Menjelajahi Estetika Stasiun Jatake, Titik Transit Baru dengan Panorama Persawahan

kompas.id
18 jam lalu
Cover Berita

Wajah transportasi di pinggiran Jakarta kini memiliki warna baru. Sejak resmi beroperasi pada Rabu (28/1/2026), Stasiun Jatake yang terletak di antara Stasiun Cicayur dan Parung Panjang mulai mencuri perhatian. Bukan sekadar titik henti kereta, stasiun ini hadir dengan estetika modern yang kontras dengan lanskap persawahan asri di sekelilingnya.

Animo masyarakat pun tergolong tinggi. Dalam empat hari pertama operasionalnya, tercatat sebanyak 5.016 penumpang telah memulai atau mengakhiri perjalanan mereka di stasiun yang berlokasi di Desa Jatake, Pagedangan, Kabupaten Tangerang, ini.

Saat dikunjungi pada Minggu (1/2/2026), tidak ada kepadatan yang menyesakkan khas stasiun pusat kota. Meski demikian, lalu-lalang penumpang tetap terlihat di berbagai sudut.

Stasiun Jatake tampil dengan arsitektur modern dan tertata rapi. Bangunan tiga lantai ini didominasi fasad bernuansa cokelat dan abu-abu dengan desain geometris yang bersih, sementara kanopi lebar di area depan memberikan perlindungan bagi penumpang dari panas dan hujan.

Kenyamanan stasiun sudah terasa sejak dari area luar. Bangunan ini dikelilingi ruang terbuka hijau lengkap dengan taman dan pepohonan muda. Bagi pengguna kendaraan pribadi, tersedia area parkir luas yang dapat mengakomodasi mobil, sepeda motor, hingga sepeda.

Memasuki area dalam, suasana stasiun masih lengang. Sejumlah kios masih tertutup rolling door. Meski begitu, fasilitas utama bagi penumpang sudah tersedia dan berfungsi, mulai dari petunjuk arah yang jelas, toilet, lift, musala, pos kesehatan, hingga ruang laktasi.

Daya tarik Stasiun Jatake ini berada di lantai atas. Di sana, terdapat area semi-outdoor luas yang diperkirakan akan difungsikan sebagai kafe, restoran, atau area komunal. Area ini menghadap langsung ke panorama sawah. Cocok sebagai spot ”bengong” estetik bagi penumpang yang menunggu kereta.

Meski deretan kios komersial masih tertutup, imajinasi tentang masa depan stasiun ini mudah terbentuk. Bayangkan menyeruput kopi lokal sambil menatap hijau padi sebelum berdesakan di gerbong kereta.

”Kalau sudah ada kafe atau tempat makan yang buka, pasti makin betah. Jadi kalau kereta belum datang, bisa ngopi dulu sambil lihat area hijau,” ujar Vina (29), salah satu pengguna KRL di Stasiun Jatake, pada Minggu (1/2/2026).

Bagi Vina, kehadiran Stasiun Jatake adalah jawaban atas efisiensi waktu. Sebelumnya, ia harus menempuh jarak lebih jauh ke Cicayur atau Cisauk. Kini, akses transportasi massal itu ada di dekat rumahnya dengan bonus kenyamanan visual.

Meski begitu, Vina berharap fasilitas yang kini tampak estetik dan terawat ini dapat terus dijaga kebersihannya. ”Harapan terbesar saya adalah perawatannya. Sekarang kan masih kinclong karena semuanya masih baru. Semoga ke depan tetap bersih, tanamannya juga terus dirawat,” ujar warga Tangerang tersebut.

Selain desain, Vina juga menyoroti kelengkapan fasilitas penunjang, seperti ruang laktasi yang bersih, toilet dengan standar mal, area gate elektronik yang cukup banyak, hingga area komersial dengan pemandangan hijau. Di luar gedung, area parkir yang luas juga dinilainya memberi kemudahan bagi pengguna kendaraan pribadi.

