- Kemenkes minta warga waspadai virus Nipah meski belum ditemukan kasus pada manusia.
- Masyarakat diimbau memasak nira dan mencuci buah guna mencegah penularan dari kelelawar.
- Dinas Kesehatan seluruh daerah diperintahkan perketat pemantauan kasus suspek meningitis dan pernapasan.
Suara.com - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengimbau masyarakat untuk tidak lengah terhadap potensi ancaman virus Nipah, meskipun hingga saat ini belum ada laporan penularan pada manusia di Indonesia.
Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, Murti Utami, menegaskan bahwa kewaspadaan tetap diperlukan karena Indonesia berada di wilayah berisiko. Faktor kedekatan geografis serta tingginya mobilitas dengan negara-negara yang pernah mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) virus Nipah menjadi pertimbangan utama.
“Hingga saat ini belum terdapat laporan kasus konfirmasi penyakit virus Nipah pada manusia di Indonesia, namun kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan,” ujar Murti dalam keterangan resmi di Jakarta, Minggu (1/2/2026).
Kemenkes secara khusus menyoroti kebiasaan konsumsi nira atau aren segar yang dinilai berisiko. Murti mengingatkan masyarakat agar tidak langsung meminum nira dari pohon karena berpotensi terkontaminasi air liur atau urine kelelawar pada malam hari.
“Sebelum dikonsumsi, nira sebaiknya dimasak terlebih dahulu. Cuci dan kupas buah secara menyeluruh, serta buang buah yang memiliki tanda bekas gigitan kelelawar,” pesannya.
Virus Nipah merupakan penyakit zoonotik dengan inang alami kelelawar buah. Penularan dapat terjadi melalui hewan perantara seperti babi, maupun melalui konsumsi makanan dan minuman yang terkontaminasi. Penelitian di Indonesia pun telah mendeteksi keberadaan virus ini pada kelelawar buah jenis Pteropus, yang menunjukkan adanya potensi sumber penularan domestik.
Selain dari hewan ke manusia, virus ini juga dapat menular antarmanusia melalui kontak erat dengan penderita. Manifestasi klinisnya bervariasi, mulai dari infeksi saluran pernapasan akut ringan hingga ensefalitis (radang otak) yang mematikan.
Menyikapi risiko ini, Kemenkes telah menginstruksikan dinas kesehatan di seluruh daerah untuk memperketat pemantauan. Fokus pengawasan diarahkan pada tren kasus suspek meningitis, ensefalitis, serta infeksi saluran pernapasan berat seperti pneumonia.
Peringatan ini muncul menyusul laporan kasus virus Nipah terbaru di India. Hingga 26 Januari 2026, tercatat dua tenaga kesehatan terkonfirmasi positif di negara bagian West Bengal. Otoritas setempat kini tengah memantau lebih dari 120 kontak erat guna mencegah penyebaran lebih luas.
Baca Juga: Kemenkes: Gas N2O yang Muncul di Kasus Lula Lahfah Punya Aturan Ketat



