Jebakan PowerPoint dan Seni Mengajar yang Hilang

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Ruang kelas modern sering kali diimajinasikan sebagai sebuah utopia teknologi tinggi: tempat di mana papan tulis seolah telah mencapai akhir masanya, digantikan oleh layar sentuh yang berkilau dan proyektor resolusi tinggi.

Kita sering mengukur kemajuan pendidikan—salah satunya—dari seberapa canggih perangkat keras yang terpasang di dinding atau langit-langit kelas.

Namun, di balik transisi mulus salindia digital yang estetik dan futuristik, tersimpan sebuah ironi pedagogikal yang cukup meresahkan. Sebagai pengajar, tak jarang kita terjebak dalam dilema yang tidak disadari: Apakah kita sedang mempermudah murid belajar, atau justru membuat mereka mengalami indigesti kognitif sebelum sempat mencerna ilmu?

Godaan untuk bergantung sepenuhnya pada PowerPoint sangatlah nyata dan manusiawi. Salindia memberikan rasa aman bagi pengajar. Namun, jika kita jujur pada diri sendiri, salindia yang kita tampilkan sering kali hanyalah bentuk modern dari kliping koran yang biasa dilakukan orang-orang dulu dan seperti contekan guru saat menjelaskan.

Sebagai pendidik yang terus belajar, kita kerap menyalin pernyataan penting, definisi panjang, dan data rumit ke dalam catatan digital sebagai cara kita mengarsipkan informasi agar tidak lupa.

Masalah muncul ketika catatan digital tersebut dipindahkan mentah-mentah ke layar kelas. Kemudian, kita menciptakan fenomena global yang sejak 1990-an dikenal sebagai "Death by PowerPoint". Tanpa sadar, kita sudah menyuguhkan dinding teks yang padat kepada siswa.

Dalam istilah yang lebih lugas, murid seperti sudah merasa 'mual' duluan sebelum merasa 'kenyang'. Alih-alih memancing rasa ingin tahu, nafsu kognitif mereka justru hilang seketika saat dihadapkan pada tumpukan paragraf yang seolah tak berujung.

Riset pedagogis mutakhir justru menunjukkan bahwa tidak menggunakan papan tulis secara total adalah sebuah kekeliruan yang fatal. Kekuatan utama papan tulis—baik itu kapur maupun spidol—terletak pada aspek pacing atau pengaturan temponya.

Ketika seorang guru menulis di papan tulis, menggambar tanda panah, atau melingkari kata kunci secara real-time, mereka sedang melakukan apa yang disebut sebagai generative drawing. Proses fisik ini memaksa alur pelajaran bergerak dalam kecepatan manusia, bukan kecepatan prosesor komputer. Jeda waktu saat guru menulis memberi kesempatan bagi otak siswa untuk 'bernapas' dan mengikuti alur logika.

Hal ini sejalan dengan teori beban kognitif (cognitive load theory) dari John Sweller, yang memberi peringatan bahwa membombardir murid dengan informasi visual dan tekstual yang berlebih secara simultan justru akan melemahkan daya serap memori kerja (working memory) mereka.

Lebih jauh lagi, kita perlu menyadari bahwa papan tulis berperan vital dalam memperbaiki cara murid mencatat dan mengonstruksi pemahaman. Sebuah riset oleh Müller dan Oppenheimer (2014) mengungkapkan bahwa murid yang sekadar menyalin informasi secara verbatim (kata demi kata) cenderung memiliki pemahaman konseptual yang dangkal.

Salindia yang terlalu lengkap dan 'sempurna' justru mengarahkan murid menjadi seperti mesin fotokopi. Mereka menyalin tanpa berpikir karena semua informasi sudah tersaji secara instan. Mereka menjadi pasif. Sebaliknya, ritme di papan tulis yang lebih lambat dan tidak instan memberikan ruang bagi pemrosesan mendalam.

Karena mereka tidak bisa menyalin semuanya secepat kilat, otak murid akhirnya dipaksa untuk meringkas, menyaring, dan menerjemahkan konsep ke dalam bahasa mereka sendiri. Inilah momen di mana pembelajaran yang sebenarnya terjadi: ketika informasi singgah, diolah, dan direkonstruksi di dalam pikiran, bukan sekadar berpindah dari proyektor ke buku catatan.

Tentu, tulisan ini bukan sebagai ajakan untuk menjadi anti-teknologi. Kita tidak bisa menutup mata terhadap efektivitas dan efisiensi digital. Visual kompleks, video dokumenter, atau data statistik yang rumit tetap membutuhkan bantuan proyektor untuk akurasi dan penghematan waktu. Namun, kita juga perlu membedakan fungsi: bedakan antara "salindia sebagai arsip guru" dan "salindia sebagai alat bantu murid".

Tujuan kita sebagai pendidik di masa kini adalah menguasai seni kelas hibrida. Kita gunakan proyektor untuk menyajikan visual yang tak sanggup kita buat dengan tangan dan kita kembali memegang spidol saat tiba waktunya untuk mengurai ide serta membangun argumen.

Di era otomatisasi dan akal imitasi (AI) seperti sekarang, tangan seorang guru yang bergerak 'menari' di permukaan papan tulis menjadi simbol penting bahwa belajar adalah sebuah proses, bukan sekadar produk jadi yang siap diunduh. Layar mungkin memberi informasi, tetapi papan tulis tetaplah tempat terbaik untuk membentuk pemahaman.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Free Float Saham RI Diwajibkan 15%, Begini Aturan di Negara Tetangga
• 7 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
BRI Super League: Persebaya Usung Misi Patahkan Tren Negatif Kontra Dewa United di GBT
• 11 jam lalubola.com
thumb
Lippo Mall Puri Sambut Imlek Lewat Ratusan Lampion dan Ribuan Bunga Alam
• 43 menit lalukumparan.com
thumb
‎Pelatih Vietnam Akui Tak Gentar Hadapi Timnas Futsal Indonesia di Perempat Final Piala Asia: Mereka Mirip dengan Kita
• 2 jam lalutvonenews.com
thumb
Terbaru! Kata Friderica Widyasari Usai Jadi Pengganti Ketua dan Wakil Ketua OJK
• 19 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.