Perjanjian pengendalian senjata nuklir antara Rusia dan Amerika Serikat (AS) segera berakhir. Rusia pun bersiap menghadapi dunia tanpa batasan nuklir.
Sebagai informasi, perjanjian pembatasan senjata nuklir antara AS dan Rusia itu bernama New START atau dalam bahasa Inggris disebut The Treaty between the United States of America and the Russian Federation on Measures for the Further Reduction and Limitation of Strategic Offensive Arms. Perjanjian itu diteken pada 2010 ketika Presiden Rusia dijabat Dmitry Medvedev dan Presiden AS dijabat Barrack Obama.
Dikutip dari situs resmi pemerintah AS, Perjanjian New START mulai berlaku pada tanggal 5 Februari 2011. Berdasarkan perjanjian tersebut, AS dan Rusia memiliki waktu 7 tahun untuk memenuhi batasan utama perjanjian terhadap senjata ofensif strategis atau pada tanggal 5 Februari 2018 dan kemudian berkewajiban untuk mempertahankan batasan tersebut selama perjanjian tersebut masih berlaku.
AS dan Rusia telah memenuhi batasan utama Perjanjian New START pada 5 Februari 2018 dan sejak saat itu tetap berada pada atau di bawah batasan tersebut. Berikut batasan-batasannya:
- 700 rudal balistik antarbenua (ICBM) yang dikerahkan, rudal balistik yang diluncurkan dari kapal selam (SLBM) yang dikerahkan, dan pesawat pembom berat yang dilengkapi persenjataan nuklir yang dikerahkan;
- 1.550 hulu ledak nuklir pada ICBM yang dikerahkan, SLBM yang dikerahkan, dan pesawat pembom berat yang dilengkapi persenjataan nuklir yang dikerahkan (setiap pesawat pembom berat tersebut dihitung sebagai satu hulu ledak terhadap batasan ini);
- 800 peluncur ICBM yang dikerahkan dan tidak dikerahkan, peluncur SLBM, dan pesawat pembom berat yang dilengkapi persenjataan nuklir.
Kini, perjanjian itu telah mendekati batas berlakunya. Perjanjian New START akan berakhir pada 4 Februari 2026.
(haf/haf)





