Liputan6.com, Jakarta - Terkait meninggalnya anak SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) Budiman Sudjatmiko menyampaikan permohonan maaf.
Menurut dia, hal ini menunjukkan masih ada persoalan kemiskinan yang mendera sebagian keluarga Indonesia, dan ini berakibat pada beban psikologis anak.
Advertisement
Untuk mengatasi masalah itu, Budiman menegaskan, salah satu cara pemerintah adalah sedang menggalakan soal Sekolah Rakyat (SR) agar tak ada lagi kasus-kasus serupa terjadi lagi di Indonesia.
"Kami minta maaf bahwa dalam proses ini belum sepenuhnya menyentuh tiap anak dari keluarga miskin ekstrem," kata dia kepada Liputan6.com, Rabu (4/2/2026).
Budiman menuturkan, dengan dibangunnya Sekolah Rakyat, maka anak-anak dari keluarga miskin esktrem sedang diintegrasikan dengan sistem sekolah lengkap dengan fasilitas-fasiltas belajar yang memadai.
Dia menekankan bahwa Presiden Prabowo Subianto tengah mengupayakan agar pendirian Sekolah Rakyat harus diintegrasikan dengan perumahan rakyat dan jejaring ekosistem pemberdayaan ekonomi.
"Semuanya sedang dikerjakan," jelas Budiman.
Budiman juga berharap, pemerintah daerah setempat segera turun tangan, dan pemerintah pusat akan terus mengatasi persoalan sistemik kemiskinan dan juga kesehatan mental anak-anak agar tak melakukan hal serupa.
"Bagi keluarga korban yang meninggal saya minta Pemda Kabupaten Ngada segera melakukan segala upaya untuk memulihkan ekonomi serta kondisi psikologis mereka," jelas dia.
"Berdasarkan laporan yang kami terima, bahwa Pemkab Ngada sebenarnya sudah menyiapkan lahan enam hektar untuk pembangunan Sekolah Rakyat bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem. Turut berduka atas musibah ini dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan segera mendapat bantuan," kata Budiman.



