IHSG Anjlok Lagi: Investor Belum Yakin, Pasar Masih Cermati MSCI

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 5,03 persen atau 418,75 poin ke level 7.910,85 17 setelah pembukaan. Langkah OJK terkait 8 rencana aksi reformasi pasar modal dinilai belum bisa meyakinkan pasar pada awal perdagangan hari ini, Senin (2/2)

Selain itu, Analis pasar modal sekaligus founder Traderindo, Wahyu Laksono, juga menilai pasar masih cemas menunggu pertemuan Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan MSCI hari ini.

“Ya, belum cukup (dengan langkah OJK). Pasar masih cemas jelang deadline MSCI, sampai ada kejelasan MSCI (soal) isu ancaman turun kelas IHSG,” ujar Wahyu kepada kumparan, Senin (2/2).

Meski demikian, Wahyu melihat rencana Danantara untuk masuk ke pasar modal diharapkan menjadi sentimen positif utama yang meredam kepanikan pasar.

Sementara itu, pengunduran diri sejumlah petinggi BEI termasuk Dirut Iman Rachman dan pejabat OJK yang pada akhir pekan lalu sempat mengejutkan, dampaknya kini dipandang sebagai momentum reformasi struktural.

“Namun, sentimen utama masih berada di tangan MSCI. Kejelasan MSCI dan tanggapan nya terhadap apa yang dilakukan regulator Indonesia terkait isu kredibilitas IHSG menjadi faktor utama,” kata Wahyu.

Sementara itu, analis sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana menilai saat ini investor memang masih ada dalam kondisi penyesuaian. Hal inilah yang menyebabkan IHSG dibuka melemah.

“Di tengah derasnya arus informasi kebijakan, dinamika regulasi pasar modal, serta ketidakpastian arah stabilisasi jangka pendek, dalam kondisi seperti ini, pasar cenderung lebih responsif terhadap risiko daripada narasi optimisme,” ujarnya.

Ia juga menilai percepatan kebijakan kenaikan free float minimum menjadi 15 persen mulai 2026 justru menjadi beban dalam sentimen IHSG hari ini.

“Meski secara struktural kebijakan ini bersifat positif dan pro-pasar, dalam jangka pendek ia memunculkan kekhawatiran akan tekanan suplai saham, terutama pada emiten-emiten besar yang selama ini memiliki free float rendah,” kata Hendra.

Ia menilai saat ini masih banyak saham berkapitalisasi besar di sektor perbankan, consumer goods, infrastruktur, energi, hingga teknologi yang terlihat mahal secara kapitalisasi namun sejatinya likuiditasnya terbatas karena porsi saham publik yang kecil.

Ketika pasar mulai mengantisipasi peningkatan free float, investor cenderung melakukan penyesuaian valuasi lebih dini, yang berujung pada aksi jual, khususnya pada saham-saham yang selama ini naik karena kelangkaan saham, bukan karena likuiditas dan fundamental yang kuat.

Sementara dari perspektif pasar, kebijakan revisi free float menjadi 15 persen ini dinilai Hendra memaksa investor untuk membedakan secara lebih tegas antara saham yang kuat secara fundamental dan saham yang selama ini ditopang oleh struktur kepemilikan yang sangat terkonsentrasi.

Sedangkan sentimen terkait kesiapan Danantara untuk menyerap saham, hal itu belum mampu meredam kegelisahan pasar pagi ini. Ia menilai pasar masih membutuhkan kejelasan terkait teknis kesiapan Danantara tersebut.

“Hal ini menunjukkan bahwa pasar saat ini tidak kekurangan likuiditas narasi, tetapi kekurangan kepastian mekanisme. Investor membutuhkan kejelasan teknis mengenai bagaimana intervensi atau dukungan tersebut dilakukan, pada level harga berapa, sektor apa, dan dalam kerangka waktu seperti apa. Tanpa detail yang konkret, pernyataan normatif justru berisiko dipersepsikan sebagai sinyal defensif, bukan penopang kepercayaan,” ujarnya.

Sementara terkait rencana reformasi pasar modal oleh OJK, Hendra menilai substansi dari 8 poin reformasi yang ada sebenarnya sudah tepat. Namun demikian, dari sisi waktu dan komunikasi, pasar masih perlu waktu transisi.

“Reformasi struktural seperti kenaikan free float, penguatan transparansi kepemilikan, dan peningkatan tata kelola adalah fondasi jangka panjang. Namun pasar bergerak harian, dan pada fase transisi, investor membutuhkan kepastian stabilitas jangka pendek agar tidak terjadi dislokasi harga yang berlebihan,” kata Hendra.

Menurutnya, IHSG yang melemah pagi ini bukan cerminan kegagalan reformasi, melainkan hanya reaksi alami pasar terhadap perubahan struktural yang besar dalam waktu relatif singkat.

Dengan begitu, kini pasar sedang beralih dari ekspektasi lama dan menyesuaikan harga terhadap realitas baru. Dalam jangka pendek, Hendra menuturkan bahwa tekanan dan volatilitas masih berpotensi berlanjut.

“Namun, apabila reformasi dijalankan secara konsisten, disertai komunikasi kebijakan yang lebih teknis dan terukur, maka dalam jangka menengah hingga panjang, pasar modal Indonesia justru berpeluang menjadi lebih sehat, lebih likuid, dan lebih kredibel, dengan basis pergerakan harga yang ditopang oleh kualitas, bukan semata kelangkaan saham,” ujarnya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Prabowo Singgung Demo Rusuh: Kamu 5 Ribu Kali Demo, Tak Akan Satu Pabrik Dibuka
• 41 menit lalukumparan.com
thumb
Menteri Dody Instruksikan Balai Kementerian PU di Jawa Barat Siaga Penuh Dukung Evakuasi Longsor Cisarua
• 23 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Catatan Dahlan Iskan: Agak Laen
• 5 jam lalugenpi.co
thumb
Perhatian! Harga BBM di Semua SPBU RI Resmi Turun, Berlaku Februari
• 20 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
MilkLife Soccer Challenge Seri 2 2025-2026, Lahirkan Juara Baru di Tengah Iklim Kompetitif
• 16 jam lalubola.com
Berhasil disimpan.