Melihat Fenomena Sinkhole di Beberapa Negara dan Apa yang Dapat Dilakukan

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Fenomena sinkhole—lubang besar yang tiba-tiba muncul di permukaan tanah—belakangan ini semakin sering dilaporkan di berbagai daerah Indonesia, terutama setelah hujan ekstrem dan kondisi geologi tertentu.

Fenomena ini menjadi perhatian ilmuwan dan masyarakat karena dampak keselamatan, infrastruktur, dan lingkungan yang ditimbulkannya.

Fenomena Sinkhole Terbaru di Indonesia

Awal Januari 2026, sebuah sinkhole besar muncul di persawahan Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Lokasi ini menunjukkan lubang dengan diameter lebih dari 10 meter dan kedalaman diperkirakan mencapai 15 meter yang terbentuk secara tiba-tiba. (Kompas)

Keberadaan sinkhole ini kemudian menjadi fokus kajian tim ahli geologi dari Kementerian ESDM, terutama dari Badan Geologi Bandung guna mencari penyebabnya yang terkait dengan karakteristik tanah dan kondisi bawah permukaan.

Dirangkum oleh Jurnas.com, fenomena serupa pernah terjadi sebelumnya di wilayah lain di Indonesia, seperti Maros (2019), Sukabumi (2019), Gianyar (2023), dan Blitar (2024). Data tersebut menunjukkan bahwa sinkhole bukan sekadar kejadian tunggal, melainkan juga bagian dari pola fenomena geologi regional yang perlu diteliti lebih jauh.

Sedangkan, sesuai yang disampaikan oleh Plt Badan Geologi ESDM Lana Saria, fenomena lubang besar di Pondok Balik, Aceh Tengah tidak dapat sepenuhnya disebut sebagai sinkhole, mengingat perbedaan material yang terkandung di dalam tanah serta mekanisme pembentukan lubang yang berbeda. (Detik)

Penyebab dan Faktor Geologi

Dijelaskan di situs iflscience.com, sinkhole umumnya terbentuk ketika air—baik dari curah hujan tinggi maupun drainase permukaan—melarutkan lapisan batuan kapur atau batuan larut lainnya hingga menciptakan rongga bawah tanah yang besar. Ketika lapisan atas tak lagi mampu menopang, tanah akan amblas dan membentuk lubang.

Faktor prakiraan cuaca ekstrem, saturasi tanah, dan karakteristik geologi lokal sering meningkatkan risiko kejadian ini. Selain itu, aktivitas manusia—seperti pembangunan infrastruktur, kebocoran sistem drainase, atau penurunan muka air tanah—juga dapat mempercepat proses terbentuknya rongga bawah tanah yang kemudian runtuh, terutama di kawasan urban.

Menurut Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN—melalui rilis dari Detik—curah hujan ekstrem yang dipicu Siklon Senyar beberapa waktu lalu turut mempercepat proses pelarutan batuan di bawah tanah, terutama pada kawasan berlapis batu kapur (karst), yang menjadi faktor penting terbentuknya rongga bawah tanah sebelum akhirnya runtuh.

Perbandingan dengan Fenomena Internasional

Di tingkat global, sinkhole juga terjadi di banyak negara dengan dampak dan skala yang bervariasi, seperti di Bangkok, Thailand, dimana pada September 2025. Reuters memberitakan bahwa sebuah sinkhole besar muncul di tengah jalan Samsen Road dengan lebar sekitar 30 meter dan kedalaman sekitar 50 meter, menyebabkan kerusakan infrastruktur dan evakuasi bangunan sekitar meskipun tak ada korban luka dilaporkan.

Hal yang sama terjadi di Kuala Lumpur, Malaysia pada 2024 di mana sebuah sinkhole sekitar 8 meter dilaporkan muncul di Jalan Masjid India, seperti yang diberitakan oleh Channel News Asia, muncul akibat kerusakan sistem pembuangan dan kondisi tanah sekitar.

Contoh lain yakni Xiaozhai Tiankeng, China—yang dikenal sebagai salah satu sinkhole terdalam di dunia—membentang lebih dari 600 meter secara vertikal di Chongqing dan terbentuk oleh proses karst alami jutaan selama jutaan tahun, yang saat ini menjadi tujuan wisata yang populer.

Kemudian, contoh fenomena lainnya di dunia—termasuk cenotes di Meksiko, atau Hranice Abyss di Republik Ceko—menunjukkan variasi sinkhole dari yang membahayakan di wilayah perkotaan, hingga yang terjadi di kawasan dengan kepadatan penduduk rendah.

Fenomena sinkhole juga terjadi di Jepang, yang dikenal sebagai negara dengan infrastruktur perkotaan padat dan jaringan pipa bawah tanah yang kompleks. Pada 28 Januari 2025, sebuah sinkhole besar muncul di Kota Yashio, Prefektur Saitama, menelan sebuah truk dan mengakibatkan evakuasi wilayah sekitar.

