Krisis Epistemik dan Matinya Budaya Riset di Kalangan Mahasiswa

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Pertama kali mendengar kata mahasiswa, sebagai pemangku privilege yang mampu duduk di bangku pendidikan tinggi, jujur saja mengandung sebuah kebanggaan di balik makna kata tersebut. Bagaimana tidak, setiap tahunnya, pada fase pertama ujian seleksi ketika hasil pengumumannya keluar, tidak sedikit dari mereka yang menghaturkan ekspresi yang dramatis dan rasa syukur atas takdir baik yang menyertai mereka, dan mungkin disertai oleh jerih payah mereka selama 3 tahun lamanya.

Beberapa bulan kemudian, mereka mulai menjalani fase perkuliahan, dan seiring berjalannya waktu, sensasi euforia itu perlahan lenyap tak bersisa, namun meninggalkan artefak artefak beban ekspektasi dan kompetensi akademis yang harus dipinggul hingga lulus. Menuju semester tua, mahasiswa sudah mulai merasa stres dengan tugas yang bertumpuk tiada henti, dan sampailah pada suatu proporsi yang paradoks, yaitu matinya esensi atau hakikat dari mengkritisi dan berdialog secara akademis, tak lain tak bukan, adalah soal riset.

Kebenaran faktual sering kali terkubur di bawah riuh rendah opini tanpa dasar yang mendominasi ruang diskusi kita hari ini, terutama di era Eco Chamber sosial media, sehingga menciptakan ilusi bahwa kenyataan dapat dibentuk hanya melalui perdebatan verbal semata. Sebagai seorang pelajar yang berprinsip bahwa validitas intelektual harus berakar pada data objektif dan analisis empirik, cukup terasa munculnya keresahan mendalam melihat fenomena rekan-rekan mahasiswa yang perlahan kehilangan gairah terhadap penulisan akademik yang bagi mereka ketat dan terlalu metodologis.

Penulisan ilmiah sejatinya merupakan manifestasi tertinggi dari kemampuan berpikir kritis karena aktivitas ini menuntut penulisnya untuk tidak hanya melontarkan gagasan tetapi juga mengujinya melalui kerangka pembuktian yang sistematis. Sayangnya lanskap pendidikan tinggi kita saat ini memperlihatkan kecenderungan yang mengkhawatirkan ketika aktivitas menulis ilmiah dianggap sebagai beban administratif belaka.

Penurunan kualitas ini bermula dari kesalahpahaman mendasar mengenai hakikat menulis itu sendiri yang sering kali direduksi hanya sebagai aktivitas teknis menyusun kata-kata, padahal sesungguhnya menulis merupakan produk dari aktivitas mental dan kognitif yang rumit. Para peneliti menegaskan bahwa penulisan akademik mencakup proses kompleks yang mengintegrasikan aktivitas kognitif serta mental karena menuntut mahasiswa untuk mengelola ide dan berpikir kritis guna mengembangkan skill ketatabahasaan yang tepat.

Ketika mahasiswa gagal melihat tulisan sebagai cerminan dari ketajaman berpikir maka mereka akan kesulitan untuk menyusun argumen yang logis dan koheren dalam karya mereka. Situasi ini diperparah oleh fakta bahwa menulis karya ilmiah menuntut kemampuan parafrase dan ringkasan yang mumpuni agar penulis dapat menyuarakan pendapatnya sendiri berdasarkan pemahaman atas ide orang lain.

Hambatan pertama bersifat internal menjadi salah satu akar masalah utama yang membuat mahasiswa enggan terlibat mendalam dalam proses penelitian yang serius. Banyak mahasiswa mengalami kendala berupa motivasi yang rendah dan rasa kurang percaya diri. Perasaan tertekan dan kurangnya pengetahuan memadai sering kali memicu kecemasan berlebih saat mereka dihadapkan pada tugas-tugas penulisan yang menuntut standar tinggi. Akibatnya alih-alih tertantang untuk menggali literatur dan data, mahasiswa justru merasa terancam oleh tugas penulisan akademik dan memandangnya sebagai momok yang harus dihindari sebisa mungkin.

