Pantau - Dua bulan pasca banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Gayo Lues, Aceh, masyarakat setempat tetap menunjukkan semangat bertahan dan ketangguhan dalam menghadapi dampak kerusakan yang luas, termasuk rumah, kebun, bahkan kuburan keluarga yang hilang dihanyutkan.
Salah satu wilayah paling terdampak adalah Kecamatan Pining, yang sempat terisolasi total setelah dua jembatan utama terbawa arus dan banyak ruas jalan amblas.
Kini, kendaraan harus menyeberangi sungai karena jembatan belum pulih, meskipun jalan darurat telah dibangun membelah bukit untuk menghubungkan ke pusat kota.
Di beberapa desa seperti Pintu Rime, jembatan penghubung hanya tersisa separuh, dan jembatan kayu sementara hanya bisa dilalui sepeda motor.
Mobil harus melintasi sungai dengan arus deras dan hanya mobil berpenggerak empat roda (4x4) yang dapat melintas.
Semangat Warga dan Proses Pemulihan BertahapAmi (50), pedagang telur di Pasar Terpadu Blangkejeren, menyampaikan filosofi hidup warga Gayo.
"Orang Gayo itu kalau dibantu alhamdulillah, kalau tidak dibantu, main terus. Jadi, tidak terlalu berlarut-larut dalam persoalan. Semangat juangnya tinggi," ujarnya.
Feri (24), warga Pintu Rime, mengenang masa-masa sulit di awal bencana.
"Kita mengambil bantuan itu satu hari satu malam, 18 kilometer, karena apa pun belum bisa, sekarang sudah mulai bisa," ungkapnya.
Dandim 0113/Gayo Lues, Letkol Arm Fran Desiapan Eka Saputra, menyebut proses pemulihan akses sempat terkendala logistik karena kondisi geografis yang sulit dijangkau.
Sejak pertengahan Januari, modifikasi cuaca oleh BMKG membantu memperbaiki akses, dan kini tidak ada lagi wilayah yang sepenuhnya terisolasi, meskipun beberapa desa seperti Pining masih mengalami kesulitan.
Warga yang mengungsi tinggal di tenda-tenda darurat, berharap cuaca tetap bersahabat dan pemulihan berjalan lancar.
Di Desa Bunayya, warga berkumpul mengikuti layanan kesehatan gratis dan sunatan massal dari tim relawan, sementara di Desa Agusen, Lela (30) tetap menjalankan usaha kopi lokal dari rumahnya yang selamat.
Ismail (65) memanggul karung berisi kemiri sisa panen sebelum bencana untuk dijual, sebagai bentuk ikhtiar mempertahankan penghidupan.
Meskipun kehilangan banyak hal, warga Gayo tetap bersyukur dan berharap listrik tetap menyala, puing-puing segera dibersihkan, dan mereka bisa menyambut Ramadan di hunian sementara yang lebih layak.