Ukuran lubang awalnya memiliki lebar 10 meter dengan kedalaman 5 meter. Akan tetapi, kemudian melebar akibat runtuhan selanjutnya. Insiden ini diduga kuat disebabkan oleh pipa pembuangan limbah yang pecah, yang melemahkan tanah di bawah permukaan jalan sehingga runtuh secara tiba-tiba.

Dikutip Kabar 24, pemerintah setempat kemudian menghimbau warga di sekitar prefektur untuk mengurangi penggunaan air, guna mengurangi tekanan pada sistem saluran pembuangan dan memperlambat pendalaman lubang, sementara upaya penanganan berlangsung.

Menurut laporan Kementerian Tanah, Infrastruktur, Transportasi, dan Pariwisata Jepang—seperti diberitakan oleh Japan Times—lebih dari 10.500 sinkhole telah teridentifikasi di seluruh Jepang, banyak di antaranya terkait dengan kerusakan sistem pembuangan lama yang dibangun puluhan tahun lalu, mencerminkan tantangan infrastruktur yang serupa dengan yang dihadapi banyak negara maju.

Hal ini menunjukkan bahwa insiden seperti ini bukan hanya persoalan geologi alami, melainkan juga menggarisbawahi pentingnya pemeliharaan dan modernisasi infrastruktur sebagai bagian dari mitigasi risiko bencana.

Tantangan dan Mitigasi

Dalam mengatasi dan mengurangi dampak sinkhole, beberapa strategi kunci yang—dapat atau bahkan sudah—diadopsi oleh Indonesia dan negara lain, termasuk Jepang, mencakup beberapa hal. Pertama, pemetaan dan survei geologi serta soil testing secara berkala untuk mengidentifikasi area berisiko tinggi, terutama di wilayah karst atau yang memiliki jaringan pipa bawah tanah tua.

Kedua, modernisasi infrastruktur drainase dan pipa, yang dilakukan terutama dengan mengganti pipa pembuangan dan sistem drainase lama yang rawan korosi atau bocor dengan bahan dan teknologi yang lebih tahan lama, seperti yang menjadi fokus Jepang di banyak kota besar. (Nippon.com)

Selain itu, terdapat juga sistem peringatan dini melalui sensor dan sistem pemantauan tanah untuk mendeteksi pergerakan bawah tanah atau kelembapan yang abnormal, sehingga potensi pembentukan rongga dapat diantisipasi sebelum runtuh.

Kemudian, sigap dan evakuasi yang efektif dengan keberadaan rencana darurat terpadu untuk evakuasi, penutupan jalan, dan koordinasi antarinstansi ketika sinkhole terjadi, termasuk pembatasan area berbahaya.

Terakhir, penyuluhan kepada masyarakat dengan cara menyebarkan informasi kepada masyarakat tentang risiko sinkhole, tanda-tanda awal, dan langkah keselamatan yang harus diambil ketika ada kasus di dekat pemukiman atau jalur transportasi.

Sinkhole sering kali menimbulkan disrupsi besar pada infrastruktur transportasi, bangunan, dan lingkungan sekitar, serta menimbulkan potensi risiko keselamatan bagi warga (ANTARA News).

Di Indonesia, munculnya fenomena ini di kawasan pertanian atau dekat pemukiman membutuhkan langkah yang memunculkan kewaspadaan warga dan imbauan untuk tidak mendekat sebelum kajian ilmiah selesai.

Fenomena sinkhole yang muncul secara mendadak di berbagai daerah Indonesia baru-baru ini mencerminkan kombinasi faktor geologi alami dan cuaca ekstrim. Pemantauan yang lebih cermat, mitigasi berbasis data ilmiah, dan penyuluhan terhadap masyarakat di daerah dengan risiko tinggi diharapkan dapat meningkatkan kesiapan dalam menghadapi fenomena sinkhole ini.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
TVRI Perluas Jangkauan untuk Layanan Siaran Piala Dunia 2026
• 9 menit lalutvrinews.com
thumb
[FULL] Saat Iran Siap Ladeni Ajakan Perang AS, Siapa Sekutunya? Begini Analisis Mantan Dubes & Ahli
• 11 jam lalukompas.tv
thumb
Peringatkan Eks Bos-Bos BUMN Dipanggil Kejagung, Prabowo: Lu Jangan Nantang Gue!
• 18 jam lalukompas.tv
thumb
Bursa Transfer BRI Super League: Korban Penyegaran Tim, Giliran Pedro Matos Harus Menepi dari Persik
• 19 jam lalubola.com
thumb
Layvin Kurzawa Jatuh Hati pada Persib dan Bobotoh: Saya Merasa Seperti di Rumah
• 21 jam lalubola.com
Berhasil disimpan.