Gelombang besar laporan kinerja keuangan emiten, termasuk dari perusahaan raksasa Alphabet dan Amazon, akan menguji Wall Street pada pekan mendatang.
IDXChannel - Gelombang besar laporan kinerja keuangan emiten, termasuk dari perusahaan raksasa Alphabet dan Amazon, akan menguji Wall Street pada pekan mendatang.
Sebelumnya, laporan mengecewakan dari raksasa teknologi Microsoft membebani indeks saham.
Wall Street juga akan mencermati laporan ketenagakerjaan bulanan AS yang dijadwalkan rilis pada 6 Februari. Pekan ini, Federal Reserve (The Fed) menyoroti adanya tanda-tanda stabilisasi di pasar tenaga kerja, seiring bank sentral AS tersebut menghentikan sementara siklus pemangkasan suku bunganya.
Dengan pasar saham memasuki tahun keempat fase bull market, investor semakin waspada terhadap valuasi yang terus meningkat, khususnya pada saham-saham yang melonjak tajam berkat optimisme terhadap keuntungan berbasis kecerdasan buatan (AI).
Microsoft, yang telah menggelontorkan belanja besar untuk infrastruktur pendukung aplikasi AI, melihat sahamnya tertekan pada Kamis setelah kinerja bisnis komputasi awannya gagal memenuhi ekspektasi. Saham sektor perangkat lunak secara luas juga terpuruk, di tengah kekecewaan lanjutan di industri tersebut.
"Untuk perusahaan-perusahaan dengan ekspektasi yang sudah sangat, sangat tinggi, beban pembuktian ada pada mereka," ujar chief investment officer Plante Moran Financial Advisors, Jim Baird, dilansir Investing, Minggu (1/2/2026).
Meski melemah di akhir pekan, indeks acuan S&P 500 masih menguat lebih dari 1 persen sepanjang tahun berjalan dan tidak jauh dari level tertinggi sepanjang masa. Indeks ini sempat menembus level 7.000 untuk pertama kalinya pada awal pekan sebelum kembali terkoreksi.
Dalam beberapa hari ke depan, investor juga akan mencerna berbagai perkembangan yang diumumkan pada Jumat lalu, termasuk pencalonan mantan Gubernur The Fed Kevin Warsh oleh Presiden Donald Trump sebagai ketua bank sentral berikutnya.
Penurunan tajam harga emas dan perak pada Jumat, setelah sebelumnya melonjak signifikan, turut membuat pasar cemas.
Pekan Padat Laporan Keuangan
Sekitar seperempat dari emiten anggota S&P 500 dijadwalkan merilis laporan kinerja kuartalan pada pekan depan. Ekspektasi pertumbuhan laba perusahaan AS yang kuat menjadi salah satu sumber utama optimisme yang menopang prospek bullish saham pada 2026.
Dari 166 perusahaan S&P 500 yang telah melaporkan kinerjanya hingga Jumat, sebanyak 76,5 persen membukukan laba di atas ekspektasi analis, hampir sejalan dengan rata-rata 78 persen dalam empat kuartal sebelumnya, berdasarkan data LSEG IBES.
Laba kuartal keempat diperkirakan meningkat 10,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Berbeda dengan Microsoft, Meta Platforms yang merupakan sesama raksasa teknologi dan investor besar di bidang AI, mencatatkan penjualan yang kuat dalam laporan kuartalannya, sehingga mendorong harga sahamnya melonjak pada Kamis.
Perhatian investor kini tertuju pada laporan kinerja serta rencana belanja modal dari induk Google, Alphabet, dan Amazon, dua "hyperscaler" lain yang berfokus pada pengembangan AI.
“Meskipun reaksi investor terhadap laporan keuangan dari beberapa hyperscaler bervariasi, hal itu menegaskan bahwa belanja modal untuk pembangunan infrastruktur AI tidak akan melambat," ujar chief investment strategist TD Wealth, Sid Vaidya.
Perusahaan lain yang juga dijadwalkan melaporkan kinerja pekan depan antara lain produsen obat penurun berat badan Eli Lilly, produsen chip Advanced Micro Devices (AMD), serta raksasa media Walt Disney. Secara keseluruhan, emiten S&P 500 diperkirakan meningkatkan laba hingga 15 persen pada 2026, sehingga prospek keuangan mereka akan berada dalam sorotan ketat.
Laporan ketenagakerjaan pekan depan juga akan memberikan gambaran penting bagi Wall Street mengenai kesehatan ekonomi AS.
Indeks harga konsumen (CPI) bulanan, yang diawasi ketat untuk melihat tren inflasi, juga dijadwalkan rilis pada pekan berikutnya.
(NIA DEVIYANA)



