Sentra genteng Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, dikenal luas sebagai salah satu daerah penghasil genteng tanah liat terbesar di Indonesia Industri yang telah tumbuh lebih dari satu abad ini tidak hanya menjadi penggerak ekonomi, tetapi juga melekat sebagai identitas sosial dan budaya masyarakat setempat.
Direktur Museum Genteng Jatiwangi, Illa Syukrillah Syarrief, menuturkan sejarah pembuatan genteng di wilayah tersebut bermula sejak 1905. Saat itu, kata dia, Haji Umar bin Ma’ruf berinisiatif mengganti atap masjid yang sebelumnya menggunakan rumbia menjadi genteng berbahan tanah liat.
“Untuk mewujudkan itu, didatangkan seorang perajin bernama Barmawi untuk melatih warga membuat genteng dari tanah liat,” ujar Illa, yang akrab disapa Pak Kadus kepada kumparan, Selasa (3/2).
Setelah pembangunan masjid selesai, keterampilan warga dalam membuat genteng semakin berkembang. Awalnya, genteng diproduksi untuk kebutuhan rumah warga. Namun, seiring waktu, hasil produksi mulai dipasarkan ke desa dan kota sekitar, hingga akhirnya menembus pasar luar pulau.
Masa Kejayaan dan Ekspor ke BruneiIndustri genteng Jatiwangi mencapai masa kejayaannya pada rentang 1980 hingga 2005. Pada periode itu, genteng produksi Jatiwangi bahkan berhasil menembus pasar ekspor, salah satunya ke Brunei Darussalam.
“Waktu itu sampai muncul istilah warna Brunei, karena ada permintaan khusus dari sana,” katanya.
Beragam jenis genteng pun berkembang seiring perjalanan waktu. Jenis awal yang diproduksi adalah genteng talahab. Selanjutnya, pengaruh kolonial Belanda memperkenalkan teknologi mesin pres yang melahirkan varian genteng kodok dan palentong.
Memasuki era 1980-an hingga 1995, inovasi terus bermunculan dengan hadirnya jenis baru seperti gambe, palento, murando, hingga turbo. Sementara beberapa pabrik besar juga memproduksi genteng flat dengan teknologi lebih modern.
Sebelum penggunaan mesin pres, proses produksi dilakukan secara manual. Genteng dicetak menggunakan cetakan kayu, dibentuk dengan tangan, lalu dibakar menggunakan tungku sederhana berbahan sampah.
Lebih dari Sekadar KomoditasBagi masyarakat Jatiwangi, genteng bukan hanya produk ekonomi, melainkan bagian dari jati diri daerah. Illa menyebut, keberadaan genteng telah berkontribusi besar dalam menopang pembangunan berbagai fasilitas publik di berbagai daerah.
“Genteng Jatiwangi dipakai di sekolah, rumah sakit, hingga bangunan di berbagai wilayah. Kami merasa seperti ‘pahlawan peneduh’,” ungkapnya.
Kesadaran tersebut mendorong warga mengangkat genteng sebagai simbol kebudayaan. Salah satunya melalui kegiatan seni dan budaya seperti Rampak Genteng dan berbagai kegiatan komunitas yang melibatkan pekerja industri genteng.
Selain itu, industri genteng juga dinilai memiliki peran sosial yang kuat, terutama dalam mendukung keseimbangan kehidupan keluarga pekerja. Perempuan dan laki-laki memiliki peran yang sama penting dalam proses produksi.
“Banyak ibu yang bisa tetap bekerja sambil mengasuh anak di lingkungan pabrik. Industri rakyat seperti ini menjaga hubungan keluarga dan memungkinkan warga tetap tinggal di kampung tanpa harus merantau,” ujarnya.
Sebagian besar pekerja genteng juga berprofesi sebagai petani. Produksi biasanya menyesuaikan musim tanam dan panen padi.
Tantangan Regenerasi dan ModernisasiMeski masih bertahan, industri genteng Jatiwangi menghadapi berbagai tantangan, terutama regenerasi pengrajin dan adaptasi teknologi produksi. Illa menilai, inovasi produk menjadi kunci agar genteng tetap relevan dengan kebutuhan bangunan modern.
Ia juga menyambut rencana program nasional penggunaan genteng tanah liat sebagai pengganti atap seng. Menurutnya, kebijakan tersebut dapat menjadi peluang besar bagi industri genteng rakyat, selama diikuti peningkatan kualitas produk.
“Harapannya, pengrajin bisa terus berinovasi dan tidak hanya bertahan pada produk lama,” katanya.
Produksi Menurun, Pabrik Masih BertahanDari sisi jumlah, industri genteng di kawasan Jatiwangi sebenarnya tidak mengalami penurunan signifikan. Namun, kapasitas produksi banyak pabrik mengalami penurunan.
Illa memperkirakan, pada masa kejayaan, produksi genteng dari wilayah Jatiwangi dan empat kecamatan penunjang seperti Dawuan, Kasokandel, Sukahaji, dan Ligung mampu mencapai 4 juta keping per hari.
Saat ini, produksi harian diperkirakan berkisar 500 ribu hingga 600 ribu keping. Penurunan terjadi setelah 2005, ketika sebagian tenaga kerja beralih ke industri garmen, sementara biaya produksi meningkat dan inovasi teknologi dinilai terlambat berkembang.
Meski demikian, industri genteng Jatiwangi masih bertahan dengan sekitar 150 pabrik yang masih beroperasi. Sejumlah bangunan bekas pabrik bahkan kini beralih fungsi menjadi ruang usaha seperti kafe dan toko, namun tetap mempertahankan identitas budaya genteng Jatiwangi.





