Cerita Driver Ojol yang Pendapatannya Dipotong Promo: Terpaksa Tambah Jam Kerja

kompas.com
12 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com — Kebijakan layanan berbayar yang diterapkan aplikator penyedia transportasi online dinilai memberatkan pengemudi ojek online (ojol).

Pasalnya, berbagai promo diskon yang ditawarkan kepada pelanggan justru dibebankan kepada driver melalui pemotongan langsung dari pendapatan hasil mengantar penumpang, barang, maupun makanan.

Sejumlah pengemudi mengaku, skema tersebut membuat penghasilan harian mereka tergerus, sehingga harus menambah jam kerja demi menutup kebutuhan keluarga.

Salah satu pengemudi ojol, Johan (48), mengatakan promo hemat yang diberikan kepada pelanggan sangat memengaruhi pendapatan driver.

Baca juga: Ini Layanan yang Bikin Ojol Demo di Kantor Grab hingga Ricuh

"Padahal sistem ini sebenarnya baru dari pertengahan atau akhir 2025 lalu, tapi sangat terasa dampaknya ke pemasukan. Karena uang yang masuk ke kami kan dipotong untuk masuk ke perusahaan platform," ujar Johan saat dijumpai di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Senin (2/2/2026).

Menurut Johan, sebelum kebijakan tersebut diterapkan, program layanan berbayar tidak dikenal di kalangan pengemudi. Saat itu, driver masih bisa meningkatkan pendapatan dengan menjaga performa akun agar mendapat lebih banyak order.

Ia menjelaskan, potongan pendapatan masih terasa ringan jika penumpang hanya menggunakan satu promo hemat. Namun, pemotongan menjadi signifikan ketika promo tersebut digabung dengan program lain.

Sebagai contoh, Johan menyebutkan, potongan sebesar Rp 20.000 dapat dikenakan kepada driver yang telah mengantar lebih dari 10 pelanggan dengan promo hemat.

Selain itu, agar tetap memperoleh order, driver juga didorong mengikuti program lain yang dibuka dalam beberapa sesi dengan durasi tertentu.

"Kalau kami main ikut satu program, per satu sesi kita ikut, Rp 2.000 juga potongannya. Dua jam, dari jam sekian ke jam sekian. Kalau kami ikut sampai sore ada tujuh [sesi], maka dikali Rp 2.000, Rp 14.000," ungkap Johan.

"Dengan Rp 20.000 tadi itu, itu seluruhnya pemasukan bisa terpotong Rp 34.000. Itu besar. Sebelumnya tidak ada pemotongan karena belum ada program layanan berbayar," lanjutnya.

Baca juga: Ricuh di Depan Kantor Grab dan Jeritan Ojol Soal Layanan Berbayar

Akibat pemotongan pendapatan tersebut, Johan mengaku terpaksa menambah jam kerja hingga malam hari untuk menutup kebutuhan sehari-hari.

Semula, ayah dua anak ini biasa bekerja dari pukul 06.00 WIB hingga 18.00 WIB. Kini, ia memperpanjang waktu bekerja hingga pukul 21.00 WIB.

"Sekarang saya narik sampai jam 21.00 WIB. Ya supaya bisa narik minimal 20 penumpang dan antar makanan. Biar bisa di atas Rp 100.000. Biar bisa bawa pulang bersih Rp 100.000," ungkap Johan.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Ia menambahkan, meskipun program dari aplikator disebut bertujuan memudahkan driver mendapat order, persaingan di lapangan justru semakin ketat, baik antar-driver dalam satu platform maupun lintas aplikator.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Presiden Prabowo Bahas Pemberantasan TBC dengan Wamenkes, Jadi Prioritas Nasional
• 15 jam lalutvrinews.com
thumb
[FULL] Taklimat Prabowo di Rakornas Pusat & Daerah: Bicara Transformasi Bangsa hingga Situasi Dunia
• 17 jam lalukompas.tv
thumb
Kesampingkan Ego Perpanjang Kontrak, Mauricio Souza Pilih Fokus Pimpin Persija
• 14 jam lalutvonenews.com
thumb
Sandang Status Persero, BSI Bisa Lebih Lincah Dorong Ekonomi Syariah
• 3 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Politik Uang di Era Digitalisasi Transaksi Keuangan: Tantangan Sistemis dan Solusi Komprehensif untuk Pemilu yang Adil di Indonesia
• 7 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.