Penulis: Nisa Alfiani
TVRINews, Jakarta
Ketua Dewan Penasihat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Tomy Suryopratomo, menilai penyiaran ajang Piala Dunia dapat menjadi momentum penting bagi TVRI untuk melakukan transformasi dan memperkuat peran sebagai televisi publik yang edukatif.
Hal tersebut disampaikan Tomy dalam sebuah diskusi mengenai peran televisi publik dan dampak internasional penyiaran sepak bola oleh TVRI. Menurutnya, sepak bola khususnya Piala Dunia memiliki daya tarik luar biasa yang mampu menyatukan perhatian publik lintas usia dan latar belakang.
“Piala Dunia adalah satu-satunya peristiwa yang membuat orang rela begadang dan meninggalkan aktivitas lain selama satu bulan penuh. Ini kesempatan besar bagi TVRI untuk melakukan perbaikan dan pembaruan siaran,” ujar Tomy dalam Dialog Meja Bundar Piala Dunia 2026 di LPP TVRI, Selasa (3/2/2026).
Ia menilai, selama ini TVRI berada dalam tantangan besar di tengah persaingan industri penyiaran. Namun, Piala Dunia dapat menjadi titik awal kebangkitan TVRI melalui penyajian konten yang berkualitas dan berbeda dari televisi komersial.
Tomy juga menyoroti posisi Indonesia di mata internasional sebagai negara dengan antusiasme sepak bola yang sangat tinggi. Menurutnya, hal itu sudah dikenal sejak lama, bahkan ketika Indonesia belum pernah lolos ke putaran final Piala Dunia.
“Di mata dunia, Indonesia dikenal sebagai negara yang sangat mencintai sepak bola. Antusiasme itu harus dimanfaatkan untuk membangun siaran yang bermakna dan berorientasi pada kepentingan publik,” katanya.
Lebih lanjut, Tomy menegaskan bahwa TVRI sebagai lembaga penyiaran publik tidak memiliki kepentingan bisnis, sehingga memiliki ruang lebih luas untuk menjadikan olahraga sebagai sarana pendidikan dan pembentukan karakter.
“Olahraga bukan sekadar tontonan, tetapi juga tuntunan. Melalui sepak bola, masyarakat diajarkan nilai disiplin, kerja sama, sportivitas, dan proses untuk menjadi yang terbaik,” ujarnya.
Ia membandingkan pendekatan siaran sepak bola di televisi publik internasional, seperti BBC, yang menempatkan figur-figur profesional dan berintegritas sebagai komentator dan analis, sehingga siaran tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan edukasi.
Dalam konteks pembinaan sepak bola nasional, Tomy menekankan pentingnya proses jangka panjang dan menolak pendekatan instan. Menurutnya, prestasi sejati hanya bisa dicapai melalui pembinaan berkelanjutan dan meritokrasi.
“Sepak bola harus dibangun melalui proses, kerja keras, dan pembinaan usia dini. Nilai-nilai inilah yang perlu disampaikan kepada publik, terutama generasi muda,” kata Tomy.
Ia juga mendorong TVRI untuk memperkaya tayangan dengan program dokumenter olahraga yang mengangkat perjalanan para atlet dunia, guna memberikan inspirasi dan pemahaman bahwa kesuksesan diraih melalui usaha panjang.
“Cerita perjuangan atlet-atlet dunia penting ditampilkan agar anak-anak Indonesia memahami bahwa prestasi tidak datang secara instan, tetapi melalui latihan, pengorbanan, dan konsistensi,” ujarnya.
Menurut Tomy, Piala Dunia bukan hanya ajang pertandingan, tetapi juga sarana membangun peradaban dan karakter bangsa melalui penyiaran yang bertanggung jawab dan berorientasi pada nilai-nilai pendidikan.
Editor: Redaktur TVRINews





