JAKARTA, KOMPAS.com - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi DKI Jakarta menegaskan bahwa Sistem Pemantau Kualitas Udara (SPKU) di sekitar fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) Rorotan, Cilincing, tidak dimatikan.
Saat ini, seluruh perangkat SPKU tersebut tengah menjalani proses uji kolokasi atau kalibrasi lapangan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Asep Kuswanto, menjelaskan bahwa uji kolokasi dilakukan untuk memastikan data kualitas udara dan kebauan yang dihasilkan SPKU akurat, presisi, serta dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
“Tidak ada pemadaman atau penghentian pemantauan. Yang dilakukan adalah proses kalibrasi lapangan agar sensor membaca kondisi lingkungan secara tepat dan tidak menimbulkan salah tafsir terhadap data mentah,” tulis Asep dalam keterangan resmi, Sabtu (31/1/2026).
Baca juga: Meski Sempat Diminta Distop, DLH Tegaskan RDF Rorotan Tetap Berjalan
Asep menyampaikan, uji kolokasi merupakan prosedur yang lazim dilakukan pada sistem pemantauan kualitas udara, terutama pada teknologi baru.
Proses tersebut bertujuan mengidentifikasi potensi bias sensor akibat karakteristik lingkungan setempat, termasuk pengaruh wilayah pesisir.
DLH DKI Jakarta diketahui telah memasang delapan unit SPKU di sekitar fasilitas RDF Plant Rorotan sejak akhir Desember 2025.
Perangkat tersebut diklaim menjadi yang pertama di Indonesia yang secara khusus dilengkapi sensor pengukur kebauan ambien.
"Seluruh SPKU tersebut dilengkapi sensor pemantauan kebauan ambien dengan parameter antara lain amoniak, hidrogen sulfida, metil merkaptan, metil sulfida, dan stirena," jelas Asep.
Baca juga: Tangis Warga ke Pramono, Merasa Tersiksa Bau Busuk dari RDF Rorotan
Dalam proses kalibrasi lapangan, DLH DKI Jakarta melakukan pengambilan sampel kebauan ambien secara terstandardisasi. Sampel tersebut kemudian diuji di laboratorium terakreditasi.
Hasil uji laboratorium selanjutnya dibandingkan dengan data pembacaan SPKU guna menyempurnakan sistem pemantauan sebelum data ditampilkan secara penuh kepada publik.
“Data kebauan tidak bisa dibaca sebagai satu angka tunggal. SPKU berfungsi sebagai early warning system dan alat membaca tren perubahan kualitas udara dari waktu ke waktu, bukan untuk menarik kesimpulan instan,” ungkap Asep.
Ia menambahkan, senyawa kebauan dapat berasal dari berbagai sumber, baik aktivitas di darat maupun kondisi alami wilayah pesisir.
Baca juga: Warga Minta Evaluasi Menyeluruh RDF Rorotan, Bau Masih Tercium Meski Distop
Intensitas kebauan juga dipengaruhi oleh faktor cuaca, terutama pada malam hari.
DLH DKI Jakarta memastikan akan terus melakukan pemantauan kualitas udara secara berkelanjutan, mengevaluasi operasional RDF Plant Rorotan secara bertahap, serta menyampaikan informasi kepada masyarakat secara terbuka dan berbasis data ilmiah.
“Penguatan teknologi dan kehati-hatian lingkungan adalah prinsip utama kami," tambah Asep.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5489409/original/031839000_1769853372-IMG_9694.jpeg)

