Klaim Belum Ada Kasus Virus Nipah, Tapi Tiongkok Sudah Siapkan Alat Tes dan Obat Potensial

erabaru.net
2 jam lalu
Cover Berita

Di tengah laporan infeksi virus Nipah di India pekan ini yang membuat dunia siaga tinggi, Tiongkok menyatakan telah menyiapkan alat uji dan memiliki obat potensial untuk penanganan virus tersebut.

EtIndonesia. Ketika wabah virus Nipah di India membuat dunia berada dalam kewaspadaan tinggi, rezim komunis Tiongkok mengklaim bahwa tidak ada kasus yang terdeteksi di Tiongkok. Sementara itu, otoritas kesehatan negara tersebut mengatakan mereka telah menyiapkan alat uji untuk virus tersebut.

Institut Virologi Wuhan (Wuhan Institute of Virology/WIV) juga menngklaim bahwa para penelitinya telah menemukan obat potensial untuk virus yang ditularkan oleh kelelawar itu.

Dua kasus virus Nipah yang ditularkan oleh kelelawar telah dikonfirmasi di Benggala Barat, dekat Kolkata—kota terbesar ketiga di India—sebagaimana diumumkan otoritas setempat pada 26 Januari. Hal ini memicu kekhawatiran global akan kemungkinan terjadinya pandemi baru.

Kedua pasien tersebut adalah perawat berusia 25 tahun—seorang perempuan dan seorang laki-laki—yang bekerja di rumah sakit yang sama di Barasat, wilayah Distrik North 24 Parganas, yang merupakan kawasan pinggiran utama Kolkata. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kondisi pasien laki-laki telah membaik, sementara pasien perempuan masih dalam kondisi kritis.

Virus Nipah merupakan virus RNA untai tunggal yang sangat patogen dan bersifat zoonosis. Virus ini memiliki tingkat kematian tinggi, berkisar antara 40 persen hingga 75 persen. Masa inkubasinya juga sangat panjang, dapat mencapai hingga 45 hari.

Virus ini menyebar dari hewan ke manusia terutama melalui konsumsi makanan yang terkontaminasi, dan juga dapat menular dari manusia ke manusia melalui kontak langsung. Kelelawar pemakan buah merupakan inang alami virus ini, dan penularan dari babi ke manusia juga dapat terjadi.

Kasus-kasus sebelumnya telah dilaporkan di India, Bangladesh, Malaysia, Filipina, dan Singapura sejak virus ini pertama kali ditemukan pada tahun 1998.

Para pakar medis khawatir virus ini dapat memicu pandemi baru karena kemiripannya dengan COVID-19. WHO memasukkan virus Nipah ke dalam daftar virus yang berpotensi menimbulkan pandemi.

Negara-negara Asia telah meningkatkan pengawasan untuk mencegah penyebaran virus mematikan ini.
Pakistan, Thailand, Singapura, Hong Kong, Malaysia, Indonesia, dan Vietnam memperketat pemeriksaan kesehatan di bandara. Kementerian Luar Negeri Taiwan mengeluarkan peringatan perjalanan Level 2 untuk wilayah di India tempat virus ini terdeteksi pada 26 Januari. Tiongkok juga menyatakan telah memperketat pemeriksaan di bandara bagi pelancong yang masuk.

Alat Uji Mulai Didistribusikan

Meski rezim Tiongkok sejauh ini mengklaim belum ada kasus virus Nipah yang terkonfirmasi di daratan Tiongkok, otoritas kesehatan menyatakan bahwa seluruh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) tingkat provinsi di seluruh negeri kini memiliki kemampuan untuk melakukan pengujian laboratorium virus Nipah dan telah menimbun reagen uji darurat, menurut klaim media pemerintah Xinhua.

Beijing Bohui Innovation Biotechnology merupakan salah satu perusahaan di daratan Tiongkok yang telah meluncurkan kit deteksi asam nukleat virus Nipah, dengan klaim mampu menguji apakah seseorang terinfeksi virus tersebut, sebagaimana dilaporkan media-media besar Tiongkok.

Hanya sehari setelah infeksi virus mematikan itu dilaporkan di India, media pemerintah Tiongkok melaporkan bahwa WIV menemukan obat nukleosida oral COVID-19 bernama VV116 menunjukkan aktivitas antivirus yang signifikan terhadap virus Nipah.

Mengingat keterkaitan WIV dengan wabah COVID-19 di Wuhan pada tahun 2019 serta waktu pengumuman tersebut, banyak warga Tiongkok menyatakan kekhawatiran secara daring.

Salah satu unggahan berbunyi, “Virusnya bahkan belum mulai menyebar, tapi mereka sudah menyiapkan obatnya! Ini mengerikan!”

Unggahan lain mengatakan, “Kalau virus ini sudah masuk ke Tiongkok, siapa yang akan menggunakan semua obat-obatan ini?”

Tiongkok telah mengalami gelombang wabah penyakit pernapasan,  oleh otoritas dikaitkan dengan berbagai virus yang beredar bersamaan, seperti influenza H3N2, rhinovirus, virus pernapasan sinsisial (RSV), dan lain-lain. Warga Tiongkok bersikap skeptis terhadap narasi resmi tersebut, mengingat rezim Tiongkok memiliki rekam jejak secara konsisten dalam meremehkan data dan menutupi penyebab serta skala sebenarnya dari wabah penyakit, terutama selama pandemi COVID-19.

