BEKASI, KOMPAS.com – Pria bernama Jebir (35) yang memalak warga Perumahan Logam Bangun Setia 2, Desa Muktiwari, Kecamatan Cibitung, Kabupaten Bekasi, kerap melakukan aksi serupa di wilayah tersebut.
“Berdasarkan informasi dari saksi, dia sudah ada dua kali melakukan kegiatan seperti itu. Memang di situ kegiatannya sehari-hari sebagai pengamanan proyek perumahan,” ujar Kanit Reskrim Polsek Cikarang Barat, Iptu Engkus Kusnadi saat dikonfirmasi Kompas.com, Rabu (4/2/2026).
Baca juga: Warga Bekasi Waswas Usai Dipalak Rp 500.000 oleh Pria Tak Dikenal
Engkus menjelaskan, Jebir merupakan pengamanan proyek perumahan setempat, namun tidak memiliki status resmi dan tidak menerima gaji bulanan.
Terduga pelaku juga merupakan warga yang tinggal di sekitar lokasi perumahan.
“Informasinya dia tinggal di dekat kompleks ini juga, tapi kami masih melakukan pendalaman,” kata Engkus.
Engkus mengatakan saat ini pihak kepolisian telah melakukan penelusuran langsung ke lokasi kejadian menyusul viralnya video dugaan pungutan liar tersebut di media sosial.
Dari hasil pemeriksaan sementara, korban diketahui baru menempati rumah tersebut setelah membeli dari pemilik sebelumnya atau sebagai pemilik kedua.
“Pengakuannya, begitu menempati rumah, korban dimintai uang Rp 500.000 untuk biaya pengamanan dan lain-lain,” ujar Engkus.
Baca juga: Warga Bekasi Dipalak Rp 500.000 oleh Pria Usai Renovasi Rumah, Dalih Uang Keamanan
Saat ini, polisi masih mendalami kasus tersebut lebih lanjut.
Selain mengklarifikasi keterangan korban, penyelidikan juga terus dikembangkan untuk memeriksa terduga pelaku.
Sebelumnya diberitakan, warga Perumahan Logam Bangun Setia 2, Nur Lima Siagian (36) mengaku dimintai sejumlah uang oleh pria tak dikenal yang mengaku bekerja sama dengan pihak perumahan.
Permintaan itu terjadi setelah Nur melakukan renovasi rumah yang baru sekitar dua bulan ditempatinya.
Aksi tersebut direkam oleh Nur dan videonya kemudian beredar luas di media sosial.
Dalam unggahan akun Instagram @liputancikarang, pria tersebut meminta uang sebesar Rp 500.000 dengan dalih biaya keamanan atau kerja sama dengan pengembang perumahan.
“Dia bilang dari keamanan dan utusan developer. Padahal sebelumnya saya sudah bayar uang keamanan ke RT,” ujar Nur.