Dalam setiap ritual Imlek yang dijalankan, mulai dari menyantap hidangan lezat hingga berbagi amplop merah, menyimpan filosofi kehidupan yang mendalam. Dosen Program Studi Bahasa Mandarin Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Monika Herliana, menjelaskan makna filosofis di balik deretan kebiasaan unik tersebut.
"Dalam tradisi Tiongkok, Imlek dianggap sebagai hari pergantian tahun yang paling penting dan sering dirayakan bersama keluarga dan kerabat yang berdekatan," kata Monika, seperti dikutip dari Tribunnews via Kompas.tv.
Simak ulasan lengkapnya berikut ini!
1. Tradisi Bagi-bagi Angpao
Siapa yang tidak menanti momen ini? Amplop merah atau hong bao menjadi primadona, terutama bagi anak-anak dan mereka yang belum menikah.
Monika menjelaskan bahwa pemberian uang dalam amplop merah dari orang tua kepada anak cucu ini bukan sekadar uang jajan, melainkan representasi doa agar penerimanya dilimpahi keberuntungan dan kesejahteraan di tahun yang baru.
2. Ajang Silaturahmi Keluarga
Momen Imlek adalah waktu pas untuk quality time. Mengunjungi rumah sanak saudara menjadi agenda wajib yang tak boleh terlewatkan.
"Hal ini dilakukan dengan mengunjungi keluarga dan kerabat yang berdekatan untuk memberikan salam dan ucapan selamat Imlek," terang Monika.
3. Ritual Lilin dan Dupa
Aroma dupa dan cahaya lilin kerap menghiasi klenteng maupun rumah-rumah warga Tionghoa. Ternyata, aktivitas spiritual ini memiliki tujuan untuk menolak bala atau keburukan, sekaligus sebagai simbol harapan menyambut nasib baik di lembaran tahun yang baru.
4. Pesta Kembang Api
Suara ledakan kembang api yang meriah bukan hanya untuk tontonan semata. Secara budaya, suara gaduh dan percikan api ini dipercaya ampuh untuk menakut-nakuti dan mengusir roh-roh jahat yang hendak mengganggu, sehingga jalan menuju keberuntungan semakin terbuka lebar.
5. Bersih-bersih Rumah dan Baju Baru
Penampilan baru, semangat baru. Membeli pakaian anyar dimaknai sebagai ekspresi sukacita menyambut tahun baru.
Selain itu, ritual membersihkan rumah secara menyeluruh sebelum hari H juga krusial. Tujuannya adalah membuang segala kesialan tahun lalu dan menyiapkan ruang bersih untuk menampung hoki tahun ini.
Nah, ada pantangan unik terkait hal ini. Masyarakat Tionghoa dilarang menyapu rumah tepat pada hari H Imlek, karena dipercaya tindakan itu justru akan "menyapu" rezeki dan keberuntungan ke luar rumah.
Tak lupa, dekorasi serba merah wajib dipasang. Mulai dari mengecat ulang pintu hingga menempelkan kertas doa. Hal ini senada dengan kepercayaan bahwa masyarakat Tionghoa percaya warna merah melambangkan kesejahteraan dan keberuntungan.
6. Sajian Kuliner Pembawa Hoki
Meja makan saat Imlek tak pernah sepi dari hidangan lezat. Salah satu yang ikonik adalah pangsit dan tangyuan (bola tepung beras isi kacang).
Menurut Monika, bentuk pangsit yang mirip uang perak zaman dulu menjadikannya simbol kekayaan dan kesejahteraan.
7. Kue Keranjang dan Jeruk
Imlek rasanya kurang afdol tanpa kehadiran kue keranjang dan buah jeruk. Kue bertekstur lengket yang juga dikenal sebagai Nian Gao ini punya makna mendalam. Kue keranjang dinilai sebagai simbol kemakmuran dan kekayaan lantaran bentuknya menyerupai keranjang yang penuh.
Tak hanya itu, menyantap kue ini juga diyakini sebagai doa agar karier dan kehidupan seseorang terus menanjak, karena kue beras ini dianggap sebagai simbol kesuksesan dan kenaikan karier.
Nah, itulah deretan makna di balik tradisi Imlek yang penuh harapan baik.(*)
Artikel Asli



