Jakarta, tvOnenews.com – Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Bakrie, menegaskan dunia usaha Indonesia harus lebih agresif membaca perubahan geopolitik global yang kian dinamis, khususnya di tengah rivalitas Amerika Serikat dan Cina.
Menurutnya, situasi tersebut justru membuka peluang strategis bagi Indonesia untuk memperkuat posisi sebagai negara non-blok yang aktif.
Anindya menyampaikan, kunjungan ke Inggris bersama Presiden RI, yang dilanjutkan dengan kehadiran di World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, menjadi momen penting bagi Kadin untuk memahami arah pergerakan geopolitik dunia usaha.
“Dua kunjungan ini kita tidak tahu ternyata sangat bisa dibilang esensial untuk mengerti bagaimana pergerakan geopolitik dunia termasuk dunia usaha,” ujar Anindya Bakrie dalam konferensi pers di Menara Kadin, Senin (2/2/2026).
Dalam lawatan ke Inggris, Kadin membawa sekitar 10 pengusaha besar nasional dari berbagai grup usaha untuk menjajaki peluang kerja sama perdagangan dan investasi.
“Waktu itu hadir pengusaha-pengusaha dari grup misalnya Sinarmas, Djarum, Entek, Sampoerna, dari Bakrie, Medco, Lippo, dan lain-lain. Tujuannya ialah bagaimana ada kerja sama ekonomi dari level usaha,” katanya.
Anindya menegaskan, langkah tersebut menunjukkan peran aktif Kadin tidak hanya di forum multilateral seperti APEC, tetapi juga jalur bilateral, yang berpotensi mengarah pada pembahasan awal kerja sama ekonomi komprehensif atau CEPA.
“Ini menggambarkan juga bahwa Kadin… kita juga aktif bukan saja di dalam bidang multilateral seperti APEC, tapi juga bilateral seperti Inggris ini,” ujarnya.
Ia menilai, di tengah negosiasi dengan Amerika Serikat, Indonesia juga harus membuka jaringan baru karena peta geopolitik ekonomi global terus berubah, termasuk meningkatnya peran Cina.
“Kita lihat seminggu sehabis kunjungan itu PM Keir Starmer pergi ke Cina, dan beberapa hari sebelumnya itu PM dari Kanada,” ungkap Anindya.
Menurutnya, kondisi tersebut menegaskan bahwa geopolitik usaha global sedang mengalami pergeseran, sehingga Indonesia harus mampu memosisikan diri sebagai penyeimbang.
“Kita akan melihat peran Indonesia sebagai negara yang penyeimbang, non-aligned, tapi juga aktif,” tegasnya.
Anindya menilai, posisi non-blok membuat Indonesia diminati oleh kekuatan Barat maupun Timur. Namun, ia mengingatkan Indonesia tetap harus memperkuat fondasi ekonomi domestik.



