EtIndonesia. Ketekunan adalah langkah pertama menuju keberhasilan. Ketekunan adalah jalan yang pasti dilalui untuk meraih kemenangan. Dan ketekunan adalah rahasia utama yang membuat banyak orang akhirnya berhasil.
Berikut ini adalah kisah-kisah inspiratif tentang satu kebenaran sederhana namun mendalam: hanya mereka yang mampu bertahan dan tidak menyerah, yang akhirnya akan sampai di garis akhir kesuksesan.
Kisah 1
Filsuf besar Yunani Kuno, Socrates, pernah berkata kepada para muridnya:
“Hari ini kita hanya akan mempelajari satu hal yang paling sederhana dan paling mudah dilakukan. Setiap orang, rentangkan lengan sejauh mungkin ke depan, lalu ayunkan ke belakang semaksimal mungkin. Mulai hari ini, lakukan gerakan ini 300 kali setiap hari.”
Para murid tertawa. Gerakan sesederhana itu—siapa yang tidak bisa?
Sebulan kemudian, Socrates bertanya: “Siapa yang setiap hari tetap mengayunkan tangan 300 kali?”
Sekitar 90% murid dengan bangga mengangkat tangan.
Sebulan berlalu lagi.Socrates bertanya kembali. Kali ini, yang bertahan tinggal 80%.
Setahun kemudian, Socrates kembali bertanya kepada seluruh kelas : “Coba beri tahu saya, dari gerakan paling sederhana ini, siapa yang masih bertahan hingga hari ini?”
Di ruang kelas yang penuh murid itu, hanya satu orang yang mengangkat tangan.
Murid itu adalah Plato, yang kelak dikenal sebagai filsuf besar Yunani Kuno.
Di Jepang, ada seorang pria bernama Fujita Den. Dia ingin membeli hak waralaba McDonald’s Amerika. Namun, modal awal yang dibutuhkan mencapai jutaan dolar, sementara dia hanya memiliki 50.000 dolar AS.
Dia mendatangi kantor Presiden Sumitomo Bank.
Sang presiden bank berkata dingin: “Silakan pulang dulu. Saya perlu mempertimbangkannya.”
Fujita Den lalu berkata: “Bisakah Anda mendengar dulu bagaimana saya bisa mengumpulkan 50.000 dolar itu?”
Setelah mendengar kisahnya, presiden bank langsung pergi ke bank tempat Fujita menabung.
Petugas loket berkata: “Dia adalah nasabah paling gigih yang pernah saya temui. Selama enam tahun, setiap bulan, tanpa pernah absen, dia datang tepat waktu untuk menabung.”
Presiden bank itu segera menelepon Fujita Den dan memberitahukan bahwa permohonan pinjamannya disetujui.
Kini, Fujita Den memiliki kekayaan bernilai ratusan juta dolar, menjadi salah satu orang terkaya di Jepang, dan dikenal luas sebagai Ketua Kehormatan McDonald’s Jepang.
Kisah Socrates dan Plato mengajarkan kita bahwa keberhasilan lahir dari ketekunan. Sementara kisah Fujita Den menunjukkan bahwa kesuksesan bukan hanya soal bertahan, tetapi juga soal perhatian pada hal-hal kecil.
Jika kita melihat esensinya, keberhasilan itu:
- tampak mudah, karena siapa pun bisa melakukannya asal mau;
- tetapi juga sangat sulit, karena hanya sedikit orang yang benar-benar sanggup bertahan hingga akhir.
Untuk menjadi pribadi yang berhasil, seseorang bukan hanya perlu rajin dan bekerja keras, tetapi juga tekun, sabar, dan pantang menyerah. Tanpa semangat konsistensi—hari ini semangat, besok berhenti—maka cita-cita dan kesuksesan akan selalu terasa jauh dan mustahil diraih.
Kisah 2
Ketika berbicara tentang Mesir, yang terlintas di benak kita adalah piramida—salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia. Yang paling terkenal adalah Piramida Khufu, setinggi 136 meter, setara dengan bangunan 40 lantai.
Suatu ketika, sebuah tim arkeolog melakukan penelitian di Piramida Khufu. Dengan bantuan pesawat, mereka mencapai puncak piramida. Tak jauh dari sana, beberapa ekor elang terkejut dan terbang menjauh.
Dalam pemahaman manusia, seolah hanya elang dengan sayap kuat yang mampu mencapai puncak piramida.
Namun, penelitian itu menemukan sesuatu yang mencengangkan.
Di puncak piramida, ditemukan banyak cangkang siput.
Pertanyaannya: Bagaimana mungkin siput-siput itu bisa sampai ke atas?
Ada yang menduga siput itu dibawa elang sebagai makanan. Namun, tubuh siput di dalam cangkangnya utuh dan tidak rusak.
Ada pula yang menduga siput menempel di badan pesawat. Tetapi secara logika, hembusan angin kuat dari mesin pesawat akan langsung meniup siput hingga lenyap.
Akhirnya, ditemukan jawaban yang sesungguhnya.
Di bagian tengah dan atas piramida, terlihat jejak lendir siput, bahkan ada siput yang telah mengering menempel di dinding piramida.
Ternyata, siput-siput itulah yang merayap sendiri— bukan dalam satu hari, bukan dalam satu bulan, melainkan bulan demi bulan, tahun demi tahun, langkah demi langkah.
Makhluk dengan kecepatan paling lambat itu, melalui ketekunan tanpa henti, berhasil memanjat bangunan terbesar di dunia—dan sekaligus mencapai puncak tertinggi dalam hidupnya sendiri.
Siput kecil itu melakukan sesuatu yang bahkan manusia tanpa bantuan alat pun sulit melakukannya.
Pada saat kebenaran itu terungkap, hampir semua orang yang menyaksikannya terdiam dan tergetar.
Dengan sepenuh hati, saya berharap setiap siswa kelas sembilan: bertahanlah sedikit lebih lama— karena keberhasilan sesungguhnya sudah berada di bawah kakimu.
Berjuang satu tahun penuh, dan kemenangan akan berdiri tepat di sisimu.(jhn/yn)





