KIEV, KOMPAS.TV - Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan pada Selasa (3/2/2026), Rusia menembakkan sekitar 450 drone jarak jauh dan 70 rudal berbagai jenis ke Ukraina dalam serangan besar semalam.
Serangan udara itu terjadi sehari sebelum kedua negara dijadwalkan menghadiri negosiasi yang dimediasi Amerika Serikat (AS) di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, untuk mengakhiri perang yang dilancarkan Rusia sejak empat tahun lalu.
“Pemboman terhadap setidaknya lima wilayah Ukraina secara khusus menargetkan jaringan listrik,” kata Zelenskyy, seperti dilansir The Associated Press.
Dia mengatakan serangan ini merupakan bagian dari kampanye Moskow untuk menolak akses warga sipil terhadap penerangan, pemanas, dan air bersih di tengah musim dingin terdingin dalam beberapa tahun terakhir. Menurut para pejabat, sedikitnya 10 orang terluka akibat serangan ini.
“Memanfaatkan hari-hari terdingin di musim dingin untuk meneror orang lebih penting bagi Rusia daripada diplomasi,” kata Zelenskyy.
Baca Juga: Serangan Drone Ukraina Bunuh 2 Warga Sipil di Rusia
Ia mendesak sekutu untuk mengirimkan lebih banyak pasokan pertahanan udara dan memberikan tekanan maksimum kepada Rusia untuk mengakhiri invasi yang pertama kali dimulai pada 24 Februari 2022 itu.
Para pejabat menggambarkan pembicaraan baru-baru ini antara delegasi Moskow dan Kiev sebagai negosiasi yang konstruktif.
Namun setelah upaya selama setahun, pemerintahan Presiden AS Donald Trump masih mencari terobosan dalam isu-isu kunci seperti status tanah Ukraina yang telah diduduki tentara Rusia.
Namun penyelesaian komprehensif tampaknya masih jauh. Apalagi kembali terjadi serangan setelah sebelumnya dijadwalkan pembicaraan di Abu Dhabi yang akan berlangsung pada Rabu (4/2/2026) dan Kamis (5/2/2026).
Penulis : Tussie Ayu Editor : Edy-A.-Putra
Sumber : The Associated Press
- serangan rusia
- negosiasi rusia-ukraina
- perang rusia-ukraina
- Rusia
- Ukraina
- Volodymyr Zelenskyy