Seorang warga Tiongkok yang tidak menyebutkan namanya demi alasan keamanan mengatakan kepada The Epoch Times bahwa “virus yang tidak diketahui” saat ini sedang menyebar di kampung halamannya, Distrik Jimo, Kota Qingdao, Provinsi Shandong.

Para dokter secara seragam mengklaim bahwa itu “hanya flu biasa,” tetapi menurut warga tersebut, kenyataannya berbeda. Foto-foto yang diam-diam diambil oleh ibunya menunjukkan bahwa setiap rumah menjalani disinfeksi intensif, dengan asap putih memenuhi udara. Sejumlah lansia dilaporkan telah meninggal akibat “flu” ini.

Unggahan permintaan bantuan serta video situasi yang diposting oleh anggota keluarga di Douyin (TikTok) dihapus oleh otoritas, dan polisi bahkan telah dua kali menelepon warga tersebut, mengancam agar ia tetap diam.

VV116 dan Virus Nipah

Tahun lalu, WIV menerbitkan sebuah artikel mengenai aktivitas antivirus VV116 terhadap virus Nipah.

VV116 merupakan turunan dari Remdesivir, obat analog nukleotida yang dikembangkan untuk melawan SARS-CoV-2, kata Xiaoxu Sean Lin, profesor madya ilmu biomedis di Fei Tian College Kampus Utara di New York, kepada The Epoch Times.

VV116 tidak dirancang secara khusus untuk melawan Nipah, ujar Lin.

“Obat ini ditemukan mampu menghambat berbagai virus RNA karena dapat menghambat replikasi virus RNA,” katanya. “Remdesivir disetujui oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) AS. VV116 disetujui oleh FDA Tiongkok. Keduanya disetujui untuk pengobatan COVID. Jadi, penggunaannya hanya perlu diperluas untuk kasus infeksi Nipah.”

Gejala infeksi virus Nipah pada umumnya mirip dengan infeksi saluran pernapasan atas, kata Dr. Jonathan Liu, profesor di Canada Public College dan direktur Liu’s Wisdom Healing Centre, kepada The Epoch Times.

“Misalnya, pada tahap awal dapat muncul demam, sakit kepala, nyeri otot, atau sakit tenggorokan,” kata Liu.

Dalam kasus berat, “dapat muncul manifestasi neurologis, seperti gangguan kesadaran, kejang, dan koma. Masa inkubasi berkisar antara empat hingga 14 hari, tetapi bisa lebih lama, hingga 45 hari. Secara umum, tingkat kematiannya cukup tinggi.”

Virus Nipah merupakan virus RNA beruntai negatif dan berbeda dengan SARS-CoV-2 yang merupakan virus beruntai positif, jelas Liu.

“COVID-19 menginfeksi manusia dengan sangat cepat; virus dapat dengan cepat masuk ke dalam sel dan mereplikasi proteinnya. Virus Nipah relatif lebih lambat. Karena merupakan virus beruntai negatif, diperlukan proses konversi.”

Lin mencatat bahwa penelitian WIV tersebut merupakan studi in vitro serta studi praklinis pada hewan yang menunjukkan VV116 dapat menghambat pertumbuhan virus Nipah. Tidak ada uji klinis.

“Berdasarkan makalah yang mereka terbitkan, peneliti WIV menggunakan hamster untuk studi hewan, bukan kelelawar,” kata Lin, seraya menambahkan, “Kami tidak tahu apakah WIV juga melakukan studi Nipah menggunakan klon kelelawar, atau apakah mereka sedang mengembangkan obat lain.”

Sebelumnya, Lin telah menyatakan kekhawatiran terhadap minat rezim Tiongkok dalam meneliti virus Nipah.

“Orang yang terinfeksi Nipah dapat mengalami sindrom neuropatik. Mereka bisa mengalami kerusakan otak parah. Namun mereka tidak langsung meninggal, tidak seperti Ebola. Jadi virus ini memiliki peluang lebih besar untuk terus menyebar dari inang yang terinfeksi,” katanya kepada The Epoch Times.

“Jika inangnya dapat bertahan lebih lama dan menyebarkannya lebih jauh melalui penularan antarmanusia, virus ini bisa menjadi senjata biologis yang lebih efektif. Itulah sebabnya PKT sangat tertarik pada virus Nipah, dan itulah mengapa saya menilai ini sangat berbahaya.”

Luo Ya dan Reuters berkontribusi dalam laporan ini.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Siap Bungkam Kritik! Tekad Kapten PSM Yuran Fernandes dan Janji Kalahkan Semen Padang!
• 14 jam laluharianfajar
thumb
Beroperasi 4 Hari, Stasiun Jatake Layani Lebih dari 5.000 Pengguna KRL
• 20 jam lalubisnis.com
thumb
Gol Pemain Baru Antar Borneo FC Menang atas PSIM di BRI Super League, Fabio Lefundes: Alhamdulillah!
• 5 jam lalubola.com
thumb
Prabowo Bakal Buka Rakornas Pemerintah Pusat-Daerah, 4.487 Peserta Hadir
• 4 jam lalutvonenews.com
thumb
Saling Ejek Berujung Bentrok, Suporter Persita dan Persija Ricuh di Tangerang
• 9 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.