Faktor eksternal berupa desakan budaya instan dan keterbatasan waktu turut memperburuk situasi ini karena mahasiswa modern hidup dalam ekosistem yang menuntut kecepatan di atas kedalaman. Sekarang ini kita berada di era post-truth, yaitu fenomena di mana fakta objektif sudah mulai tersingkirkan lalu digantikan oleh opini publik yang emosional serta menggiring konsensus demi menciptakan Eco-Chamber tadi.

Tujuannya adalah polarisasi dan penumpukan informasi yang seragam. Kondisi ini yang membunuh nalar kritis mahasiswa dalam mengembangkan hipotesis berbasis pada teori sebagaimana yang dibakukan pada pedoman ilmiah. Akibatnya mereka juga terjebak dalam siklus saring ulang informasi, katakanlah seperti budaya copas, kian marak belakangan ini karena hadirnya AI.

Survei menunjukkan bahwa hambatan terbesar yang dialami mahasiswa adalah menulis kalimat yang mengikuti urutan logis karena mereka kesulitan menyusun kalimat topik yang baik serta kalimat pendukung yang relevan. Kelemahan dalam aspek kohesi dan penggunaan penanda logika ini menandakan bahwa mahasiswa kehilangan kemampuan untuk merajut ide-ide yang tersebar menjadi satu kesatuan ide yang padu. Masalah ini semakin pelik karena adanya kesenjangan persepsi antara dosen dan mahasiswa mengenai apa yang sebenarnya dimaksud dengan tulisan akademik yang baik.

Berbicara tentang subjektivitas dosen, penulis sendiri sebenarnya merasakan dan fenomena ini cukup genting karena jika jarak epistemik antara dosen dan mahasiswa melebar, yang artinya masih sering ditemukan pula budaya feodalisme di kampus-kampus, sentimen tegang tersebut justru akan mengotori integritas dan validitas dalam penelitian ilmiah, karena percekcokan yang timbul hanya berskala pada perbedaan sudut pandang.

Contoh yang sering jadi problematik adalah tentang takaran jumlah kata, struktur yang terlalu kaku pada bagian pendahuluan, relevansi dan signifikansi yang tidak menjumpai titik tengah (bagi mahasiswa penelitian tersebut relevan namun bagi dosen tidak, dan dosen tidak memberi jawaban yang "bisa" di mengerti dan dengan entengnya meminta mengganti korpus).

Kita harus segera menyadari bahwa mengembalikan kejayaan tradisi intelektual di kampus tidak dapat dilakukan tanpa merevitalisasi komitmen mahasiswa terhadap penulisan akademik yang berbasis riset. Solusi untuk mengatasi degradasi ini harus melibatkan pendekatan yang menyeluruh mulai dari pelatihan strategi menulis bagi dosen hingga pemberian umpan balik yang spesifik dan konstruktif kepada mahasiswa mengenai kekuatan dan kelemahan tulisan mereka,. Mahasiswa perlu didorong untuk terus berlatih menulis dan membaca literatur akademik secara persisten agar mereka dapat mengekspresikan diri dengan berbagai cara yang berlandaskan data.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Purbaya: Proyek Ubah Sampah Jadi Energi di 34 Kota Dibiayai APBN dan Danantara
• 15 jam lalukatadata.co.id
thumb
Whip Pink Demi Euforia Sesaat, Bagaimana Bisa Timbulkan Kematian?
• 9 jam lalukatadata.co.id
thumb
Habis HP Giliran Laptop Ditinggal 2026, Penggantinya Sudah Ada
• 21 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Ramalan Zodiak Minggu Ini: Hubungan, Karier, dan Keuangan di 2 - 8 Februari 2026
• 22 jam lalubeautynesia.id
thumb
Terungkap Alasan Pandji Pragiwaksono Pilih Mens Rea Tayang di Netflix, meski Ujung-ujungnya Tuai Kontroversi
• 3 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.