Perusahaan jasa pengiriman bersiap menghadapi lonjakan pengiriman paket pada Ramadan dan Idulfitri 2026. JNE Express memproyeksikan pertumbuhan volume 20–30%, sementara J&T Express optimistis kinerja tahun ini akan melampaui awal tahun seiring meningkatnya belanja e-commerce.
Marketing Group Head JNE, Eri Palgunadi, mengatakan industri logistik terus tumbuh sejalan dengan digitalisasi dan maraknya belanja daring. Ramadan menjadi periode puncak karena meningkatnya konsumsi rumah tangga, pengiriman parsel, dan aktivitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Menghadapi momentum tersebut, JNE memperkuat infrastruktur operasional dengan dukungan lebih dari 50.000 karyawan dan 11.000 armada. Perusahaan juga mengoptimalkan Mega Hub seluas 4 hektare di dekat Bandara Soekarno–Hatta yang dilengkapi Automatic Sorting Center untuk mempercepat proses sortir dan distribusi.
“JNE memanfaatkan lebih dari 8.000 titik layanan di seluruh Indonesia, meningkatkan fleksibilitas jam operasional, serta pengaturan rute di area dengan volume tinggi. Sinergi dengan mitra transportasi juga terus diperkuat agar pengiriman tetap lancar selama Ramadan,” ujar Eri kepada Katadata.co.id, dikutip Senin (2/2).
Dari sisi proyeksi, JNE memperkirakan volume pengiriman Ramadan tahun ini tumbuh 20–30% dibanding periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan terutama ditopang sektor fesyen, makanan dan minuman, serta kebutuhan rumah tangga.
Untuk mengantisipasi kemacetan mudik, pembatasan angkutan, dan faktor cuaca, JNE menerapkan strategi distribusi multimoda melalui jalur darat, udara, dan laut. Pemantauan berbasis teknologi dilakukan secara real-time guna menjaga ketepatan waktu sesuai standar layanan (SLA).
“Kami optimis dapat menjaga keandalan layanan selama Ramadan dan Idulfitri. Semangat Connecting Happiness menjadi komitmen kami untuk mendukung kebutuhan masyarakat,” kata Eri.
Komisaris J&T Express, Iwan Senjaya, menyebut perusahaannya juga melakukan persiapan matang berbasis data historis Ramadan. Strategi yang ditempuh antara lain merekrut pekerja musiman, menambah shift malam, serta mengoptimalkan pusat sortir.
“Kami tetap beroperasi 24 jam tujuh hari, mengoptimalkan kapasitas armada, meningkatkan kemampuan sorting di gateway, dan menambah frekuensi pengiriman antar kota pada wilayah dengan permintaan tinggi,” ujar Iwan kepada Katadata.co.id, dikutip Senin (2/2).
Pada Ramadan 2025, J&T mencatat lonjakan volume lebih dari 40% dibanding bulan sebelumnya. “Melihat tren belanja Ramadan di e-commerce yang terus tumbuh, kami optimistis volume tahun ini akan melebihi capaian Januari,” katanya.
Namun, tantangan tetap diwaspadai, terutama cuaca ekstrem dan potensi bencana seperti banjir serta tanah longsor. J&T melakukan pemantauan operasional secara real-time dan memperkuat koordinasi tim lapangan agar gangguan dapat segera ditangani.
Dengan berbagai langkah tersebut, pelaku industri logistik yakin mampu menjaga kualitas layanan sekaligus membidik pertumbuhan dua digit pada Ramadan 2026.
Pengiriman Jelang Ramadan 2026 Diprediksi Melonjak hingga 20%Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman, Ekspres, Pos, dan Logistik Indonesia (Asperindo) memprediksi memproyeksikan volume pengiriman Ramadan 2026 tumbuh sekitar 10–20% dibanding tahun sebelumnya.
Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman, Ekspres, Pos dan Logistik Indonesia (Asperindo), Budiyanto Darmastono, mengatakan proyeksi ini sejalan dengan tren musim ramai alias peak season selalu berulang tiap tahun.
“Karena itu perusahaan jasa pengiriman sudah meningkatkan kapasitas sejak awal, baik dari sisi armada, SDM, maupun jaringan distribusi,” ujarnya.
Menurut Asperindo, sektor yang paling banyak menyumbang lonjakan adalah e-commerce dan ritel konsumen. Kategori yang mendominasi meliputi makanan dan minuman seperti kurma, makanan siap saji, hampers, pakaian dan aksesori, serta kebutuhan pokok menjelang puasa dan Lebaran.
Namun, sejumlah tantangan tetap membayangi, mulai dari kepadatan lalu lintas saat mudik, keterbatasan infrastruktur, hingga potensi cuaca ekstrem.
“Pada Ramadan tahun ini ada risiko hujan deras di beberapa wilayah yang dapat memperlambat pengiriman. Karena itu koordinasi dengan pemerintah dan regulator terus dilakukan, terutama terkait kebijakan lalu lintas dan kelancaran infrastruktur,” kata Budiyanto.




