Biarkan Hidup Berubah dari Kepompong Menjadi Kupu-kupu

erabaru.net
2 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Dalam hidup, ada hal-hal yang tidak bisa kita pilih— seperti latar belakang keluarga yang sederhana, rupa fisik yang kurang menarik, atau pengalaman hidup yang penuh luka. Semua itu bagaikan kepompong yang membungkus hidup kita.

Namun ada pula hal-hal yang selalu bisa kita pilih: harga diri, kepercayaan diri, ketekunan, dan keberanian. Inilah “pedang kehidupan” yang membantu kita menembus kepompong takdir dan berubah dari ulat menjadi kupu-kupu.

Kita sering iri pada orang-orang yang seolah tanpa usaha sudah melangkah jauh di jalan impian mereka. Namun mereka hanyalah segelintir orang yang beruntung.

Pada akhirnya, kita akan memahami satu kebenaran: mereka yang memikul beban penderitaan hidup, melangkah perlahan namun tak pernah berhenti, dan bertahan hingga akhir—itulah orang-orang yang melaju paling jauh dan paling kuat.

Ada seorang anak. Wajahnya kurang menarik, bicaranya gagap, dan karena penyakit, sebagian wajah kirinya lumpuh. Sudut mulutnya tampak tidak simetris, dan satu telinganya kehilangan pendengaran.

Ibunya tenggelam dalam kesedihan mendalam. Seorang anak yang baru beberapa tahun hadir di dunia sudah harus menanggung nasib seberat ini— bagaimana dia akan menjalani hidup ke depan?

Selain mencurahkan cinta dan perlindungan sepenuh hati, sang ibu tak tahu lagi apa yang bisa dia lakukan.

Namun barangkali anak ini memang ditakdirkan menjadi pejuang kehidupan.

Dia tumbuh lebih cepat dewasa dibandingkan anak-anak lain. Dia diam-diam menahan ejekan, olok-olok, dan tatapan meremehkan dari sekelilingnya. Dia memang merasa rendah diri— tetapi di dalam dirinya menyala tekad kuat untuk bangkit dan menjadi lebih baik.

Ketika anak-anak lain menghabiskan waktu dengan mainan, dia justru tenggelam dalam buku-buku. Banyak di antaranya bahkan bacaan orang dewasa. Dia membacanya dengan penuh minat, karena dari sanalah dia belajar arti keteguhan dan sikap pantang menyerah.

Untuk memperbaiki gagap bicaranya, dia meniru cara seorang orator terkenal dari zaman kuno: berlatih berbicara sambil menggigit kerikil kecil di dalam mulut.

Melihat bibir dan lidah anaknya terluka dan berdarah karena gesekan batu, sang ibu tak kuasa menahan air mata.

Dia berkata sambil menangis:  “Sudahlah, Nak… berhentilah berlatih. Ibu akan menemanimu seumur hidup.”

Anak itu dengan lembut menyeka air mata ibunya dan berkata: “Bu, buku yang kubaca mengatakan: setiap kupu-kupu yang indah, lahir karena dia sendiri merobek kepompongnya. Jika kepompong itu disobekkan oleh orang lain, kupu-kupu yang lahir tidak akan indah.  Aku ingin menjadi kupu-kupu yang indah.”

Waktu berlalu. Dia akhirnya mampu berbicara dengan lancar.

Karena ketekunan dan kebaikan hatinya, saat lulus sekolah menengah, dia bukan hanya meraih prestasi akademik yang cemerlang, tetapi juga mendapatkan penghormatan dari orang-orang di sekitarnya. Tak ada lagi ejekan—yang ada hanyalah rasa hormat dan kekaguman.

Ibunya kemudian membantunya mendapatkan pekerjaan yang cukup baik, berharap hidup anaknya berjalan lebih mudah.

Namun dia kembali berkata dengan tenang :  “Bu, aku ingin tetap menjadi kupu-kupu yang indah.”

Pada Oktober 1993, pria yang berpengetahuan luas dan telah menunjukkan banyak kontribusi ini maju dalam sebuah pemilihan umum.

Lawan politiknya, dengan niat buruk, menggunakan iklan televisi untuk membesar-besarkan cacat wajahnya, lalu menuliskan slogan kejam:  “Apakah kamu ingin orang seperti ini memimpinmu?”

Serangan yang tidak bermoral dan sarat penghinaan pribadi itu justru memicu kemarahan dan kecaman publik.

Ketika masyarakat mengetahui perjalanan hidupnya, dia justru memperoleh simpati dan rasa hormat yang luar biasa.

Slogan kampanyenya:“Saya ingin memimpin negara dan rakyat ini menjadi kupu-kupu yang indah,” menggetarkan hati banyak orang.

Dia pun terpilih dengan suara mayoritas, dan kembali memenangkan pemilihan pada tahun 1997, terpilih kembali untuk periode kedua.

Rakyat dengan penuh kasih menjulukinya “Kupu-Kupu”.

Dialah Jean Chrétien— Perdana Menteri Kanada pertama yang terpilih kembali dua periode dan memimpin melintasi pergantian abad.

Cerita ini mengajarkan kita satu hal yang sangat dalam:  jangan takut pada kepompong kehidupan. Selama kita berani bertahan, berjuang, dan merobeknya dengan kekuatan sendiri, kita semua memiliki kesempatan untuk terbang—  menjadi kupu-kupu yang indah dengan sayap hasil perjuangan sendiri.(jhn/yn)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Prabowo Singgung Baliho Ganggu Estetika, Koster Segera Minta Satpol PP Tertibkan
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
GAIKINDO Targetkan Penjualan Mobil 2026 Capai 850 Ribu Unit
• 4 jam lalumedcom.id
thumb
Choi Hyun Wook Dikabarkan Main Drakor Soul Bersama Kim Go Eun dan Kang Dong Won
• 12 jam lalubeautynesia.id
thumb
Hasil Liga Inggris: Dihiasi Gol Scorpion Kick, Spurs Imbangi Man City
• 17 jam lalukumparan.com
thumb
Warga Paris Demo Frexit, Tuntut Perancis Keluar dari Uni Eropa demi Kedaulatan Nasional
• 13 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.