Program Bina Talenta Indonesia yang dijalankan Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) pada 2025 disebut mampu meningkatkan literasi sains siswa di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Hal itu disampaikan Kepala Puspresnas Maria Irene Veronica dalam silaturahmi Kemendikdasmen dengan Forum Wartawan Pendidikan (Fortadik) di Gedung Kemendikdasmen, Jakarta Pusat pada Senin (2/2).
Irene mengakui keberagaman kondisi wilayah di Indonesia, baik secara fisik, sosial, maupun budaya, menjadi tantangan dalam pelaksanaan kebijakan pengembangan talenta. Namun, menurut dia, tantangan tersebut dapat dijawab melalui strategi intervensi program yang konkret.
Sebagai contoh, Irene menyebut pelaksanaan Bina Talenta Indonesia pada 2025 yang berfokus pada bidang STEM, coding, dan kecerdasan buatan (AI). Program tersebut diikuti oleh siswa dari berbagai wilayah, termasuk daerah 3T yang selama ini tidak tergolong wilayah unggulan.
“Terbukti bahwa literasi sains anak-anak yang ikut di daerah 3T, di daerah yang non-unggul-unggul ini, tingkat literasi sainsnya lebih besar daripada anak-anak yang di non-3T,” katanya.
Ia menjelaskan, pada kondisi awal, nilai literasi sains siswa di daerah 3T berada di bawah siswa dari wilayah unggulan seperti Jawa, DKI Jakarta, dan Sumatera. Namun, setelah mendapat intervensi melalui Bina Talenta Indonesia, terjadi peningkatan yang signifikan.
“Basis awal nilai literasi sainsnya itu kalah. Tapi ketika Bina Talenta Indonesia dilakukan, ada intervensi program dari Kemendikdasmen, yang di daerah 3T peningkatan literasi sainsnya lebih tinggi daripada wilayah lainnya, walaupun tetap masih berbeda,” ujarnya.
Menurut Irene, hasil tersebut menunjukkan bahwa program intervensi yang terarah dapat membantu menjawab tantangan ketimpangan kualitas pendidikan, meskipun perbedaan capaian antardaerah masih ada.


