Longsor di Bantaran Kali Bekasi, Rumah Warga Hanya Tersisa Ruang Tamu

kompas.com
20 jam lalu
Cover Berita

BEKASI, KOMPAS.com – Neneng (46), warga bantaran Kali Bekasi di RT 03/RW 06, Kampung Kompa, Desa Karangsatria, Kecamatan Tambun Utara, Kabupaten Bekasi, masih ingat jelas detik-detik terjadinya longsor yang merusak sedikitnya tujuh rumah di lingkungannya.

Ia menyebut, longsor terjadi dalam dua waktu berbeda, yakni Kamis (29/1/2026) dan Jumat (30/1/2026).

Neneng menuturkan, longsor terjadi saat sebagian warga sedang berada di luar rumah. Kala itu, salah satu warga bernama Hostoba Nairo Aritonang (63) keluar rumah usai mendengar suara gemuruh yang mencurigakan dari arah bantaran kali.

“Pak Aritonang dengar suara pohon mau jatuh. Katanya, ‘pohon nih udah rebah-rebah’. Pas saya lihat ke atas, pohon itu rubuh pelan-pelan, terus longsor ke bawah kena arus,” ujar Neneng saat ditemui Kompas.com di lokasi, Selasa (3/2/2026).

Menurut Neneng, longsor dipicu hujan deras yang mengguyur kawasan tersebut sejak malam sebelumnya. Hujan turun tanpa henti hingga pagi hari, menyebabkan debit air Kali Bekasi meningkat drastis.

“Malamnya hujan deras, enggak berhenti-berhenti sampai pagi. Sorenya memang enggak hujan, tapi cuacanya gelap,” kata dia.

Baca juga: 7 Rumah Rusak akibat Longsor Kali Bekasi, Warga Khawatir Longsor Susulan

Neneng menyebut, salah satu rumah yang mengalami kerusakan paling parah adalah milik keluarga Aritonang. Bagian bangunan berupa kamar, dapur, dan kamar mandi hanyut terbawa derasnya arus kali, menyisakan ruang tamu sebagai satu-satunya bagian rumah yang masih berdiri.

Pantauan Kompas.com di lokasi menunjukkan kondisi rumah Aritonang sangat memprihatinkan. Sebagian atap roboh, rangka kayu terlihat menggantung, sementara tembok utama dipenuhi retakan besar yang membelah dinding dari atas hingga ke lantai.

Lantai keramik di dalam rumah tampak pecah dan menggantung tanpa penyangga. Sejumlah perabot rumah tangga serta pakaian berserakan, bercampur tanah, lumpur, dan sampah kiriman dari aliran Kali Bekasi.

Di sisi belakang rumah, tanah bantaran yang longsor membentuk jurang curam yang langsung berbatasan dengan sungai, memperlihatkan betapa dekatnya rumah warga dengan aliran air yang terus menggerus.

Selain merusak bangunan, longsor juga menggerus tanah di sekitar rumah warga. Neneng memperkirakan, jarak tanah yang amblas mencapai sekitar lima meter ke arah sungai.

“Sekarang yang tersisa tinggal ruang tamu. Dulu jarak rumah ke pinggir kali itu masih sekitar lima meter. Bisa buat menanam. Sekarang sudah enggak ada,” katanya.

Sebagai warga yang lahir dan besar di kawasan tersebut, Neneng mengaku kondisi pascalongsor membuat warga terus dihantui rasa khawatir, terutama saat hujan turun pada malam hari.

“Kalau aktivitas sih normal, tapi kalau hujan lagi, apalagi malam, itu khawatir banget. Was-was enggak bisa nempatin rumah lagi,” ujar Neneng.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Ia mengatakan, keluarga Aritonang kini telah dipindahkan ke rumah kontrakan yang dibiayai oleh pemerintah desa dan kepolisian setempat.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Kanselir Merz Serukan Kemandirian Eropa di Tengah Gejolak Global
• 23 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Zodiak Bakal Menikmati Rezeki Melimpah: Taurus Bahagia, Virgo Fokus
• 14 jam lalugenpi.co
thumb
Isi Surat Memilukan Bocah SD di NTT Nekat Bunuh Diri karena Tak Mampu Beli Buku dan Pena: Mama Saya Pergi Dulu
• 7 jam lalutvonenews.com
thumb
Pesan Megawati untuk Perempuan: Jangan Terjebak Dilema Antara Rumah dan Masyarakat
• 10 jam laludetik.com
thumb
Kasatgas Tito Tinjau Huntara di Aceh Tamiang, Pastikan Pengungsi Hidup Layak
• 1 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.