Sementara itu, pengguna KRL lainnya, Rinaldi (34), mengaku sempat bersikap skeptis terhadap penambahan stasiun baru di lintas Green Line ini. Ia khawatir kehadiran Stasiun Jatake akan membuat waktu tempuh perjalanan menjadi lebih lama sekaligus menambah kepadatan penumpang.

Namun, setelah menggunakan KRL empat hari terakhir dari Stasiun Parung Panjang, Rinaldi menilai dampaknya nyaris tidak terasa. Menurut dia, tambahan waktu perjalanan hanya sekitar satu menit dan tidak mempengaruhi perjalanannya menuju Tanah Abang.

Rinaldi juga mengapresiasi desain Stasiun Jatake yang modern serta ketersediaan area parkir yang luas. Meski demikian, ia menyoroti perlunya pembaruan informasi perjalanan oleh KAI Commuter.

Hingga Minggu (1/2/2026), meski kereta rel listrik (KRL) telah berhenti dan melayani naik-turun penumpang di Stasiun Jatake, nama stasiun tersebut belum tercantum dalam peta perjalanan Green Line di dalam rangkaian kereta.

”Meski ada pengumuman dari petugas, akan lebih baik jika nama stasiun segera dicantumkan. Kondisi ini membuat sebagian penumpang kebingungan,” katanya.

Terus meningkat

Sementara itu, dari sisi operasional, Stasiun Jatake menunjukkan tren positif. VP Corporate Secretary KAI Commuter, Karina Amanda, mengatakan, sepanjang empat hari beroperasi Stasiun Jatake telah melayani total 5.016 pengguna yang naik dan turun.

Pada hari pertama operasional, 28 Januari, jumlah pengguna tercatat sebanyak 649 orang. Angka tersebut kemudian meningkat pada hari-hari berikutnya, masing-masing 1.410 orang pada 29 Januari, 1.014 orang pada 30 Januari, dan mencapai 1.944 orang pada 31 Januari.

Karina memperkirakan jumlah pengguna akan terus bertambah seiring meningkatnya konektivitas serta pengembangan kawasan di sekitar stasiun.

”Jika diakumulasikan selama empat hari stasiun beroperasi, total pengguna sudah mencapai 5.016 orang yang naik-turun di Stasiun Jatake,” ujar Karina saat dihubungi, Sabtu (1/2/2026).

Saat ini, Stasiun Jatake dilayani 192 perjalanan Commuter Line per hari dari total 206 perjalanan lintas Tanah Abang–Rangkasbitung. KAI Commuter mengimbau pengguna untuk selalu mengutamakan keselamatan serta memastikan kembali jadwal keberangkatan dan kedatangan kereta.

Baca JugaStasiun Jatake, Penggerak Baru Ekonomi Kabupaten Tangerang

Karina berharap kehadiran Stasiun Jatake dapat menjadi alternatif stasiun naik bagi masyarakat Kabupaten Tangerang yang beraktivitas menuju Jakarta, sekaligus berpotensi mengurangi volume kendaraan pribadi di jalan raya.

”Kami berharap dengan adanya penambahan Stasiun Jatake ini, pengguna commuter line dapat memilih Stasiun Jatake sebagai stasiun naik commuter line bagi masyarakat Kabupaten Tangerang menuju Jakarta,” ujar Karina.

Mempermudah penumpang

Vice President Corporate Communication PT KAI Anne Purba mengatakan, Stasiun Jatake dirancang untuk mempermudah akses masyarakat Pagedangan dan sekitarnya menuju Jakarta dengan waktu tempuh lebih efisien dan biaya terjangkau.

Berdiri di atas lahan 2.435 meter persegi, stasiun tiga lantai ini dirancang melayani hingga 20.000 penumpang per hari. Area parkir kendaraan roda dua, roda empat, dan sepeda telah disiapkan, serta tersedia lahan pengembangan lanjutan seluas sekitar 4.000 meter persegi untuk mendukung integrasi antarmoda.

