Perusahaan penerbangan luar angkasa SpaceX mengumumkan telah mengakuisisi startup kecerdasan buatan xAI. Penggabungan kedua perusahaan milik Elon Musk ini untuk menciptakan pusat data alias data center di luar angkasa.
CEO SpaceX sekaligus pendiri xAI Elon Musk dalam memo yang dipublikasikan di situs resmi perusahaan, mengatakan bahwa perkembangan AI saat ini sangat bergantung pada pusat data besar berbasis daratan. Namun infrastruktur ini membutuhkan konsumsi listrik dan sistem pendingin yang sangat besar.
“Permintaan listrik global untuk AI tidak dapat dipenuhi dengan solusi di daratan dalam jangka dekat tanpa memberatkan komunitas dan lingkungan,” tulis Elon Musk dalam memo itu dikutip dari TechCrunch, Selasa (3/2).
Penggabungan SpaceX dan xAI menciptakan entitas gabungan dengan nilai US$ 1,25 triliun atau Rp 20,97 kuadriliun, menurut Bloomberg News, yang pertama kali melaporkan kesepakatan yang telah selesai . SpaceX dilaporkan telah mempersiapkan IPO paling cepat pada Juni. Belum jelas apakah merger ini akan memengaruhi jadwal itu, sedangkan Elon Musk tidak membahas IPO dalam memo.
xAI saat ini merugi sekitar US$ 1 miliar per bulan, menurut Bloomberg. Sementara itu, SpaceX menghasilkan hingga 80% pendapatannya dari peluncuran satelit Starlink miliknya sendiri, menurut Reuters.
Tahun lalu, xAI mengakuisisi X, perusahaan media sosial yang sebelumnya bernama Twitter dan juga dimiliki oleh Elon Musk. Orang terkaya di dunia ini mengklaim valuasi perusahaan gabungan X dan xAI US$ 113 miliar.
Dalam memo itu, Elon Musk menulis bahwa dibutuhkan aliran satelit yang konstan, meskipun ia tidak menyebutkan berapa banyak, untuk menciptakan pusat data berbasis ruang angkasa.
Ia memastikan bahwa SpaceX akan memiliki aliran pendapatan konstan yang lebih besar untuk masa mendatang.
Meskipun pusat data luar angkasa mungkin menjadi tujuan yang dinyatakan, SpaceX dan xAI memiliki tujuan jangka pendek yang sangat berbeda.
SpaceX saat ini tengah menguji roket Starship untuk misi membawa astronot ke Bulan dan Mars. Sementara itu, xAI bersaing dengan perusahaan-perusahaan AI besar seperti Google dan OpenAI.


