Rebutan Balung Tanpa Isi: Saat "Peace Plan" Trump Menyudutkan Non-Blok

kumparan.com
6 jam lalu
Cover Berita

Peribahasa Jawa "rebutan balung tanpa isi" menggambarkan pertengkaran atas sesuatu yang sejatinya telah kehilangan makna. Ungkapan ini terasa relevan untuk membaca kegaduhan global seputar "Peace Plan Donald Trump" terkait Palestina-Israel.

Panggung global diisi dengan pernyataan moral, kecaman, dan debat hukum. Sedangkan keputusan nyata telah diambil secara sepihak. Yang tersisa bagi banyak negara, termasuk Indonesia, hanyalah ruang simbolik—balung (tulang) yang sarinya sudah dihisap.

Menguji Tatanan Dunia

Bagi Indonesia, isu Palestina bukan semata solidaritas kemanusiaan, historis, atau keagamaan. Ini bagian dari DNA politik luar negeri Indonesia sejak peristiwa Pernyataan Kemerdekaan Indonesia dan Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955, yakni penolakan terhadap kolonialisme, aneksasi, dan kekuasaan sepihak. Konferensi ini bersikap tegas:

Sikap ini pada 17 tahun kemudian mengganggu orang-orang terkaya di dunia. PBB yang diisi oleh negara-negara baru merdeka telah mengganggu kenyamanan kita, ujar mereka.

Maka, mereka melahirkan lembaga internasional non formal Tri Lateral Commission. Toh "gangguan" pada mereka terus meningkat. Dedolarisasi adalah wujud nyata gangguan yang berubah menjadi peperangan, disebabkan watak dan perilaku mereka sendiri.

Sebelumnya, mereka membuat berbagai desain agar penindasan—terbuka atau tertutup, kasar atau halus—terus berlangsung. Hegemoni dipertahankan. Namun, perlawanan juga terus berlangsung. Berbagai isu, tema, dan agenda yang mereka luncurkan tidak membuahkan hasil yang menentramkan kekayaan dan kejayaan mereka.

Isu "Build Back Better World" tenggelam karena polarisasi internal mereka. "Make America Great Again". Supremasi kulit putih dipompakan. Tekad menjaga AS sebagai pengendali tunggal tata dunia harus terus berkesinambungan.

Trump memang menjanjikan AS lebih kuat dari sebelumnya. National Security Strategy of the United States of America Nov 2025 menyatakan:

Siapa melawan, singkirkan. Ini titik fokus masalahnya.

Karenanya, kritik terhadap "Peace Plan Trump" seharusnya dibaca bukan hanya soal pembelaan Palestina. Menyoal, mengkritik, dan bahkan menolak rencana itu patut dan layak diproporsikan sebagai pembelaan terhadap prinsip dasar tata dunia yang adil dan beradab dalam berbagai gatra kehidupan.

Masalah utama rencana tersebut bukan hanya terletak pada detail teknisnya, melainkan juga pada watak kekuasaan di baliknya. Watak kekuasaan yang dimaksud yaitu menuhankan kebendaan, ketidakjujuran, keserakahan, dan keangkuhan yang amat sangat. Isi dokumen itu bukan hasil perundingan multilateral, melainkan deklarasi sepihak.

Hukum internasional, seperti resolusi PBB, prinsip self-determination, hingga konsensus global, justru dipinggirkan. Yang bekerja adalah (kehendak) satu figur personal. Di sini tak terelakkan hadir citra "I am the law"—"I am the King" dalam rangka menata "kedamaian" dunia berbasis kekuatan.

Dari Rule-Based Order ke Rule-by-Power

Sejak tema "Build Back Better World" diluncurkan POTUS Joe Biden, panggung pergaulan internasional digiring untuk memahami dan menerima pentingnya AS dalam memiliki kekuatan atas percaturan global. Bahkan sejak menduduki Irak dan menghukum Saddam Husein serta Pemimpin Libya, Kadhafi, dunia mendapat pesan keinginan dan kekuatan AS adalah kebenaran.

Maka, hukum internasional sekadar etalase kesepakatan global, sementara dalam rencana perdamaian Trump, tampilan kekuasaan internasional lebih vulgar lagi. Moral dan kesepakatan global tidak lagi dijalankan melalui negara dan institusi, tetapi melalui personifikasi otoritas. Bukan America proposes, melainkan Trump decides. Hal ini menandai pergeseran dari rule-based order menuju rule-by-power.

Bagi Indonesia dan jajaran Global South, pergeseran ini bukan isu abstrak. Jika hukum internasional dapat dinegosiasikan ulang oleh satu pemimpin kuat demi kepentingan sekutunya, semua negara berkembang berada dalam posisi rawan. Contoh retorikanya: hari ini Palestina, besok siapa?

Itulah sebabnya kecaman global meluas, bukan tentang dunia menolak perdamaian, melainkan tentang menolak damai yang didefinisikan secara sepihak oleh kekuasaan—suatu konsep damai yang dirujuk pada kekuatan dan penindasan.

