Ibas Buka Rapat Pleno Komisi Kajian Ketatanegaraan, Bahas Reformasi Polri hingga PPHN

viva.co.id
14 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Wakil Ketua MPR RI Bidang Koordinasi Komisi Kajian Ketatanegaraan (KKK/K3), Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) membuka Rapat Pleno Komisi Kajian Ketatanegaraan 2026 dengan semangat optimisme untuk terus memperkuat sistem ketatanegaraan Indonesia. 

Dalam sambutannya, Ibas menekankan pentingnya kajian ketatanegaraan untuk memperkokoh prinsip-prinsip demokrasi dan menjamin keberlanjutan negara yang stabil, adil, dan sejahtera.

Baca Juga :
Wacana Penghapusan Ambang Batas Parlemen, Said PDIP Singgung Kawin Paksa Politik
PAN Usul Ambang Batas Parlemen Dihapus, Singgung Jutaan Suara Rakyat yang Hangus

Ia memberikan apresiasi tinggi atas kerja keras seluruh anggota Komisi Kajian Ketatanegaraan. 

“Kerja keras yang telah dilakukan oleh Komisi Kajian Ketatanegaraan dalam tahun 2025 patut kita berikan penghargaan yang tinggi. Penyelesaian 95 persen anggaran adalah bukti nyata bahwa kita serius dalam melakukan kajian untuk kemajuan ketatanegaraan,” kata Ibas dalam keterangannya, Selasa, 3 Februari 2026.

Ia menyoroti hasil evaluasi kinerja tahun 2025 yang berfokus pada penguatan lembaga MPR RI dan tindak lanjut isu-isu konstitusional. 

“Kajian-kajian yang sudah dilakukan oleh Komisi Kajian Ketatanegaraan menjadi sangat penting dalam menjaga relevansi sistem ketatanegaraan kita dengan perkembangan zaman,” tambahnya.

Ibas juga memaparkan beberapa agenda utama yang akan menjadi fokus dalam kajian Komisi Ketatanegaraan pada tahun 2026, antara lain, yakni penguatan Lembaga MPR RI; penguatan Empat Pilar Kebangsaan; penyerap aspirasi masyarakat; dan optimalisasi kajian konstitusi.

Salah satu poin penting yang dibahas adalah Pokok-Pokok Haluan Negara (PPHN) yang telah disampaikan kepada Presiden. 

“Poin-poin utama dalam Haluan Negara sudah selesai dan sudah disampaikan kepada Presiden. Beliau menginginkan untuk mempelajarinya lebih lanjut, dan saat ini masih mencari waktu yang tepat untuk melanjutkan koordinasi,” katanya.

Ia juga menyoroti kajian yang telah dilakukan terkait Reformasi Polri, yang baru-baru ini dibahas dalam Sidang Paripurna DPR RI. 

“Reformasi Polri harus dilanjutkan sebagai bagian dari penyempurnaan kerja institusi. Polri harus tetap menjadi lembaga yang profesional dan humanis, tetap berada di bawah kepemimpinan Presiden,” tambahnya.

Sementara, mengenai situasi geopolitik dunia yang masih belum stabil, Ibas mengingatkan pentingnya menjaga ketahanan negara. 

“Kondisi dunia saat ini masih penuh ketidakpastian. Geopolitik dan geoekonomi global saling menekan, dengan banyaknya dinamika internal negara-negara yang berbeda. Namun, kita harus terus menjaga stabilitas dan kemajuan bangsa,” tegasnya.

Baca Juga :
Ketua MPR: PPHN Selesai Dibahas, Kita Perlu Diskusi dengan Presiden
Menko Yusril: Reformasi Polri Fokus pada Pembenahan Internal dan Revisi UU Kepolisian
CSIS Usul Ambang Batas Parlemen jadi 3,5 Persen dalam Pemilu 2029

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Indonesia Larang Atraksi Menunggangi Gajah
• 3 jam lalubeautynesia.id
thumb
12 Beauty Looks Terbaik di Grammy Award 2026
• 7 jam lalubeautynesia.id
thumb
Open To Work di LinkedIn Berujung Kontroversi, Prilly Latuconsina Ngaku Menyesal: Aku Bukan Niat Tidak Empati
• 11 jam lalutvonenews.com
thumb
Direktur Persija Ungkap Alasan Kontrak Mauro Zijlstra: Punya Potensi Besar!
• 2 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Syahganda Nainggolan: Langkah Prabowo di Board of Peace Bentuk Realisme Politik
• 1 jam lalusuara.com
Berhasil disimpan.