Area Kota Tua tepatnya di Jalan Nelayan Timur, Jakarta Barat, dipakai sebagai salah satu latar syuting film 'Extraction: Tygo' yang dibintangi Lisa Blackpink.
Proses syuting ini berimbas kepada terhentinya aktivitas warga sekitar karena seluruh area Kota Tua disterilkan atau ditutup selama dipakai untuk syuting.
Salah satu yang terhenti adalah aktivitas pedagang sekitar. Seorang pedagang kue di Jalan Nelayan Timur, Wiwi (60), mengaku berhenti berdagang sejak Minggu (1/2).
"Mulai enggak dagang udah tiga hari ini sih saya. Minggu, Senin, sekarang Selasa," kata Wiwi kepada kumparan di lokasi, Selasa (3/2).
"Banyak pedagang mah (yang berhenti berdagang). Tukang sayuran, tukang kue, banyak. Tukang ikan, ayam," tambahnya.
Wiwi mengatakan, aktivitas perdagangan dihentikan hingga 7 Februari mendatang. Informasi tersebut ia terima dari Ketua RT 6 yang menunjukkan surat keterangan dari Kelurahan Pinangsia.
"Dari RT dikasih tahu sambil ditunjukin suratnya dari kelurahan," ungkap Wiwi.
Wiwi dan pedagang lain akan dapat kompensasi dari pihak film. Namun ia belum tahu jumlahnya berapa. Uang kompensasi itu baru mereka terima setelah syuting selesai.
"Uang (bentuk kompensasinya). Belum dikasih. Memang uang itu sudah ada, cuma belum dikasih. Karena kan (saya) belum jualan. Begitu bilamana sudah jualan, nanti dibagikan," tutur Wiwi.
Wiwi mengaku senang atas proses syuting yang dilaksanakan di lokasi ini, sebab ia akan mendapatkan uang tanpa perlu berdagang.
"Iyalah, senang. Kecuali saya enggak dapat uang, baru saya enggak senang. Tapi yang enggak dagang ya saya enggak tahu," ucap Wiwi.
Ia pun maklum dengan penutupan tersebut. Seperti halnya yang disampaikan Lina (52), warga setempat.
"Kecuali enggak ada konfirmasi kita boleh marah ya. Kan (ini) udah dibilangin. Di media, udah TV, udah di itu, ya udah terima aja," kata Lina.
Warga Dilarang Motret
Para warga terlihat bergerombol di pinggir gang untuk menyaksikan proses syuting yang berjalan sambil dijaga petugas. Meski begitu, tidak ada satu pun warga yang berusaha memotret karena dilarang.
Ada beberapa orang warga yang masih nekat memotret. Akhirnya diminta petugas untuk menghapus hasil fotonya.
"Ada banyak dihapus orang lewat. "Sini HP-nya," katanya. 'Buka sekarang' suruh buka depan kita, depan petugasnya. Suruh hapus. 'Hapus itu, ada apa videoin barusan'. Orang ketahuan sih kamera di mana-mana ini. Pohon itu kamera semua," ungkap Lina.
"Itu semua ketahuan siapa yang ngerekam. Jadi kita keluar, kalau bisa enggak usah bawa kamera, digituin. Daripada pusing diteriakin malu lah. Minta aja malu, ya kan? Kita juga punya otaklah. Banyak yang tadi aja ibu-ibu kan kena di situ," tambahnya.
Lina menyatakan, larangan dokumentasi mulai diberlakukan sejak akhir pekan lalu. Hal itu awalnya tidak diketahui warga setempat sehingga ada yang masih memotret.
"Banyak orang lewat, yang ngontrak, yang itu bujang-bujang itu kan namanya orang iseng kali ya. Pikirnya kayak artis kita boleh difoto, mana boleh. Orang di ujung sono enggak keliatan aja suruh hapus. Belum ada artisnya (yang terlihat di lokasi syuting)," ungkap Lina.
Namun setelah disosialisasikan, larangan memotret selama proses syuting akhirnya dipatuhi warga.
"Ya udah dibilangin ya udah, masa enggak nurut sih sekali ngomong. Ya udah kita mah ngapain. Jangan foto, jangan video, gitu ya," tutur Lina menirukan ucapan petugas keamanan yang berjaga di lokasi pengambilan gambar.




/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fphoto%2Fori%2F2026%2F02%2F02%2Ffaf08d34-749b-42f6-9e14-f954ad9e056c.jpg)