Raja Tanpa Mahkota, Arsitek Tanpa Nama

Meskipun tampil dominan, Trump bukanlah perancang utama skenario tersebut. Ia tak lebih sebagai eksekutor agenda geopolitik Israel di bawah Benjamin Netanyahu. Israel membutuhkan legitimasi internasional atas aneksasi de facto dan penguburan solusi dua negara. Trump menyediakan panggung dan otoritas personal untuk mengeksekusinya.

Relasi ini bersifat simbiotik. Trump memperoleh citra pemimpin kuat dan deal-maker, bahkan ke peace maker, sebagaimana dipergelarkan pada 10 Oktober 2025 di Mesir. Sementara itu, Netanyahu mendapatkan apa yang tak akan pernah bisa diraih melalui PBB. Trump tampil sebagai raja, tetapi mahkota, tata kuasa, dan peta ruangnya diputuskan Netanyahu serta gerombolannya.

Bagi Indonesia, fakta ini penting. Konflik Palestina bukan lagi sekadar konflik regional, melainkan juga sebuah contoh bagaimana kekuasaan sepihak dilegalkan melalui figur personal di negara adidaya.

Implikasi Langsung bagi Indonesia

Indonesia sering menyerukan penghormatan terhadap hukum internasional, multilateralisme, dan solusi dua negara. Akan tetapi, pro kontra solusi dua negara terus hidup berkembang dan membangun kesadaran. Ini karena solusi itu berlawanan dengan Pembukaan UUD 1945.

Namun, "Peace Plan Trump" menunjukkan bahwa seruan moral tanpa daya struktural mudah diabaikan. Inilah dilema klasik Global South. Suara ada, tetapi mekanisme pemaksa tidak punya. Jika preseden ini diterima, aneksasi dapat dibungkus sebagai “inisiatif damai”, pelanggaran hukum internasional dapat dinormalisasi, dan negara kuat tidak lagi membutuhkan legitimasi global.

Dalam situasi seperti ini, politik luar negeri bebas-aktif Indonesia diuji—dan tetap relevan. Apakah cukup dengan pernyataan sikap, atau perlu strategi yang lebih kolektif bersama Global South untuk mempertahankan multilateralisme yang semakin rapuh?

Imperialisme Tanpa Koloni

Kini, kita menyaksikan imperialisme abad ke-21, bukan imperialisme klasik dengan pendudukan formal. Suatu neo-imperialisme dengan varian kekinian. Tanpa koloni, tanpa deklarasi perang—cukup peta, piagam, veto, dan satu figur kuat. Dalam konfigurasi ini, Amerika Serikat (AS) berfungsi sebagai medium kekuasaan. sedangkan Israel menjadi pengarah strategis. Trump hanya mempercepat dan memperjelas mekanisme. Bedanya, kini tanpa topeng moral.

Balung Kosong dan Tantangan Indonesia

Bagi banyak negara non-kekuatan besar, termasuk Indonesia, perdebatan global hari ini menyerupai "asu rebutan balung"; saling menggonggong atas nama hukum dan moral, sedangkan substansi kekuasaannya telah dikunci oleh segelintir aktor. Yang diperebutkan hanyalah legitimasi simbolik. "Itulah fatamorgana geopolitik". Citra palsu dan busuk dari kekuasaan yang mengabdi pada kebendaan.

Justru di sinilah tantangannya. Jika Indonesia dan Global South berhenti bersuara, hukum internasional benar-benar berubah menjadi ornamen. Dunia bukan menolak perdamaian. Dunia—dan Indonesia—menolak damai yang ditentukan oleh raja tanpa mahkota, "raja durjana"—seorang raja yang memutuskan hukum yang dipilih sesuai selera dan kehendak dirinya, selama sesuai dengan desain arsitekturnya.

Jika "rebutan balung" tanpa isi terus dibiarkan, secara filosofis identik menggiring para pimpinan (terutama pemimpin Global South) terjebak dalam ambisi kosong yang hanya membawa kehancuran. Namun yakinlah, hidup berpijak pada keseimbangan. Perusak keseimbangan dunia pasti merasakan akibatnya. Dan isi balung pasti memberi makna.

Maka dari itu, non-blok justru bukan citra kemanusiaan beradab, melainkan sebuah cita. Non-blok adalah cita keadilan dunia dalam kesejahteraan bersama. No state left behind.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pramono Pastikan Pompa Daan Mogot Berfungsi Optimal Redam Genangan
• 7 jam lalutvrinews.com
thumb
Video: Perkuat Modal, BPR Syariah Siap Ekspansi Kredit ke UMKM-Sekolah
• 2 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Tragis! Siswa SD Gantung Diri di Ngada NTT, Tinggalkan Surat Pilu untuk Sang Ibu
• 3 jam lalurctiplus.com
thumb
KP2MI Gaet UI-2 Pemkot, Bangun Ekosistem Tenaga Kerja Berdaya Saing Global
• 23 jam laludetik.com
thumb
Ingin Jadi Diplomat? Dubes Rusia Ajak Pelajar Indonesia Kuliah di MGIMO lewat Jalur Beasiswa
• 12 jam lalumatamata.com
Berhasil disimpan.