Baca JugaStasiun Jatake Mulai Layani Komuter Tangerang–Jakarta Akhir Januari 2026

Anne menjelaskan, Stasiun Jatake dibangun melalui skema pembiayaan kreatif (creative financing) antara KAI dan PT Bumi Serpong Damai Tbk (Sinar Mas Land) dengan konsep transit oriented development (TOD).

Pembangunan stasiun juga sejalan dengan kondisi demografi Kabupaten Tangerang yang tinggi mobilitasnya. Berdasarkan data BPS Januari 2026, wilayah ini dihuni sekitar 3,46 juta jiwa, dengan 67,82 persen penduduk berada pada usia produktif (15–59 tahun).

Pola demografi ini menjadi salah satu faktor tingginya mobilitas harian, khususnya bagi pekerja dan pelaku usaha yang beraktivitas lintas wilayah menuju Jakarta.

Dari sisi operasional, jalur KRL Tanah Abang–Rangkasbitung memiliki selang waktu perjalanan (headway) 5–10 menit dengan total frekuensi harian mencapai 1.065 perjalanan.

Rute Commuter Line ini meliputi Tanah Abang, Palmerah, Kebayoran, Pondok Ranji, Jurang Mangu, Sudimara, Rawa Buntu, Serpong, Cisauk, Cicayur, Jatake, Parung Panjang, Cilejit, Daru, Tenjo, Tigaraksa, Cikoya, Maja, Citeras, hingga Rangkasbitung.

Jumlah pengguna Commuter Line Tanah Abang–Rangkasbitung juga terus meningkat, naik dari 54,17 juta pada 2018 menjadi 77,55 juta pada 2025 meski sempat terdampak pandemi Covid-19.

Tak hanya di jalur Rangkasbitung, jumlah pengguna KRL Jabodetabek secara keseluruhan juga terus meningkat. Pada 2025, layanan KRL mencatat total 349,3 juta pengguna.

Berdasarkan data PT KAI, jumlah pengguna KRL meningkat dari 280,5 juta orang pada 2016 menjadi 315,8 juta orang pada 2017. Tren pertumbuhan berlanjut dengan 336,7 juta pengguna pada 2018 dan tetap stabil pada 2019 dengan 336,2 juta pengguna.

Setelah periode pandemi, pemulihan berlangsung kuat dengan 217,9 juta pengguna pada 2022, meningkat menjadi 290,8 juta pengguna pada 2023, dan terus tumbuh pada 2024 dengan 328,1 juta pengguna, sebelum akhirnya mencatatkan total 349,3 juta pengguna pada 2025.

Sejalan dengan pertumbuhan penumpang, frekuensi perjalanan harian KRL juga meningkat secara konsisten, dari 881 perjalanan per hari pada 2015 menjadi 978 perjalanan pada 2019. Adapun sejak 2022, frekuensi perjalanan berada di atas 1.000 per hari, dengan 1.100 perjalanan pada 2023 dan tercatat 1.063 perjalanan per hari pada 2025.

Dengan kapasitas stasiun yang besar, lokasi strategis, serta tren pertumbuhan pengguna dan frekuensi perjalanan yang positif, Stasiun Jatake diproyeksikan menjadi simpul transportasi penting di Tangerang.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pemerintah Dukung Karya Sineas Indonesia Tembus Panggung Global lewat IFFR 2026
• 5 jam lalupantau.com
thumb
Mendes Harap Keberlanjutan Kolaborasi Membangun Desa
• 22 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Rayakan Valentine dengan Pengalaman Kuliner Mewah di SJM Resorts Makau
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Pengumuman! BEI Bekukan 38 Saham yang Tak Penuhi Aturan Free Float
• 18 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Hakim Perintahkan Imigrasi AS Bebaskan Anak 5 Tahun yang Ditangkap Bareng Ayah
• 21 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.