Istilah superfood kerap dianggap lebih sebagai jargon pemasaran ketimbang kategori ilmiah. Namun, sebuah tinjauan riset terbaru tentang manfaat bambu pada kesehatan memberi sinyal kuat bahwa tanaman ini mungkin memang pantas menyandang sebutan tersebut.
Tim peneliti internasional menganalisis berbagai studi terdahulu yang mencakup uji coba pada manusia serta penelitian laboratorium. Tujuannya, menilai dampak konsumsi rebung dan produk olahan bambu terhadap kesehatan.
Hasilnya, para peneliti mencatat beragam manfaat yang berkaitan dengan konsumsi bambu, mulai dari perbaikan kesehatan metabolik dan pencernaan, penurunan peradangan dan toksisitas sel, hingga berkurangnya risiko sejumlah penyakit. Riset ini sudah tayang di jurnal Advances in Bamboo Science.
“Temuan dari tinjauan sistematis kami yang mencakup 16 studi menunjukkan bahwa jika diolah dengan tepat, konsumsi bambu berpotensi memberikan banyak manfaat kesehatan bagi manusia,” tulis para peneliti sebagaimana dikutip Science Alert.
Selama ini, bambu memang dikenal memiliki kandungan protein dan serat yang tinggi, rendah lemak, serta kaya nutrisi dan vitamin. Namun, penelitian ini menjadi yang pertama mengulas secara komprehensif seluruh bukti ilmiah yang tersedia terkait peran bambu dalam pola makan.
Salah satu manfaat potensial dari menambahkan rebung ke dalam menu harian, misalnya pada masakan tumis, adalah perbaikan kontrol glikemik atau pengaturan gula darah. Efek ini dinilai dapat menurunkan risiko diabetes atau membantu pengelolaannya.
Studi lain yang masuk dalam tinjauan tersebut juga menunjukkan bahwa bambu memiliki efek meningkatkan probiotik, yakni menambah jumlah bakteri baik hidup di dalam usus yang penting bagi kesehatan pencernaan.
Meski demikian, para peneliti mengingatkan adanya sisi lain yang perlu diperhatikan. Bambu diketahui mengandung senyawa yang berpotensi toksik sehingga harus diolah dengan benar sebelum dikonsumsi. Beberapa studi yang dianalisis juga menemukan persoalan terkait kadar timbal serta pembengkakan kelenjar tiroid.
“Bambu sudah lama dikonsumsi di berbagai wilayah Asia dan memiliki potensi besar sebagai tambahan pangan yang sehat dan berkelanjutan, namun harus dipersiapkan dengan cara yang benar,” ujar Lee Smith, profesor kesehatan masyarakat di Anglia Ruskin University, Inggris.
Menurut Smith, beragam manfaat kesehatan yang teridentifikasi, termasuk potensi bambu dalam membantu mengatasi tantangan kesehatan modern seperti diabetes dan penyakit jantung, kemungkinan besar berasal dari kandungan gizinya. Bambu kaya akan protein, asam amino, karbohidrat, mineral, dan vitamin.
Tinjauan ini semakin menegaskan potensi bambu sebagai bahan pangan dengan manfaat kesehatan yang luas. Namun di saat yang sama, para peneliti menekankan bahwa studi lebih lanjut masih sangat dibutuhkan. Banyak riset yang ditelaah masih berskala kecil atau hanya dilakukan di laboratorium, bukan pada manusia secara langsung.
Tak heran jika penelitian ini secara eksplisit disebut sebagai call to action, yakni seruan untuk mendorong riset lanjutan. Dengan penelitian yang lebih besar dan mendalam, para ilmuwan berharap dapat mengetahui sejauh mana potensi bambu sebagai superfood.
“Tinjauan kami menunjukkan bahwa bambu memiliki potensi sebagai makanan superfood, tetapi masih ada celah pengetahuan yang perlu diisi,” kata Smith.
“Kami hanya menemukan empat studi pada manusia yang memenuhi kriteria kami. Karena itu, uji coba berkualitas tinggi pada manusia masih sangat diperlukan sebelum rekomendasi yang lebih tegas bisa diberikan.”




