Masa pendekatan atau yang akrab disebut PDKT menjadi momen krusial sebelum memutuskan untuk berpacaran. Pada masa-masa kencan awal ini, sebagian dari kita memulai perkenalan dengan perlahan, namun tak jarang pula ada yang to the point dengan arah dan tujuan yang diinginkan dalam sebuah hubungan.
Mengatakan ekspektasi sejak awal biasanya dilakukan oleh seseorang yang tidak ingin membuang waktu dan menginginkan hubungan yang benar-benar serius. Nah, cara tersebut dikenal sebagai tren “hardballing”, yakni salah satu metode kencan yang menekankan keterbukaan dan ketegasan sejak awal.
Bagi kamu yang masih asing dengan istilah ini, tak perlu khawatir. kumparanWOMAN telah merangkum informasi seputar hardballing, mulai dari pengertian secara mendalam, cara menerapkannya, hingga dampak positif dan negatif yang perlu dipertimbangkan.
Memahami Tren HardballingDilansir Psychology Today, hardballing merupakan gaya kencan ketika seseorang berterus terang tentang tujuan, hal yang disukai dan tidak disukai. Biasanya seseorang yang memilih gaya kencan ini akan membahas topik rumit, terutama soal tujuan hubungan meski belum lama kenal.
Melalui cara ini, seseorang secara tidak langsung melakukan proses seleksi terhadap calon pasangan. Pada akhirnya, hardballing digunakan sebagai strategi untuk menghemat waktu dan menghindari hubungan yang tak sejalan dengan harapan.
“Tren harballing membantu seseorang menghindari pertanyaan “kita ini apa?” di kemudian hari. Jika berterus terang dengan calon pasangan membuatnya menjauh, maka dia memang bukan untukmu,” ujar Jana Hocking, Pengamat Hubungan asal Australia.
Cara Melakukan Hardballing yang TepatMeski terdengar sederhana, penerapan hardballing tetap membutuhkan langkah yang tepat agar tidak terkesan berlebihan. Berikut beberapa cara yang bisa kamu lakukan, Ladies!
1. Bersikap jujur di waktu yang tepatMeski tujuan utama hardballing adalah menghemat waktu, keterusterangan tetap perlu disampaikan pada momen yang tepat. Jika dilakukan terlalu dini atau tanpa sensitivitas, kejujuran justru bisa terasa menekan dan berlebihan.
2. Bangun ikatan emosional terlebih dahuluSebelum menyampaikan tujuan hubungan secara gamblang, penting untuk membangun kedekatan dan menyatukan frekuensi. Kamu bisa memulainya secara perlahan, tidak terlalu lambat seperti hubungan yang menggantung, namun juga tidak terlalu berat sejak awal.
3. Berkompromi dengan calon pasanganTerakhir, tak ada salahnya untuk saling bertukar pandangan mengenai harapan masing-masing. Hubungan dijalani oleh dua orang, sehingga hardballing sebaiknya dilakukan melalui diskusi dan keterbukaan, bukan sekadar tuntutan sepihak.
Dampak Positif dan Negatif Tren HardballingSebelum memutuskan untuk mengadopsi gaya kencan ini, kamu perlu mempertimbangkan baik dan buruknya. Berikut sejumlah dampak positif dan negatif dari tren hardballing yang patut dipikirkan.
Dampak positif hardballing1. Tidak buang-buang waktu
Sikap terus terang sejak awal membantu seseorang lebih cepat mengetahui arah hubungan yang diinginkan.
2. Dapat menilai kecocokan sejak awal
Kejujuran yang dibangun sejak awal memungkinkan kedua pihak menimbang kesesuaian nilai dan tujuan hidup. Alasan ketidakcocokan pun bisa diketahui lebih dini, tanpa harus muncul belakangan.
3. Relevan untuk seseorang yang ingin hubungan serius
Gaya kencan ini cocok bagi mereka yang ingin melangkah ke jenjang yang lebih serius, seperti pernikahan. Serta bagi yang tidak tertarik menjalani hubungan untuk sekadar main-main.
Dampak negatif tren hardballing1. Jadi cara berbohong untuk memperbaiki citra
Meski mengedepankan kejujuran, gaya kencan ini tak jarang dimanfaatkan untuk menyembunyikan niat atau sikap sebenarnya. Ada seseorang yang justru memoles citra diri agar terlihat ideal di awal hubungan.
2. Menutupi sikap buruk
Bersikap jujur dan lemah lembut akan membuat calon pasangan yakin. Namun, ini dapat menjadi salah satu cara untuk menutupi sikap buruk dan akan baru muncul saat sudah menjalin hubungan.
3. Sifat manipulatif baru terlihat belakangan
Walaupun di awal hubungan terlihat terbuka dan jujur, sikap manipulatif atau egois sering kali baru muncul ketika hubungan sudah berjalan lebih jauh.
Baca juga: Mankeeping, Saat Perempuan Menjadi Penopang Emosi Pasangan dalam Hubungan





