TABLOIDBINTANG.COM - Korea Selatan selama ini dikenal sebagai Negeri Ginseng. Namun bagi rombongan penulis Diamond KBM App yang dipimpin Asma Nadia dan Isa Alamsyah, Korea justru meninggalkan kesan kuat lewat dua hal tak terduga: ayam goreng dan stroberi raksasa.
Dalam program KBM App Goes to Korea, pengalaman menjelajah negeri empat musim ini bukan hanya soal destinasi populer, tapi juga soal kejutan di meja makan. Hampir di setiap sudut kota, gerai ayam goreng berdiri berdampingan, dengan aroma yang sulit diabaikan.
“Aslinya ini negara yang bikin diet gagal,” celetuk Asma Nadia tersenyum simpul.
Menurutnya, ayam goreng Korea punya karakter rasa yang sangat khas dan berani bereksperimen. Salah satu pengalaman paling membekas terjadi saat rombongan berada di kawasan resort ski bersalju.
Isa Alamsyah menceritakan, mereka mencicipi ayam goreng lokal dengan rasa yang tak biasa.
“Enak sekali. Bahkan ada yang bilang rasa ayamnya seperti kepiting,” kata Isa.
Uniknya, mereka lupa mencatat nama restoran tersebut. Namun justru itu menggambarkan satu hal: ayam goreng Korea tidak bergantung pada merek global, melainkan didominasi brand lokal dengan inovasi rasa yang kuat.
Asma Nadia mengaku sempat ragu ketika mencoba menu All You Can Eat ayam bakar.
“Biasanya ayam grill itu keras dan lama matang. Tapi di Korea, ayamnya empuk, juicy, dan bumbunya meresap sampai ke tulang,” tuturnya.
Ia menyebut pengalaman itu sebagai bukti standar pengolahan makanan Korea yang sangat serius.
Stroberi Segede Jambu Air
Tak kalah mengejutkan adalah stroberi Korea. Di pasar tradisional hingga pedagang kaki lima, stroberi tampil dengan ukuran besar, merah merona, dan rasa manis alami.
“Ukurannya hampir sebesar jambu air, dan manis tanpa perlu tambahan apa pun,” ujar Asma Nadia.
Isa Alamsyah menyoroti hal ini sebagai hasil dari smart farming. Korea mengembangkan varietas unggulan seperti Seolhyang, menerapkan sistem hidroponik setinggi pinggang yang bersih dan estetik, serta menjadikan stroberi sebagai produk wisata dan oleh-oleh bernilai tinggi.
"Stroberi tidak hanya dijual segar, tetapi juga diolah menjadi camilan premium seperti stroberi kering berlapis cokelat yang mudah ditemui di minimarket," ujar Isa.
Bagi Asma Nadia, perjalanan ini menunjukkan bahwa kreativitas Korea tidak berhenti di industri hiburan.
“Mereka mengubah hal sederhana menjadi pengalaman emosional,” katanya.
Isa Alamsyah menambahkan, pelajaran terbesarnya adalah keberanian mengemas produk lokal dengan riset dan inovasi.
Dari ayam goreng hingga stroberi, Korea berhasil menjadikan produk sehari-hari sebagai daya tarik wisata global.
Lewat KBM App Goes to Korea, para penulis Indonesia tak hanya membawa pulang cerita perjalanan, tapi juga inspirasi: bahwa produk lokal apa pun, jika dikelola dengan serius dan kreatif, bisa menembus dunia.




