【Eksklusif】Orang Dalam Beberkan Militer Tiongkok Masuk Status “Hampis Perang” Usai Pencopotan Jenderal Puncak

erabaru.net
8 jam lalu
Cover Berita

Sumber internal menyebutkan bahwa langkah pengamanan dalam negeri yang ditingkatkan setelah pencopotan Zhang Youxia mencerminkan ketakutan rezim terhadap ketidakstabilan internal, bukan ancaman konflik eksternal.

EtIndonesia. Ketika Beijing mengumumkan pencopotan Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (KMP) Zhang Youxia, keputusan tersebut langsung menimbulkan gelombang kejut di tubuh Tentara Pembebasan Rakyat (PLA). Pada 24 Januari, beberapa jam sebelum Kementerian Pertahanan Tiongkok merilis pernyataan resmi, KMP diam-diam mengaktifkan tingkat pengendalian internal berstatus “hampir perang”, menurut sejumlah orang dalam yang mengetahui situasi internal militer Tiongkok.

Para narasumber berbicara kepada The Epoch Times dengan syarat anonim atau hanya mencantumkan nama keluarga, dengan alasan keselamatan mereka.

“Situasinya meningkat sangat cepat,” ujar seorang sumber militer Tiongkok pada 30 Januari. “Kami tidak tahu apa yang sedang terjadi—hanya tahu akan ada pengumuman penting dari Kementerian Pertahanan. Namun menaikkan sistem ke status ‘hampir perang’ tetap mengejutkan, apalagi pemimpin tertinggi tidak sedang melakukan kunjungan luar negeri.”

Menurut sumber tersebut, baru setelah kejatuhan Zhang diumumkan secara publik, banyak personel militer memahami tujuan sebenarnya dari peningkatan keamanan yang luar biasa itu.

“Belakangan orang sadar bahwa langkah itu dimaksudkan untuk mencegah insiden internal,” katanya. “Ada kekhawatiran sesuatu yang luar biasa bisa terjadi di dalam militer.”

Pada hari itu, pengamanan di sekitar markas KMP di Beijing diperketat secara nyata. Personel Biro Pengawal Pusat—unit elite yang bertugas melindungi pimpinan tertinggi Tiongkok—dikerahkan dalam jumlah besar. Komputer, dokumen, dan berkas-berkas dalam kotak dipindahkan dari kantor, sementara suasana di dalam kompleks berubah tegang dan sangat tertutup.

Seorang analis militer berbasis di Tiongkok mengatakan kepada The Epoch Times bahwa istilah “status hampir perang” memiliki makna khusus dalam kerangka pemerintahan Partai Komunis Tiongkok (PKT), yang sering disalahpahami oleh pengamat luar.

“Dalam sistem PKT, ‘hampir perang’ tidak selalu berarti persiapan menghadapi perang eksternal,” jelasnya. “Ini adalah mode siaga tinggi yang berpusat pada keamanan politik.”

Langkah semacam itu biasanya diaktifkan, katanya, ketika Xi Jinping bepergian ke luar negeri atau pada momen politik yang sangat sensitif, dengan tujuan utama menjamin stabilitas komando dan kepatuhan mutlak, bukan merespons ancaman militer asing.

Lu, seorang pensiunan veteran militer Tiongkok yang hanya ingin disebutkan nama marganya, menguatkan penilaian tersebut. Ia mengatakan bahwa secara historis, langkah-langkah semacam ini selalu terkait dengan keamanan pimpinan dan kontrol internal pada masa-masa politik genting.

“Kali ini tidak ada konflik eksternal besar, dan pemimpin tidak sedang berada di luar negeri,” ujar Lu. “Mengaktifkan tingkat kontrol seperti ini dalam kondisi tersebut dipandang luas di internal militer sebagai sinyal tidak normal. Ini bukan kesiapan perang eksternal. … Ini adalah kesiapan ‘hampir perang’ untuk urusan internal.”

Masa Penuh Ketidakpastian bagi Militer Tiongkok

Setelah pengumuman resmi pencopotan Zhang, para analis menggambarkan sistem pertahanan Tiongkok memasuki salah satu fase paling rapuh dalam beberapa tahun terakhir.

Tidak ada perubahan signifikan di Selat Taiwan, Laut Tiongkok Selatan, maupun di perbatasan darat Tiongkok yang dapat menjelaskan peningkatan siaga tersebut. Sebaliknya, berbagai indikator menunjukkan bahwa ketegangan bersumber dari pergeseran kekuasaan internal di puncak PKT, khususnya di internal KMP  yang mengendalikan angkatan bersenjata.

Salah satu perkembangan mencolok adalah meningkatnya penekanan pada istilah “kesetiaan absolut” dan “kepatuhan terhadap perintah”, bahasa yang muncul dengan frekuensi tidak biasa dalam pernyataan resmi dan komunikasi internal terbaru.

Analis militer tersebut mengatakan bahwa stabilitas PLA tidak bertumpu pada mekanisme checks and balances, melainkan pada otoritas personal dan loyalitas.

“Zhang Youxia sejak lama dipandang sebagai salah satu pilar utama Xi Jinping di dalam militer,” katanya. “Tokoh seperti Zhang memainkan peran krusial dalam menjaga keseimbangan faksi dan menekan potensi ketidakstabilan.”

Kekosongan Struktur Komando 

Orang-orang dalam militer mengatakan bahwa berkurangnya jumlah anggota KMP secara cepat telah mempersempit lingkaran orang yang benar-benar mampu memberi komando langsung kepada pasukan, sehingga meningkatkan ketidakpastian di kalangan perwira.

Meski Xi Jinping memegang jabatan Ketua KMP, ia tidak secara langsung memimpin pasukan di lapangan. Zhang Shengmin, anggota KMP yang baru diangkat, menghabiskan sebagian besar kariernya di bidang politik dan disiplin, bukan komando operasional. Berbeda dengan Zhang Youxia, yang memiliki kendali langsung atas pasukan tempur, Zhang Shengmin dipandang lemah dalam hal otoritas militer nyata.

Seorang sumber militer mengatakan kepada The Epoch Times bahwa muncul kekhawatiran apakah para perwira di komando teater akan menjalankan perintah tanpa ragu jika perintah itu datang dari sosok selain Zhang Youxia.

Sejumlah analis menilai bahwa atmosfer saat ini mencerminkan kecemasan yang lebih dalam di pucuk pimpinan PKT mengenai keandalan angkatan bersenjatanya sendiri.

Sejarah menunjukkan, kata mereka, bahwa ketika sebuah rezim semakin bergantung pada militer untuk menjaga stabilitas dari ancaman internal, maka keamanan dan stabilitas keseluruhan rezim tersebut justru memasuki fase rapuh.

Hu Ying turut berkontribusi dalam laporan ini.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Sementara Rasa Permanen, Carrick Bikin Manchester United Lupa Cari Pelatih Baru
• 22 jam laluviva.co.id
thumb
Purbaya: Program Gentengisasi Pakai APBN, Nilainya Tak Sampai Rp1 Triliun
• 22 jam lalubisnis.com
thumb
Begini Respons Menko PM Terkait Anak 10 Tahun di NTT Bunuh Diri
• 1 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Video: Pasca Izin Dicabut, Pemerintah Siap Audit Total PLTA di Sumatra
• 17 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Iran Pertimbangkan Transfer Uranium ke Rusia, Larijani Sampaikan Pesan Langsung dari Khamenei ke Putin
• 12 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.