CEO Danantara sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan P. Roeslani menyatakan rencana merger tiga subholding PT Pertamina (Persero) segera difinalisasi. Penggabungan ini ditujukan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi operasional di tubuh BUMN energi tersebut.
“Insya Allah itu merger penggabungan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi sudah berlaku,” ujar Rosan saat ditanya mengenai kepastian merger yang sebelumnya ditargetkan berjalan awal Februari, di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (3/2).
“Nanti akan segera difinalkan, dalam waktu dekat,” ujarnya.
Merger tersebut mencakup tiga anak usaha Pertamina, yakni PT Pertamina Patra Niaga (PPN), PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), dan PT Pertamina International Shipping (PIS). Setelah merger, entitas yang dipertahankan adalah PT Pertamina Patra Niaga (PPN).
“PT PPN selaku perusahaan hasil penggabungan berencana untuk mengembangkan dan memperluas kegiatan usahanya di bidang pengolahan dan penyimpanan,” kata Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, kepada Katadata.co.id, Jumat (2/1).
Sebelumnya, Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri menyatakan restrukturisasi ketiga subholding Pertamina ditargetkan rampung pada akhir 2025.
Dalam pernyataan terpisah, Simon mengatakan saat ini kondisi dunia menyebabkan penurunan keuntungan Pertamina. Kondisi global menyebabkan permintaan terhadap minyak menurun, sedangkan produksi kilang semakin meningkat karena banyaknya kilang baru.
“Dengan kondisi yang kurang menguntungkan bagi kami, kilang ini marginnya semakin kecil,” kata Simon, seperti dikutip dari Antara.
Ia mengatakan mengecilnya margin keuntungan yang diperoleh Kilang Pertamina Internasional berpengaruh kepada perusahaan Pertamina secara keseluruhan. Karena itu, ia mengatakan telah mengambil keputusan untuk menggabungkan tiga subholding agar dapat beroperasi dengan lebih efektif.
“Iya, nanti akan digabungkan. Mungkin bisa saja (penggabungan dengan nama baru). Bisa jadi Patra Kilang Shipping,” ujar Simon.




