Ramalan Kinerja BNI (BBNI) Masih Tertekan 2026, Ini Kata Pengamat

bisnis.com
3 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Kinerja PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) diperkirakan masih mengalami tekanan pada tahun ini. Kendati begitu, peluang pemulihan tetap ada jika perseroan berhasil menekan biaya melalui efisiensi.

Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menyampaikan raihan laba bersih tahun berjalan BNI yang menyusut sepanjang 2025 sejalan dengan kinerja perbankan secara umum.

“Kinerja BNI yang menurun hampir selaras dengan kinerja bank pada umumnya yang mengalami tekanan di 2025,” kata Trioksa kepada Bisnis, Selasa (3/2/2025).

Dalam laporan keuangan yang dipublikasikan, laba bersih tahun berjalan BNI menyusut 7,15% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp20,11 triliun sepanjang 2025. Tahun lalu, bank dengan logo 46 itu meraup laba bersih senilai Rp21,66 miliar.

Baca Juga : BNI (BBNI) Bidik Pertumbuhan Kredit hingga 10% Tahun Ini

Trioksa mengungkapkan, menyusutnya laba bersih perseroan pada periode tersebut utamanya disebabkan oleh peningkatan beban operasional, termasuk beban cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN). 

Tercatat, beban operasional BNI mencapai Rp16,68 triliun, naik 13,68% YoY dibandingkan tahun lalu Rp14,67 triliun, dengan salah satu komponen yang membengkak yaitu impairment yang naik signifikan 27,52% YoY, dari Rp7,78 triliun menjadi Rp9,92 triliun hingga akhir 2025.

“Pemicunya adalah peningkatan beban operasional yang menekan kinerja termasuk di dalamnya beban CKPN,” ungkapnya.

Kendati kinerja keuangan BNI diperkirakan masih mengalami tekanan pada tahun ini, Trioksa meyakini peluang peningkatan laba bersih tetap ada jika perseroan berhasil mengendalikan biaya.

“Perkiraan tahun ini masih mengalami tekanan namun bila perusahaan berhasil melakukan efisiensi maka potensi peningkatan laba masih ada,” tuturnya.

Di sisi lain, Trioksa memandang target yang ditetapkan BNI untuk tahun ini masih realistis. Sebagai informasi, perseroan mematok pertumbuhan kredit sebesar 8%—10% YoY, setelah membukukan pertumbuhan kredit 15,94% YoY pada 2025.

“Target pertumbuhan kredit 8%—10% masih realistis dengan NII sekitar 3,5%,” pungkasnya. 

Baca Juga : Laba Bersih BNI (BBNI) Susut, Raup Rp20,11 Triliun Selama 2025

Untuk diketahui, pertumbuhan kredit BNI hingga akhir 2025 sepenuhnya didanai oleh dana murah. Pertumbuhan CASA sepanjang 2025 sebesar 29,9% YoY, ditopang oleh pertumbuhan simpanan giro dan tabungan.

Perinciannya, simpanan giro tumbuh 43,75% YoY menjadi Rp439,49 triliun dan tabungan meningkat sebesar 11,23% YoY menjadi Rp286,46 triliun hingga Desember 2025.

Dari sisi permodalan, Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena mengungkapkan rasio kecukupan modal (CAR) mencapai 20,7%, jauh di atas ketentuan regulator, memberikan ruang yang memadai bagi BNI dalam mendukung ekspansi bisnis ke depannya serta mengantisipasi risiko.

Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. - TradingView

BNI mencatat akselerasi kinerja bisnis yang kuat pada kuartal IV/2025 dengan membukukan Pendapatan Operasional sebelum Pencadangan (PPOP) sebesar Rp9,4 triliun. Perolehan ini menjadi yang tertinggi dibandingkan tiga kuartal sebelumnya, seiring peningkatan net interest income (NII) dan fee based income (FBI).

Sepanjang 2025, BNI membukukan NII sebesar Rp40,3 triliun. Kendati begitu, loan yield masih tertekan akibat penurunan suku bunga acuan. 

Di sisi lain, pendapatan nonbunga tumbuh 5,2% YoY menjadi Rp24,6 triliun, didorong oleh meningkatnya aktivitas transaksi melalui kanal digital, treasury, trade finance, serta membaiknya produktivitas jaringan kantor cabang.

Dari sisi kualitas aset, BNI terus mencatat perbaikan yang tercermin dari penurunan rasio kredit bermasalah. Rasio non-performing loan (NPL) bruto turun menjadi 1,9% atau membaik 10 basis poin (bps) secara tahunan, sementara Loan at Risk (LaR) membaik menjadi 8,5% atau turun 1,8% YoY. Kondisi ini menunjukkan penurunan risiko kredit secara menyeluruh dan telah kembali ke level sebelum pandemi.

Selain itu, BNI menjaga tingkat pencadangan yang kuat dengan NPL coverage ratio mencapai 205,5% dan LaR coverage ratio sebesar 46,9%, sebagai langkah prudent untuk mengantisipasi potensi tekanan risiko ke depan.

“Kami terus memperkuat proses underwriting, pemantauan portofolio secara granular, serta penanganan kredit bermasalah secara dini. Pemanfaatan data analytics dan early warning system menjadi kunci untuk menjaga kualitas aset tetap terkendali,” tutur Paolo dalam keterangannya, Selasa (3/2/2026).

Dengan kombinasi pertumbuhan kredit yang sehat, struktur pendanaan yang solid, serta kualitas aset yang membaik, perseroan membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp20,11 triliun sepanjang 2025.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Jalan Otista Raya Ciputat Diperbaiki, Lalu Lintas Macet
• 5 jam lalukompas.com
thumb
Ruang Asuransi Guyur Likuiditas di Lantai Bursa Sudah Tertutup, Investasi Saham Tembus 20%
• 9 jam lalubisnis.com
thumb
Apa Itu Domain Expansion? Tak Sembarangan Penyihir Jujustu Kaisen Bisa Melakukannya
• 19 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Jenazah Meriyati Hoegeng Tiba di Rumah Duka, Disambut Keluarga dan Jajaran Polri
• 3 jam lalukompas.com
thumb
Prabowo Undang Sejumlah Ormas Islam ke Istana Hari Ini, Bahas Board of Peace
• 9 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.