahkan tatanan internasional berada di titik paling berbahaya dalam beberapa dekade terakhir.




.jpg)
