Pengalaman yang Tak Bisa Dibeli dengan Uang

erabaru.net
7 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Tumbuh dalam keluarga dengan tradisi saling mengalah dan menghargai, setelah kami—para saudara—berumah tangga, masing-masing belajar untuk menerima keadaan, menahan diri, dan diam-diam menopang langit kehidupan kami sendiri.

Ibu pernah berkata dengan nada penuh perasaan: “Anak perempuan semuanya lembut dan berbudi, sementara para menantu perempuan cenderung lebih kuat pendiriannya. Anak-anak laki-laki kebanyakan memilih menyesuaikan diri.”

Bertahun-tahun kemudian, ketika menoleh ke belakang, di antara untung dan rugi, kami menyadari bahwa sebagian besar pilihan yang kami ambil adalah pilihan terbaik.

Suatu musim panas, pengasuh di rumah harus mengambil cuti panjang. Pada suatu siang, ibu mertua saya yang lumpuh mengompol saat tidur. Saya langsung menggendongnya dan mendudukkannya di atas kloset. Saya menarik shower, berniat membersihkannya, namun dia terus-menerus menolak.

Saya segera paham—dia mengira airnya dingin. Saya menyemprotkan air ke lantai di dekat kakinya, memastikan itu air hangat. Barulah dia mengangguk pelan.

Saat itu, saya tersadar: barangkali dia pernah diperlakukan seperti itu sebelumnya—tanpa merasakan kehangatan dan kepedulian.Betapa tak berdayanya seorang lansia. Kesadaran itu menusuk hati saya begitu dalam.

Setelah menidurkannya kembali, saya menangis diam-diam. Entah seberapa besar kepedihan yang dia simpan di dalam hatinya. Sementara itu, kondisi saya sendiri pun tidak mudah— saya sedang sibuk menulis tesis, sekaligus harus merawat bayi kecil.

Belum lagi, suatu ketika suami saya membawa sekelompok keponakan yang datang menjenguk untuk pergi berwisata, lalu meminta saya menyiapkan makan malam untuk semuanya. Saat itu, saya hampir runtuh.

Namun sesungguhnya, posisi suami saya juga tidak ringan. Dia memanfaatkan libur musim panas untuk menulis buku. Siang hari dia bekerja keras di laboratorium penelitian, malam hari pulang ke rumah dan terus menulis. Saat kelelahan, dia rebah di lantai untuk beristirahat. Tengah malam, dia masih harus membantu ibunya ke kamar kecil. Sepanjang musim panas itu, dia hampir tidak pernah tidur di ranjang.

Pemikiran suami saya sangat sederhana: “Kalau harus ada yang tumbang, biarlah satu orang saja.”

Sementara saya sendiri hanya ingin melakukan tugas mengajar dengan sebaik-baiknya. Saya tidak sefanatik suami dalam mengejar dunia akademik.

Akhirnya, saya memilih diam dan menerima peran sebagai “orang yang seharusnya berkorban”.

Namun bertahun-tahun kemudian, ketika merenungkannya kembali, dalam pandangan ajaran Buddha, saya menyadari bahwa ini mungkin adalah pelunasan karma. Dan di saat yang sama, saya menemukan bahwa kelapangan hati saya justru semakin luas. Jika dipikir-pikir, itu ternyata bukan hal buruk—bahkan sebuah anugerah.

Sesungguhnya, ketenteraman batin adalah hal yang paling berharga. Mengapa harus mengerahkan begitu banyak tenaga untuk saling mengukur dan membandingkan— apakah hati benar-benar menjadi lebih lega karenanya?

Sedikit lebih banyak empati, berarti sedikit lebih banyak kebebasan di dalam diri.

Dan pengalaman semacam ini— tak peduli berapa pun harganya, uang tak akan pernah mampu membelinya. Bukankah begitu? (jhn/yn)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pergeseran Tanah di Sumedang Rusak Tiga Rumah Warga, Enam Jiwa Terdampak
• 4 jam lalupantau.com
thumb
Ketua MK Menangis saat Sidang Putusan Terakhir Bersama Arief Hidayat
• 22 jam laluokezone.com
thumb
Pandji Pragiwaksono soal Respons Gibran Rakabuming terkait Materi Mens Rea: Cukup Bijak
• 11 jam lalukompas.tv
thumb
Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini Turun ke Rp2.844.000 per Gram
• 12 jam laluidxchannel.com
thumb
Rano Karno Minta Maaf Perbaikan Jalan Rusak di Jakarta Dicicil
• 5 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.