Kyoto berencana untuk melakukan inspeksi mendadak pada penginapan bergaya Airbnb saat malam hari. Hal ini dilakukan setelah warga mengeluh, karena turis yang kurang sopan.
Dilansir SoraNews24, Wali Kota Kyoto, Koji Matsui, mengatakan bahwa kota tersebut berencana untuk memperketat peraturan terkait penyewaan jangka pendek.
Mulai bulan ini, pemilik penyewaan jangka pendek akan diwajibkan untuk menyerahkan laporan rutin tentang jumlah hunian mereka, dengan sanksi seperti penutupan paksa jika tidak patuh.
Panel ahli juga sedang dibentuk untuk mengeksplorasi pembatasan tambahan pada area geografis tempat penyewaan jangka pendek dapat beroperasi, serta hari operasional dan lamanya masa inap tamu.
Namun, langkah paling dramatis yang diambil Kyoto berkaitan dengan inspeksi. Untuk membatasi dampaknya terhadap warga sekitar, penyewaan jangka pendek seringkali diharuskan untuk mematuhi batasan maksimum jumlah hari dalam sebulan atau setahun, di mana mereka dapat menerima tamu,
Selain itu, peraturan juga mungkin mengharuskan tamu untuk menginap dalam jumlah hari tertentu, untuk menghindari keramaian berlebihan.
Niat Kyoto untuk memperketat aturan dilakukan mengikuti keputusan Osaka yang pada bulan Oktober 2025 lalu menangguhkan permohonan sewa jangka pendek baru. Hal ini muncul karena alas an yang sama, yaitu keluhan dari warga setempat tentang tamu yang berisik, membuang sampah sembarangan, atau mengganggu secara invansif.
Sementara itu, berdasarkan perhitungan terbaru yang dilakukan pada bulan Desember 2025, Kyoto memiliki 1.088 penginapan jangka pendek terdaftar.
Namun, jumlah ini berbanding lurus dengan peningkatan keluhan tentang kurangnya kesopanan tamu. Selama April hingga Desember 2025, terdapat 264 keluhan mengenai kebisingan berlebihan, membuang sampah sembarangan, serta pelanggaran etiket lainnya di tempat yang awalnya dirancang sebagai ruang hunian.




