Empat Dekade Anti-PLTN, Denmark Kini Pertimbangkan Reaktor Modular Kecil

katadata.co.id
3 jam lalu
Cover Berita

Pemerintah Denmark mulai mempertimbangkan pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir skala kecil atau small modular reactors (SMR) untuk memenuhi kebutuhan energi nasional. Langkah ini menandai perubahan penting pada negara yang selama lebih dari empat dekade melarang penggunaan nuklir sebagai sumber energi.

Kementerian Iklim dan Energi Denmark menyatakan telah menyiapkan kerangka kerja untuk mengkaji peluang dan risiko teknologi nuklir generasi baru, termasuk kemungkinan pencabutan larangan nuklir. Kajian tersebut mencakup aspek regulasi, keselamatan, pengelolaan limbah radioaktif, kesiapan sumber daya manusia, hingga biaya pembangunan.

Menteri Iklim, Energi, dan Utilitas Denmark Lars Aagaard menjelaskan pembangkit tenaga surya dan angin akan tetap menjadi tulang punggung sistem kelistrikan negaranya. Namun, kedua jenis pembangkit tersebut tidak bisa berdiri sendiri. “Kami harus terbuka untuk mengkaji apakah teknologi lain dapat menyediakan energi hijau di masa depan. Small modular reactors bisa menjadi salah satu opsi,” ujar Aagaard baru-baru ini, dikutip dari NDTV.

Denmark secara resmi melarang nuklir sebagai sumber energi sejak 1985. Keputusan itu tak lepas dari dampak Insiden Three Mile Island di Amerika Serikat pada 1979, ketika salah satu reaktor pembangkit listrik tenaga nuklir meleleh akibat kegagalan sistem pendingin dan kesalahan operator. Meski dampak radiasinya terbatas, insiden tersebut mengguncang kepercayaan publik global terhadap keselamatan nuklir dan memicu perubahan besar dalam kebijakan serta regulasi energi di berbagai negara.

 

Saat ini, sebagian besar pasokan listrik Denmark dari pembangkit energi terbarukan. Berdasarkan data International Energy Agency (IEA) tahun 2024, tenaga angin menyumbang sekitar 58 persen produksi listrik nasional, diikuti biofuel 18 persen dan tenaga surya 11 persen. Sedangkan limbah dan batu bara masing-masing berkontribusi sekitar lima persen.

Di tingkat global, mengacu pada World Nuclear Association, 12 dari 15 ekonomi terbesar dunia telah memanfaatkan energi nuklir untuk mendukung ketahanan energinya. Banyak negara di Asia, Afrika, Eropa Timur, dan Amerika Latin juga tengah mempertimbangkan atau memasukkan nuklir ke dalam strategi ketahanan energi jangka panjang.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
PSM Siap Akhiri Tren Negatif Lawan Semen Padang FC
• 10 jam lalucelebesmedia.id
thumb
Red Notice Terbit, Interpol Lacak Jejak Riza Chalid sebagai Buronan Internasional
• 19 jam laludisway.id
thumb
Interpol Kejar Riza Chalid, Red Notice Berlaku hingga 2031
• 11 jam lalurctiplus.com
thumb
Daftar Pemenang Grammy Awards 2026 
• 10 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Waspada Potensi Cuaca Ekstrem, Polda Lampung Imbau Masyarakat Tingkatkan Kewaspadaan
• 22 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.