JAKARTA, KOMPAS - Kecanduan bermain video gim berisiko terhadap kesehatan. Pola makan, kualitas tidur, dan berat badan yang terganggu karena sibuk bermain gim bisa berujung pada penyakit obesitas dan gangguan kesehatan mental lalu terbawa hingga dewasa.
Dosen prodi Ilmu Keperawatan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada, Heru Subekti menjelaskan, banyaknya anak atau remaja yang kecanduan bermain gim disebabkan oleh adanya hormon dopamin di dalam tubuh yang membuat mereka merasa senang ketika sedang bermain. Rasa senang itu semakin hari tingkat kesenangannya semakin meningkat.
Mereka yang awalnya bermain selama satu jam saja, kemudian semakin meningkat dan terus meningkat. Ini bisa menimbulkan gejala adiksi atau kecanduan pada anak atau remaja. Menurut Heru, jika anak-anak atau remaja sudah mengalami kecanduan, gejalanya bukan hanya sebatas obesitas, tetapi menjadi sebuah gangguan pada kesehatan mental.
"Resiko mereka kena obesitas menjadi lebih besar dibandingkan anak-anak atau remaja yang tidak banyak menggunakan video gim," kata Heru dikutip dari laman resmi UGM, Minggu (2/1/2026).
Kecanduan bermain gim juga menimbulkan permasalahan sosial. Heru menyebutkan bahwa bermain gim dengan durasi yang panjang akan mengurangi kemampuan anak dan remaja untuk berinteraksi sosial dengan baik. Ini disebabkan oleh banyak faktor, antara lain adalah rasa tidak percaya diri, respons emosional yang buruk karena kecanduan bermain, bahkan dapat mengganggu kehidupan pribadinya.
Indeks massa tubuh para pecandu gim bisa mencapai 26,3 kilogram per meter persegi.
"Bahkan dari WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) sendiri sudah menyampaikan bahwa internet game disorder ini menjadi salah satu masalah kesehatan mental," tuturnya.
Heru turut menjelaskan bermain gim secara terus menerus dengan menggunakan tetikus (mouse) berdampak pada gangguan pergelangan oleh adanya aliran saraf yang terjepit atau Carpal Tunnel Syndrome (CTS). Gangguan ini kerap ditemukan pada pengguna komputer dengan tetikus yang terlalu lama.
Selanjutnya, dampak fisik lainnya adalah pada permasalahan leher yang disebut dengan Text Neck Syndrome. Gangguan ini disebabkan oleh posisi yang tidak ergonomis atau agak menunduk pada saat melihat layar, entah itu HP, monitor, komputer.
"Pada saat posisi menunduk, beban kepala menjadi lebih besar. Dan kalau itu terjadi dalam waktu yang lama yang terjadi adalah adanya beban yang sangat besar pada daerah leher," ujarnya.
Di sisi lain, bermain gim dapat meningkatkan kreativitas sekaligus kohesivitas. Sebab, bermain video gim dapat membangun interaksi bersama teman sebaya. Akan tetapi jika dilakukan berlebih akan tidak mendapatkan dampak positif.
Menurut Heru, waktu ideal untuk bermain gim selama 5 jam per minggu. Jumlah tersebut merupakan waktu yang ideal untuk mengatasi permasalahan pada gangguan kesehatan fisik maupun mental. Dengan begitu, anak-anak atau remaja tetap memiliki kualitas tidur yang baik sekaligus dampak positif.
"Bermain gim tak selamanya berdampak negatif, tetapi ada sisi positifnya pada saat penggunaannya itu tepat, dengan jumlah yang tepat, tidak berlebihan,” kata Heru.
Sementara itu, menurut studi terbaru dari Curtin University, Australia yang dipublikasikan dalam jurnal Nutrition mengungkapkan bahwa pemain gim lebih dari 10 jam per pekan berisiko obesitas. Penelitian ini melibatkan 317 mahasiswa dari lima universitas di Australia dengan usia rata-rata 20 tahun.
Para responden lalu dikelompokkan berdasarkan durasi bermain gim per pekan, yakni pemain gim dengan intensitas rendah (0–5 jam), moderat (5–10 jam), dan intensif (lebih dari 10 jam). Peneliti dari Curtin School of Population Health, Mario Siervo menjelaskan, kondisi kesehatan mahasiswa yang bermain gim rendah dan moderat relatif serupa. Namun, perbedaan mencolok muncul pada kelompok yang menghabiskan waktu bermain gim lebih dari 10 jam per pekan.
“Perbedaan nyata muncul pada mahasiswa yang bermain gim hingga 10 jam per minggu, kondisi mereka terlihat sangat mirip dalam hal pola makan, tidur, dan berat badan," kata Mario dilansir dari laman resmi Curtin University, Minggu (1/2/2026).
Menurut Mario, temuan ini mengindikasikan bahwa persoalannya bukan pada gim itu sendiri, melainkan pada perilaku bermain yang berlebihan hingga kecanduan. Kualitas diet para pemain gim lebih dari 10 jam menjadi cenderung menurun dan prevalensi obesitas lebih tinggi dibandingkan kelompok pemain gim rendah dan moderat.
Indeks massa tubuh para pecandu gim ini mencapai 26,3 kilogram per meter persegi (kg/m²). Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pemain gim rendah dan moderat yang masing-masing berada pada kisaran sehat, yakni 22,2 kg/m² dan 22,8 kg/m².
"Setiap tambahan satu jam bermain gim per minggu dikaitkan dengan penurunan kualitas diet, bahkan setelah kami memperhitungkan faktor stres, aktivitas fisik, dan gaya hidup lainnya," ujar Mario.
Selain itu, seluruh kelompok melaporkan kualitas tidur yang relatif buruk. Namun, gangguan tidur lebih sering dialami oleh pemain gim moderat dan intensif. Durasi bermain gim juga menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kualitas tidur yang menurun.
Meski demikian, Mario menegaskan bahwa penelitian ini tidak membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung. “Studi ini tidak menunjukkan bahwa bermain gim menyebabkan masalah kesehatan tersebut, tetapi memperlihatkan pola yang jelas bahwa bermain gim secara berlebihan mungkin berkaitan dengan meningkatnya faktor risiko kesehatan,” ucapnya.
Ia menambahkan, kebiasaan yang terbentuk selama masa kuliah kerap terbawa hingga usia dewasa. Karena itu, mahasiswa disarankan membangun rutinitas yang lebih sehat, seperti membatasi waktu bermain gim, menghindari bermain hingga larut malam, serta memilih camilan yang lebih sehat.




