Sekjen Golkar Ingatkan Bahaya Multipartai Ekstrem bagi Sistem Presidensial

viva.co.id
4 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Golkar M. Sarmuji menegaskan pentingnya konsistensi dalam pembangunan sistem politik Indonesia agar selaras dengan sistem pemerintahan presidensial sebagaimana diamanahkan oleh UUD 1945.

Menurutnya, sistem politik termasuk sistem kepartaian dan tak boleh dibangun secara terpisah dari desain dasar sistem pemerintahan. Dalam konteks presidensialisme, Indonesia membutuhkan sistem multipartai sederhana agar pemerintahan dapat berjalan efektif, stabil, dan akuntabel.

Baca Juga :
PDIP Tegaskan Perdamaian Palestina Lewat Kerangka PBB, Bukan Board of Peace
Eks Ketua Fraksi Golkar Marzuki Achmad Berpulang, Sarmuji Kenang Figur Penting Demokrasi Parlemen

Ilustrasi surat suara pemilu
Photo :
  • VIVA.co.id/Andrew Tito

“Kita mesti konsisten terhadap pembangunan sistem politik Indonesia. Sistem politik, termasuk sistem kepartaian, harus sesuai dan selaras dengan sistem pemerintahan presidensial sebagaimana diamanahkan oleh UUD NRI Tahun 1945. Sistem politik yang berkesesuaian dengan sistem pemerintahan presidensial adalah sistem multipartai sederhana,” ujar Sarmuji dalam keterangan tertulisnya, Minggu, 1 Februari 2026.

Ketua Fraksi Partai Golkar DPR RI itu menjelaskan bahwa tanpa penyederhanaan sistem kepartaian, sistem presidensial akan terus menghadapi persoalan fragmentasi politik yang berdampak pada lemahnya efektivitas pemerintahan dan pengambilan keputusan strategis di tingkat nasional.

“Presidensialisme tidak akan pernah bekerja optimal jika ditopang oleh sistem kepartaian yang terlalu terfragmentasi. Pemerintah akan terus tersandera tarik-menarik kepentingan politik, dan rakyat yang akhirnya menanggung biaya dari ketidakefektifan itu,” tegas Sarmuji.

Dalam konteks tersebut, Sarmuji menilai parliamentary threshold atau ambang batas parlemen merupakan salah satu instrumen konstitusional dan demokratis untuk mendorong penyederhanaan sistem kepartaian secara alamiah.

“Parliamentary threshold adalah instrumen untuk menyederhanakan sistem kepartaian kita. Penolakan terhadap parliamentary threshold pada dasarnya adalah penolakan terhadap sistem multipartai sederhana,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa menolak upaya penyederhanaan sistem kepartaian sama artinya dengan mendorong lahirnya sistem multipartai ekstrem yang tidak selaras dengan karakter sistem presidensial.

“Mereka yang menolak parliamentary threshold sesungguhnya menginginkan sistem multipartai ekstrem, yang tidak berkesesuaian dengan sistem presidensial dan berpotensi melemahkan efektivitas pemerintahan,” katanya.

Proses Pemungutan suara pemilu 2024. (foto ilustrasi)
Photo :
  • VIVA.co.id/Sherly (Tangerang)

Partai Golkar, kata dia, akan terus berkomitmen mengawal pembangunan sistem politik nasional yang rasional, konstitusional, dan berorientasi pada penguatan tata kelola pemerintahan demi kepentingan bangsa dan negara.

Baca Juga :
Wacana Penghapusan Ambang Batas Parlemen, Said PDIP Singgung Kawin Paksa Politik
Dorong Pelonggaran Syarat Pencalonan di Pilkada, PSI Ungkap Alasannya
Adies Kadir Diwakafkan Golkar untuk Jadi Hakim MK

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Purbaya: Jeffry Hendrik jadi Pjs Dirut BEI, Penetapan Definitif Senin (2/2)
• 20 jam lalubisnis.com
thumb
Arsenal Gilas Leeds 4-0, The Gunners Melesat 7 Poin di Puncak Klasemen
• 13 jam laluviva.co.id
thumb
Prediksi Liverpool vs Newcastle United, Head to Head, Susunan Pemain dan Link Live Streaming
• 19 jam lalubisnis.com
thumb
Kosta Rika Bangun Penjara Raksasa, Begini Penampakannya
• 20 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Polisi Ringkus Pelaku Teror Busur Panah di Makassar
• 5 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.