BANDUNG, KOMPAS-Sebagian warga Jawa Barat terdampak anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Mereka rugi ratusan ribu hingga jutaan rupiah.
IHSG dalam perdagangan dua hari beruntun sempat ambles dan dibekukan sementara (trading halt). Ketika perdagangan berlangsung, IHSG menyentuh level 7.481 atau longsor 9,87 persen dari titik tertingginya sepanjang sejarah di level 9.134,7 pada 20 Januari 2026.
Runtuhnya perdagangan di pasar modal dalam dua hari kemarin, antara lain, dipicu sentimen pasar menyusul rilis yang dikeluarkan Morgan Stanley Capital International (MSCI). Dalam sepekan hingga Kamis (29/1/2026), arus keluar bersih dana investor asing di pasar saham RI mencapai Rp 11,05 triliun.
Anjloknya IHSG bahkan mendorong Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman dan empat pejabat Otoritas Jasa Keuangan mengundurkan diri.
Nappisah (25), warga yang berinvestasi saham asal Kota Bandung, turut terdampak dengan anjloknya IHSG. Pekerja perusahaan swasta ini mengaku rugi hingga Rp 2 juta.
Dia mengaku sebagai trader khawatir dengan pengunduran diri para petinggi BEI dan OJK. Hal ini disayangkan karena masih dapat diperbaiki agar IHSG bisa naik kembali.
"Sebetulnya dengan respon (pengunduran diri) pemerintah seperti ini akan membuat para investor ragu. Padahal, Menteri Keuangan Purbaya Yudha Sadewa optimis IHSG bisa naik lagi pekan depan," tuturnya.
Akan tetapi, Nappisah menuturkan, memilih opsi tidak akan menjual sahamnya meskipun nilainya anjlok. Dia juga tidak ingin membeli saham baru terlebih dahulu karena tidak memiliki modal investasi yang cukup.
"Saya selalu mempertahankan saham selama dua tahun terakhir meskipun sudah terjadi trading halt dua hari berturut-turut. Ke depan, pemerintah harus lebih cermat menyelesaikan masalah tersebut," ungkapnya.
Hal serupa dialami Hartati Oktaviani (46), trader lainnya di Bandung. Hartati rugi sekitar Rp 200.000 saat IHSG anjlok dua hari berturut-turut.
Meskipun merugi, Hartati tidak merasa khawatir yang berlebihan dan optimis pemerintah bisa mencari solusi untuk menstabilkan kembali IHSG.
”Saya juga memilih opsi hold atau menahan untuk tidak menjual saham yang nilainya anjlok. Sebab, saya optimis kondisi finansial perusahaannya yang sehat, " ucapnya.
Dosen sekaligus pengamat ekonomi Universitas Islam Nusantara (Uninus) Mochammad Rizaldy Insan Baihaqqy berpendapat, trading halt atau pembekuan sementara bukan untuk menghentikan sistem tapi mendinginkan kondisi pasar untuk sementara waktu.
Menurutnya, hal ini baik bagi investor dengan kemampuan literasi keuangan yang baik untuk membereskan portofolio. Dunia usaha juga punya kesempatan menjaga keseimbangan antara risiko dan potensi imbal hasil.
Bagi masyarakat, Rizaldy mengatakan, agar tidak panik karena pergerakan nilai saham memang fluktuatif. Dia menyarankan agar warga mengenali dulu tujuan investasinya, dilakukan untuk jangka menengah atau panjang.
Selain itu, dalam berinvestasi, warga juga harus memiliki rencana diversifikasi. Pembelian saham tidak hanya di satu sektor usaha saja, seperti perbankan, tapi juga di sektor industri lainnya.
"Masyarakat ketika berinvestasi saham harus melihat bisnis dan pihak yang terlibat di dalam perusahaan itu. Gunakanlah uang untuk investasi yang bukan dipakai dalam kebutuhan sehari-hari, " tuturnya.


