PEKALONGAN, KOMPAS — Sejumlah wilayah di Jawa Tengah masih terendam banjir hingga Minggu (1/2/2026). Di Kabupaten Pekalongan, warga mendesak pemerintah untuk bergerak cepat memperbaiki tanggul-tanggul sungai yang jebol agar banjir lekas surut.
Hujan deras yang mengguyur wilayah Kota dan Kabupaten Pekalongan selama beberapa hari membuat debit air sejumlah sungai di daerah tersebut meningkat. Di saat yang sama, tanggul-tanggul sungai yang mayoritas belum dibangun secara permanen jebol. Kondisi itu memicu terjadinya banjir di permukiman sejak Jumat (16/1/2026).
Hingga Minggu, sebanyak 29 desa pada 6 kecamatan di Kabupaten Pekalongan masih terendam banjir. Sebanyak 11.582 unit rumah yang dihuni 59.729 jiwa pun terdampak.
Sebagian warga yang rumahnya kebanjiran hingga 80 sentimeter (cm) memilih untuk mengungsi. Berdasarkan catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pekalongan, sedikitnya 1.435 jiwa masih mengungsi pada 17 titik.
Tanggul sungai membutuhkan peninggian agar tidak banjir lagi.
Banjir yang tak kunjung surut dikeluhkan warga terdampak. Harmonis, warga Desa Tegaldowo, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan, adalah salah satunya. Ia mendesak, pemerintah segera memperbaiki tanggul yang jebol dan meninggikan tanggul.
“Tanggul sungai membutuhkan peninggian agar tidak banjir lagi,” katanya, Minggu.
Sukarelawan bencana setempat, Muhammad Nizar menyebut, banjir yang terjadi akibat jebolnya tanggul sungai itu menjadi kian parah lantaran terjadi bersamaan dengan banjir rob. Naiknya air laut ke daratan membuat aliran air dari daratan yang ada di sungai terhambat. Akhirnya, limpas ke permukiman.
“Pompa air jalan terus, tapi debit airnya terlalu besar. Sehingga belum bisa mengatasi 100 persen,” ucap Nizar.
Kepala Desa Tegaldowo, Budi Junaidi menyebut, banjir yang terjadi selama berminggu-minggu menghambat aktivitas masyarakat. Untuk itu, ia juga berharap pemerintah segera bertindak.
“Kami minta Sungai Sengkarang segera dinormalisasi karena luapan airnya banyak berasal dari sana,” ujar Budi.
Keluhan warga itu pun ditanggapi oleh Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen. Yasin menyebut, ia langsung mendatangi lokasi dan memastikan alat berat dikerahkan untuk penanganan darurat.
“Yang dibutuhkan sebenarnya tidak banyak, hanya alat berat untuk meninggikan tanggul. Ini bagian dari normalisasi sungai sekaligus membangun tanggul,” kata Yasin.
Yasin mengatakan salah satu penyebab banjir adalah pemanfaatan bantaran sungai secara tidak terkendali. Kondisi itu menyebabkan penurunan elevasi tepi sungai. Sehingga, saat hujan deras, air mudah melimpas.
Di Kota Pekalongan, banjir yang terjadi sejak Sabtu (18/1/2026) di Kecamatan Pekalongan Barat belum juga surut. Ketinggian air di permukiman yang berada di wilayah cekungan dan dikelilingi oleh sejumlah rawa itu mencapai 50 cm.
Pemerintah telah berupaya menyedot air dengan mesin pompa dengan harapan air segera surut. Namun, hingga Minggu, air belum benar-benar surut. Sehingga, sedikitnya 221 orang masih mengungsi di tiga titik.
Yasin menyebut Sungai Bremi di Kota Pekalongan yang limpas belum memiliki tanggul permanen. Pembangunan tanggul permanen bakal segera dilakukan.
Di samping itu, normalisasi dan pembangunan bendungan karet di Sungai Bremi juga dikatakan Yasin menjadi kebutuhan mendesak. Proyeknya telah dianggarkan oleh pemerintah pusat dengan estimasi biaya sekitar Rp 50 miliar dan direncanakan bakal dimulai pada 2026.
Di wilayah pantura timur Jateng, banjir masih merendam 45 desa di tujuh kecamatan. Di wilayah itu, banjir terjadi sejak Jumat (9/1/2026) atau lebih dari tiga pekan lalu.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng Bergas Catursasi Penanggungan mengatakan, banjir di Pati terjadi setelah hujan lebat yang turun selama beberapa hari. Debit air sungai yang meningkat akibat hujan disertai dengan sumbatan material membuat tanggul-tanggul sungai jebol. Akhirnya, air meluap membanjiri permukiman.
“Ada 10.939 jiwa yang terdampak dan yang masih mengungsi sebanyak 1.060 jiwa,” ucap Bergas.
Menurut Bergas, banjir telah disedot dengan pompa air. Namun, air masih terus bertambah karena sungai-sungai yang ada masih belum memiliki tanggul.
“Kemudian, posisi yang banjir itu juga berada di pesisir, mendekati mulut pantai. Sehingga kalau terjadi rob, bisa melimpas menambah genangan,” ujarnya.
Ke depan, pemerintah daerah bakal mengusulkan pembangunan tanggul permanen hingga normalisasi sungai ke pemerintah pusat. Sehingga, banjir serupa diharapkan tidak kembali terjadi



