Bunga bangkai raksasa yang tengah mekar ditemukan di sebuah hutan di Salareh Aia, di Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Penampakan bunga raksasa tersebut dibagikan di akun Instagram Pagari (Patroli Anak Nagari) Salareh Aia.
Menurut tim Pagari Salareh Aia yang dibentuk oleh BKSDA Sumatera Barat, bunga bangkai berjenis Amorphophallus titanum itu ditemukan pada 15 Januari 2026.
Video yang diposting memperlihatkan bunga raksasa tumbuh dengan spadix menjulang tinggi berwarna kuning berukuran melebihi orang dewasa. Seludang bunga (spathe) bagian luar berwarna hijau krem kekuningan, sementara bagian dalamnya berwarna merah marun gelap dengan tekstur berlekuk.
A. titanum merupakan tanaman asli Indonesia, endemik dari Sumatera. Tanaman ini pertama kali ditemukan oleh Odoardo Beccari, botani asal Italia, di pulau Sumatera, Indonesia pada 1878.
A. titanum tidaklah sama dengan Rafflesia (bunga padma). Bunga bangkai termasuk suku talas-talasan (Araceae) sehingga memiliki umbi. Sedangkan Rafflesia merupakan tumbuhan parasit dengan pohon inang Tetrastigma.
Umbi A. titanum memiliki ukuran raksasa yang bobotnya bisa mencapai 117 kilogram. Fase daun dan fase bunga dari bunga bangkai ini tidak bersamaan.
Umbinya bermanfaat karena kandungan glucomannan-nya. Glucomannan memiliki kegunaan sebagai zat pengental, jelly yang kaya serat (dietary fibers) dan untuk antikolesterol (dietary supplements), penetralisir kadar gula darah, kesehatan pencernaan, penyerapan zat beracun dalam pencernaan, dan agen kontrol berat badan.
Bunga bangkai adalah tanaman yang jarang sekali mekar. Mekarnya juga tidak teratur. Bunga biasanya tumbuh setiap 7 hingga 9 tahun sekali. Saat bunga bangkai mekar, mereka akan mengeluarkan bau tidak sedap. Baunya seperti aroma busuk bangkai hewan yang sangat menyengat. Inilah sebabnya tanaman ini diberi nama bunga bangkai.
Mereka mengeluarkan bau menyengat dalam waktu singkat, biasanya pada malam pertama saat tanaman betina mekar. Menjelang akhir malam pertama, spathe akan sedikit menutup. Malam kedua, bunga jantan mekar menghasilkan banyak serbuk sari kuning. Pada hari kedua, bunganya menutup sepenuhnya dan tetap berdiri selama sekitar satu hari. Setelah itu, tangkainya mulai roboh.
Molekul volatil yang dikeluarkan selama bunga betina mekar meliputi dimetil disulfida (bau seperti bawang putih), dimetil trisulfida (bau busuk), metil tioasetat (bau belerang), dan asam isovalerat (bau keju dan keringat). Bau ini bermanfaat buat tanaman liar lain karena membantu hewan penyerbuk datang.
Tumbuhan ini begitu populer di masyarakat karena memiliki perbungaan yang sangat besar, membuatnya dijuluki sebagai tumbuhan dengan bunga terbesar di dunia. Bunga bangkai termasuk dalam kategori tanaman langka berdasarkan klasifikasi dari International Union for Conservation of Nature (IUCN) dan keberadaannya dilindungi dengan Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999.




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5490837/original/053594400_1770026647-WhatsApp_Image_2026-02-02_at_4.37.58_PM.jpeg)