Baru-baru ini harga emas dan perak global mengalami kejatuhan tajam secara mendadak. Harga emas turun sekitar 80 dolar AS, sementara perak anjlok sekitar 35 dolar AS, keduanya mencatat penurunan harian terbesar dalam sejarah. Banyak spekulan yang sebelumnya bertaruh bahwa harga emas dan perak akan terus melonjak langsung terkejut dan merugi besar; bahkan para analis keuangan pun tak lagi bisa “tenang”, ramai-ramai mengeluarkan analisis dan peringatan.
EtIndonesia. Sekitar pukul 03.00 dini hari waktu Beijing pada 31 Januari 2026, harga perak lebih dulu mengalami “flash crash”, jatuh lurus dari level tinggi 110 dolar AS per ons hingga menyentuh titik terendah 75,38 dolar AS, dengan penurunan mencapai 34,67%.
Tak lama kemudian, emas yang dijuluki “raja aset lindung nilai” ikut runtuh. Harga emas merosot dari kisaran 5.500 dolar AS per ons hingga kembali ke 4.709 dolar AS, turun lebih dari 12%. Penurunan harian emas dan perak sama-sama mencetak rekor terburuk sepanjang sejarah.
Badai ini datang begitu tiba-tiba tanpa tanda-tanda sebelumnya. Bahkan ada investor Tiongkok yang baru saja memamerkan di media sosial, “harga perak tembus 100, untung lagi”, namun hanya beberapa jam kemudian langsung kena margin call dan bangkrut, bukan hanya kehilangan seluruh modal, tetapi juga terlilit utang besar akibat penggunaan leverage.
Kalangan industri keuangan secara umum menilai bahwa pencalonan Kevin Warsh—mantan gubernur Federal Reserve—oleh Presiden AS Donald Trump sebagai Ketua The Fed berikutnya, menjadi pemicu langsung kejatuhan harga emas dan perak kali ini.
Kevin Warsh dikenal luas di dunia keuangan sebagai tokoh “hawkish”, yang kerap secara terbuka mengkritik kebijakan pelonggaran moneter berlebihan The Fed. Karena itu, pencalonannya sebagai Ketua The Fed merupakan pukulan telak bagi ekspektasi pasar sebelumnya yang memperkirakan The Fed akan menurunkan suku bunga dan membiarkan dolar AS terus melemah.
Akibatnya, setelah kabar pencalonan Kevin Warsh diumumkan, indeks dolar AS langsung menguat tajam di pasar Eropa dan Amerika, sementara harga emas dan perak—yang dihitung dalam dolar AS—langsung mengalami kejatuhan seperti longsoran salju.
Selain itu, konsensus lain di kalangan pelaku pasar menyebutkan bahwa sentimen spekulatif di pasar logam mulia sepanjang Januari tahun ini sangat berlebihan. Aktivitas spekulasi dengan leverage telah mendorong harga emas dan perak jauh menyimpang dari fundamentalnya, sehingga ketika koreksi terjadi, dampaknya menjadi sangat brutal.
Akun media keuangan Tiongkok “Jinshi Xianweijing” (Mikroskop Pasar Emas) pada 31 Januari menulis komentar bahwa kejatuhan harga emas dan perak kali ini bukan sekadar penyesuaian ekspektasi, melainkan keruntuhan total strategi perdagangan yang dibangun di atas dua logika inti: “kebijakan moneter longgar” dan “pelemahan dolar AS”.
Setelah perubahan ekspektasi kebijakan memicu sumbu ledakan, tumpukan leverage yang menggunung dan likuiditas pasar yang sangat rapuh membuat ledakan ini menjadi sangat menghancurkan.
Artikel tersebut menganalisis bahwa sebelum kejatuhan, pasar logam mulia telah memasuki fase spekulasi yang sangat ekstrem. Sejumlah besar investor ritel dan institusi berbondong-bondong masuk ke pasar melalui kontrak berjangka, opsi, dan berbagai produk derivatif dengan leverage tinggi. Akibatnya, indeks kekuatan relatif (RSI) emas dan perak sempat menembus level 90, yang merupakan sinyal “overbought ekstrem tingkat buku teks.”
Menjelang kejatuhan harga, Bursa Perdagangan Chicago (CME) menaikkan persyaratan margin untuk kontrak berjangka perak, yang menjadi jerami terakhir bagi banyak trader berleverage tinggi.
Ditambah lagi, peristiwa ini terjadi tepat pada waktu pasar London sudah tutup dan pasar Asia baru mulai aktif, yaitu periode dengan likuiditas paling tipis. Setelah level harga kunci ditembus, sistem perdagangan algoritmik otomatis memicu gelombang besar perintah jual, melipatgandakan besarnya penurunan dalam waktu singkat dan membentuk “spiral kematian” klasik di pasar.
Artikel tersebut juga menegaskan bahwa logika jangka panjang yang mendorong kenaikan emas dan perak—seperti pembelian emas oleh bank sentral berbagai negara serta risiko geopolitik—sebenarnya belum berubah. Namun, ketika media sosial dipenuhi narasi fanatik seperti “menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah” dan investor ritel beramai-ramai “naik kereta”, pasar sejatinya sudah sarat dengan gelembung spekulatif yang ditiup oleh leverage dan algoritma.
Di bagian akhir, artikel itu mempertanyakan: ketika atribut finansial emas dan perak dipermainkan dan dieksploitasi oleh modal hingga sedemikian ekstrem, seberapa jauh nilai asli mereka sebagai “aset nilai lindung” masih mampu menopang harga? Saat ekspektasi likuiditas kembali berbalik dan arus modal besar datang lagi, apakah yang dilihat orang awam adalah peluang—atau jebakan lain yang telah dirancang dengan cermat?
Laporan komprehensif oleh reporter He Yating / Editor PLin Qing




