FAJAR, MAKASSAR – Sulawesi Barat berduka. Salah satu putra terbaiknya, Mayjen TNI (Purn) Salim S Mengga, yang menjabat sebagai Wakil Gubernur Sulawesi Barat (Sulbar), mengembuskan napas terakhir di RS Siloam, Makassar, pada Sabtu pagi (31/1/2026).
Kepergian tokoh kharismatik ini meninggalkan duka mendalam. Khususnya bagi masyarakat di tanah Mandar.
Lahir di Pambusuang pada 24 September 1951, Salim S Mengga merupakan putra dari tokoh legendaris Sulbar, Sayyid Mengga Alattas (Bupati Polewali Mamasa 1980-1990). Darah kepemimpinan ini membawanya menempuh jalur militer setelah lulus SMA pada 1970.
Salim tercatat sebagai bagian dari angkatan emas Akabri 1974. Di korps tersebut, ia menempuh pendidikan bersama tokoh-tokoh besar nasional, di antaranya Prabowo Subianto (Presiden RI), Sjafrie Sjamsoeddin (Menteri Pertahanan), dan Ryamizard Ryacudu (Mantan Menhan).
Persahabatan panjang dengan Prabowo Subianto tampak nyata saat pelantikan Gubernur dan Wagub Sulbar di Istana Negara pada 20 Februari 2025.
Meski saat itu Salim mengenakan kursi roda, Presiden Prabowo secara khusus menghampiri dan berbincang hangat dengannya. Sebuah gestur penghormatan kepada kawan seperjuangan.
Dari Kavaleri hingga Pangdam
Selama pengabdiannya di TNI AD, Salim dikenal sebagai ahli strategi di korps Kavaleri. Puncak karier militernya ditandai dengan jabatan strategis. Mulai dari Kasdam IV/Diponegoro, Wadankodiklat TNI AD, hingga Pangdam XV/Pattimura (2005-2006) dengan pangkat terakhir Mayor Jenderal.
Transformasi Politik
Pasca-pensiun dari militer, Salim tidak lantas beristirahat. Ia terjun ke politik dan sukses menjadi anggota DPR RI dari Partai Demokrat selama dua periode (2009-2019).
Kiprah Salim S Mengga di panggung politik Sulawesi Barat penuh dengan dinamika yang menarik. Pada Pilkada Sulbar 2017, ia maju sebagai calon gubernur dengan menggandeng Hasanuddin Mas’ud.
Kala itu, persaingan berlangsung sengit karena ia harus berhadapan dengan dua kekuatan besar lainnya: pasangan Ali Baal Masdar-Enny Angraeny Anwar serta duet Suhardi Duka-Kalma Katta.
Meski memiliki basis massa yang kuat, hasil akhir menempatkan Ali Baal Masdar sebagai pemenang yang menjabat untuk periode 2017–2023. Namun, kegagalan tersebut tidak menyurutkan semangat pengabdian sang Jenderal.
Setelah sempat mencoba peruntungan di Pemilu Legislatif 2024 melalui Partai Perindo, namun belum berhasil menembus kursi DPR RI, sebuah plot politik yang mengejutkan terjadi.
Suhardi Duka, yang merupakan rivalnya pada Pilkada 2017, justru datang meminang Salim untuk menjadi calon wakil gubernurnya pada Pilkada 2024.
Kedewasaan berpolitik ditunjukkan Salim dengan menerima tawaran tersebut. Rivalitas masa lalu luluh demi visi pembangunan Sulawesi Barat yang lebih maju.
Pasangan ini pun akhirnya berhasil memenangkan kepercayaan rakyat, menandai babak akhir pengabdian Salim sebagai Wakil Gubernur sebelum berpulang.
Gubernur Sulbar, Suhardi Duka, mengenang mendiang sebagai sosok pemimpin yang istikamah. “Beliau adalah teladan sejati, pemimpin yang dedikasinya terhadap rakyat tidak perlu diragukan lagi,” ungkap Suhardi.
Meski sempat terjadi rivalitas dengan Suhardi Duka, sejarah mencatat akhir yang indah. Inilah pengabdian terakhir sang Jenderal untuk tanah kelahirannya sebelum dipanggil Sang Khalik. (*)



