Belakangan ini, istilah Gen Sigma sempat ramai di media sosial dan dipakai untuk menyebut anak-anak masa kini yang dianggap mandiri, berani beda, dan sangat melek teknologi. Sebutan ini membuat banyak orang tua bertanya-tanya, sebenarnya anak kelahiran 2026 itu Gen Sigma atau Gen Beta, sih?
Secara tren internet, Gen Sigma memang terdengar menarik. Namun jika merujuk pada kajian sosiologi dan demografi, istilah yang diakui para peneliti justru berbeda.
Gen Beta, Istilah Resmi untuk Anak Kelahiran 2025–2039Mengutip laman McCrindle, pakar generasi dari Australia Mark McCrindle, anak yang lahir pada rentang 2025 hingga 2039 masuk ke dalam kelompok Generasi Beta (Gen Beta). McCrindle adalah peneliti sosial yang banyak mengkaji pembagian generasi global,
Setelah Gen Alpha (kelahiran 2010-2024), inilah generasi yang akan tumbuh sepenuhnya di dunia yang sangat terdigitalisasi. McCrindle menjelaskan, penamaan generasi ini mengikuti alfabet Yunani yang dimulai dari alpha, beta, gamma, dan seterusnya.
"Kami menamai mereka Alpha dan Beta bukan hanya untuk menandakan generasi baru, tetapi juga generasi pertama yang akan dibentuk oleh dunia yang sama sekali berbeda, yang terintegrasi dengan teknologi," tuturnya.
Anak Gen Beta diprediksi besar di era ketika:
- Kecerdasan buatan (AI) makin terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari,
- Proses belajar banyak dilakukan secara digital dan hybrid,
- Kesadaran akan kesehatan mental semakin tinggi,
- Isu lingkungan dan keberlanjutan menjadi perhatian utama,
- Pola kerja orang tua makin fleksibel dan berbasis teknologi.
Artinya, sejak kecil mereka sudah akrab dengan layar, perangkat pintar, dan sistem otomatis. Adaptif, cepat belajar, serta melek teknologi kemungkinan menjadi karakter yang menonjol.
Lalu, Apa Itu Gen Sigma?
Berbeda dengan Gen Beta, Gen Sigma bukan kategori generasi resmi dalam kajian akademis.
Istilah ini lahir dari budaya populer dan media sosial. Biasanya, Gen Sigma digunakan untuk menggambarkan sosok yang independen, percaya diri, dan mudah beradaptasi. Penamaan Gen Sigma juga merujuk pada alfabet Yunani, yakni huruf ke-18 (Σ/σ) yang kerap diasosiasikan dengan perubahan dan kemampuan beradaptasi.
Dengan kata lain, Gen Sigma lebih merupakan label gaya atau karakter, bukan kelompok demografis berdasarkan tahun kelahiran, meski secara karakteristik serupa dengan penjabaran Gen Beta.
Jangan Terjebak Label GenerasiPembagian generasi memang membantu kita memahami konteks zaman tempat anak bertumbuh. Namun penting untuk diingat, label seperti Beta, Alpha, atau Sigma, hanyalah gambaran besar.
Kepribadian dan masa depan anak tidak ditentukan oleh nama generasinya. Faktor yang justru jauh lebih berpengaruh adalah pola asuh di rumah, kualitas hubungan dengan orang tua, lingkungan belajar, serta nilai-nilai yang ditanamkan sejak dini.
Dua anak yang lahir di tahun yang sama pun bisa tumbuh dengan karakter yang sangat berbeda.
Peran Orang Tua Tetap yang UtamaApa pun sebutannya, anak-anak yang lahir hari ini akan menghadapi dunia yang bergerak sangat cepat. Karena itu, peran kita sebagai orang tua menjadi semakin penting.
Bukan hanya mengenalkan teknologi, tetapi juga menyeimbangkannya dengan empati, kemampuan bersosialisasi, daya tahan mental, dan keterampilan memecahkan masalah.
Mari, temani anak memahami dunia digital dengan bijak, ajarkan mereka berpikir kritis, dan beri ruang untuk mengenal dirinya sendiri. Sebab pada akhirnya, masa depan mereka tidak dibentuk oleh istilah “Gen Beta” atau “Gen Sigma”, melainkan oleh pendampingan dan kasih sayang yang mereka terima setiap hari di rumah.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5489476/original/037355100_1769872866-1.jpg)


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5489907/original/081252300_1769946099-1000355816.jpg)