Pantau - Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih, menyatakan bahwa kebijakan Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda yang digagas Presiden Prabowo Subianto memiliki visi yang sangat spesifik untuk mengejar ketertinggalan bangsa dan mendorong pendidikan berbasis teknologi.
Dorong SDM Unggul dan Pendidikan TeknologiAbdul menyoroti bahwa negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan China telah jauh melesat dalam bidang industri teknologi, termasuk kendaraan listrik yang kini banyak terlihat di Jakarta.
"Negara-negara lain sekarang, Amerika atau China, luar biasa. Ratusan ribu anak-anak China sekolahnya teknologi dan engineering. Jadi siap-siap, makanya anak-anak nanti tidak bisa kemudian bermain gim terus," ungkapnya.
Ia juga menjawab keraguan publik terhadap fokus pemerintah baru yang dianggap terlalu berat pada sektor pertahanan dengan menegaskan bahwa pengembangan sumber daya manusia tetap menjadi agenda prioritas nasional, meski dengan pendekatan yang berbeda dari pemerintahan sebelumnya.
Menurutnya, Program Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda bertujuan untuk mengubah orientasi pendidikan nasional, dengan penekanan pada penguasaan teknologi terapan.
Sekolah Rakyat: Pendidikan Inklusif Berbasis SosialAbdul menjelaskan bahwa Sekolah Rakyat ditujukan bagi masyarakat prasejahtera dan dijalankan melalui koordinasi lintas kementerian, dengan pendekatan berbasis bantuan sosial.
"Sekolah Rakyat leading sector-nya bukan Kemendikdasmen, tetapi Kementerian Sosial. Kenapa? Karena pendekatannya kemiskinan," ia mengungkapkan.
Pendekatan ini diklaim mampu menjangkau kelompok masyarakat yang selama ini terpinggirkan dari akses pendidikan yang memadai.
Sekolah Garuda: Cetak Talenta STEM untuk DuniaSementara itu, Sekolah Garuda dipersiapkan sebagai inkubator siswa berbakat di bidang STEM (sains, teknologi, engineering, matematika) pada jenjang SLTA, SMA, atau SMK.
Sekolah ini dirancang untuk terhubung langsung ke perguruan tinggi kelas dunia, baik di dalam negeri maupun luar negeri.
"Sekolah Garuda setingkat SLTA, SMA, atau SMK, terhubung dengan perguruan tinggi, baik di dalam maupun luar negeri, agar anak-anak pintar bisa tersambung langsung dengan pendidikan tinggi," jelas Abdul.
Ia juga mengajak publik untuk tidak hanya mengkritik kebijakan pendidikan yang ada, melainkan turut berkolaborasi dalam upaya memajukan sistem pendidikan nasional.




