Oleh: Prof. Dr. Eng. Adi Maulana, ST.M.Phil.
Wakil Rektor Bidang Kemitraan, Inovasi, Kewirausahaan dan Bisnis Universitas Hasanuddin
Kunjungan seorang peraih Nobel ke Makassar mungkin terdengar seperti peristiwa yang jauh dari keseharian. Namun ketika Prof. Morten P. Meldal, peraih Hadiah Nobel Kimia dari University of Copenhagen, berdiri di hadapan mahasiswa dan pelajar di Universitas Hasanuddin, yang terjadi bukan sekadar kuliah ilmiah tingkat tinggi. Yang terjadi adalah pertemuan antara ilmu pengetahuan kelas dunia dan mimpi-mimpi generasi muda Indonesia Timur.
Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian—perubahan iklim, krisis lingkungan, pandemi, dan ketegangan global—Prof. Meldal menyampaikan pesan yang sederhana namun sangat mendalam: masa depan hanya bisa dihadapi dengan kesiapan, dan kesiapan dibangun melalui pendidikan serta ilmu pengetahuan.
Meskipun dalam paparan beliau dipenuhi dengan rumus-rumus kimia untuk mengantarnya dalam menjelaskan teori yang dikenal luas, yaitu teori kimia klik atau click chemistry, namun beliau juga membawa pesan-pesan yang sangat mendalam dan penting untuk para peneliti, generasi muda dan juga para pengambil kebijakan.
Penemuan teori kimia ini menjelaskan suatu rekasi yang memungkinkan penyatuan molekul kompleks secara cepat, andal, dan efisien dengan limbah minimal, yang merevolusi sintesis molekul di bidang kimia, biologi, dan ilmu material. Sepanjang presentase, beliau tidak hanya datang membawa rumus rumit atau teori yang sulit dipahami. Sebaliknya, ia juga berbicara tentang rasa ingin tahu, tentang keberanian untuk mencoba, dan tentang menerima kegagalan sebagai bagian dari perjalanan menuju keberhasilan. Dalam sains, katanya, kegagalan bukan akhir. Kegagalan adalah guru terbaik yang mengarahkan kita pada penemuan berikutnya.
Pesan ini terasa sangat relevan bagi generasi muda kita. Banyak pelajar dan mahasiswa sering merasa tertekan untuk selalu berhasil, selalu sempurna. Padahal dalam dunia ilmu pengetahuan, bahkan para ilmuwan terbaik di dunia pun sering salah, sering gagal, dan justru dari situlah lahir inovasi besar. Mendengar langsung hal ini dari seorang peraih Nobel memberikan dampak yang luar biasa: mimpi terasa lebih dekat, dan kegagalan tidak lagi menakutkan.
Salah satu gagasan yang paling menggugah dari kuliah tersebut adalah bahwa “segala sesuatu adalah kimia.” Bukan hanya di laboratorium, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Obat yang kita minum, bahan bangunan rumah kita, makanan yang kita konsumsi, hingga limbah yang kita hasilkan—semuanya melibatkan proses kimia. Artinya, sains tidak pernah jauh dari kehidupan kita. Ia hadir di dapur, di rumah sakit, di sawah, di laut, dan di kota-kota kita.
Namun, Prof. Meldal juga mengingatkan bahwa sains hari ini tidak cukup hanya bertanya, “Apakah kita bisa membuat ini?” Sains modern harus berani bertanya, “Apakah ini baik untuk masa depan?” dan “Bagaimana kita membuatnya secara berkelanjutan?” Inilah wajah baru ilmu pengetahuan: bukan sekadar inovatif, tetapi juga bertanggung jawab.
Bagi Universitas Hasanuddin, kehadiran Prof. Meldal adalah kebanggaan besar. Sebagai salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia yang mewakili kawasan timur negeri ini—wilayah yang masih menghadapi berbagai tantangan dalam infrastruktur pendidikan dan pembangunan ekonomi—kunjungan tersebut memiliki makna simbolik yang sangat kuat.
Ia menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan tidak mengenal batas geografis. Bahwa talenta bisa lahir dari mana saja. Bahwa anak-anak dari Sulawesi, dari Makassar, dari pelosok Indonesia Timur, memiliki potensi yang sama untuk berkontribusi pada dunia.
Universitas Hasanuddin melalui kunjungan ini juga menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan pendidikan berkualitas, membangun budaya riset yang kuat, dan membuka jendela dunia bagi mahasiswanya. Perguruan tinggi bukan hanya tempat kuliah, tetapi pusat lahirnya gagasan, inovasi, dan harapan bagi masa depan masyarakat.
Momen paling menyentuh justru terjadi setelah kuliah selesai. Prof. Meldal dikerumuni siswa-siswi sekolah menengah dan mahasiswa yang antusias ingin berfoto bersama. Di wajah-wajah muda itu terpancar kebahagiaan dan kebanggaan. Bagi mereka, foto itu bukan sekadar dokumentasi. Itu adalah kenangan yang akan mereka simpan sepanjang hidup—sebuah cerita yang kelak akan mereka ceritakan: “Saya pernah bertemu dan berfoto dengan seorang peraih Nobel.”
Lebih dari sekadar foto, itu adalah percikan mimpi. Sebuah pengingat bahwa ilmuwan besar dunia bukan hanya nama dalam buku pelajaran, tetapi manusia nyata yang pernah berdiri di hadapan mereka, berbagi ilmu, dan memberi inspirasi.
Siapa tahu, dari barisan pelajar yang berdiri hari itu, suatu saat akan lahir ilmuwan besar Indonesia berikutnya. Mungkin bukan besok, mungkin bukan sepuluh tahun lagi. Tetapi benihnya telah ditanam—benih rasa ingin tahu, benih keberanian, dan benih keyakinan bahwa mereka juga bisa.
Kunjungan Prof. Morten P. Meldal ke Makassar mengajarkan satu hal penting: ilmu pengetahuan adalah cahaya harapan di tengah dunia yang penuh tantangan. Dan tugas kita bersama—sebagai pendidik, orang tua, pemimpin, dan masyarakat—adalah memastikan cahaya itu terus menyala.
Karena masa depan Indonesia, termasuk Indonesia Timur, tidak hanya dibangun dengan infrastruktur dan ekonomi, tetapi juga dengan pikiran-pikiran muda yang terinspirasi untuk belajar, bertanya, dan berani bermimpi besar.
Dan hari itu, di kampus Universitas Hasanuddin, mimpi-mimpi itu mulai menyala lebih terang. (*)



