Krisis Kemanusiaan: Realita Pahit Pengungsi Sudan

tvrinews.com
2 jam lalu
Cover Berita

Penulis: Fityan

TVRINews-Tawila, Sudan

Puluhan ribu warga El-Fasher melarikan diri dari kelaparan dan kekerasan menuju kamp pengungsian yang serba terbatas.

Di tengah kecamuk perang saudara yang menghancurkan Sudan, ribuan keluarga yang melarikan diri dari jatuhnya kota El-Fasher kini menghadapi ancaman baru yang tak kalah mematikan: cuaca dingin yang ekstrem dan kelaparan yang meluas.

Eksodus besar-besaran terjadi setelah kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF) merebut kendali penuh atas El-Fasher, kota besar terakhir di Darfur Utara yang sebelumnya dikuasai oleh militer Sudan (SAF) selasa 3 Februari 2026

Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) mencatat lebih dari 120.000 orang telah meninggalkan kota tersebut sejak Januari, meninggalkan rumah yang kini disebut oleh badan medis MSF sebagai "kota hantu".

Perjalanan Mencekam Menuju Tawila

Bagi para pengungsi, perjalanan menuju zona aman adalah pertaruhan nyawa. Montaha Omer Mustafa (18), salah satu pengungsi di kamp Tawila, menceritakan bagaimana ia harus menempuh perjalanan berhari-hari dengan berjalan kaki melewati semak belukar dengan persediaan air yang sangat minim.

"Pria bersenjata menghentikan kami dan mencuri semua yang berharga; emas, uang tunai, dan makanan," ungkap Mustafa kepada Al Jazeera. Di tengah kekacauan pelarian tersebut, Mustafa bahkan kehilangan saudara laki-lakinya yang hingga kini tidak diketahui nasibnya.

Krisis Logistik dan Ancaman Penyakit

Tawila, yang terletak sekitar 50 kilometer di barat El-Fasher, kini menampung sekitar 1,4 juta jiwa. Namun, keamanan dari garis depan tidak menjamin kelangsungan hidup. Fasilitas kesehatan di sana dilaporkan mengalami kelangkaan obat-obatan dan pasokan medis yang kritis.

"Cuacanya sangat dingin. Kami tidak punya kasur untuk tidur atau selimut untuk menutupi diri. Kami kekurangan makanan, dan mendapatkan air sangat sulit," tambah Mustafa.

Kondisi serupa dialami Zahra Mohamed Ali Abakar (29). Ia menggambarkan situasi di mana para pengungsi terpaksa tidur di atas tanah terbuka. "Tidak ada tenda; orang-orang menggunakan karung untuk melindungi diri dari matahari dan cuaca dingin," jelasnya.

Dugaan Kejahatan Perang

Di balik krisis kemanusiaan ini, laporan mengenai kekejaman sistematis terus menguat. Wakil Jaksa Penuntut Pengadilan Pidana Internasional (ICC), Nazhat Shameem Khan, menyatakan di hadapan Dewan Keamanan PBB bahwa RSF diduga melakukan kejahatan perang dan kejahatan kemanusiaan selama perebutan El-Fasher, dengan menargetkan kelompok etnis tertentu secara terencana.

Citra satelit dari Humanitarian Research Lab Universitas Yale bahkan menunjukkan bukti adanya upaya penghancuran bukti pembunuhan massal di kota tersebut.

Aktivis hak asasi manusia, Mohamed Badawi, menyoroti munculnya "ekonomi perang" di mana warga yang mencoba melarikan diri diperas hingga USD 1.600 oleh kelompok bersenjata.

"Di dalam kota tidak ada layanan. Tidak ada air, tidak ada internet, tidak ada makanan. Ini telah menjadi kota di abad kegelapan," ujar Badawi.

Bagi warga seperti Abdalla Ahmed Fadul Abu-Zaid, yang kaki kirinya harus diamputasi akibat serangan artileri, bantuan yang datang bagaikan tetesan air di padang pasir. Sejak tiba di Tawila bersama delapan anggota keluarganya, ia baru menerima bantuan pangan sebanyak dua kali.

Hingga saat ini, komunitas internasional terus mendesak pembukaan akses bantuan kemanusiaan yang lebih luas guna mencegah bencana kelaparan total di wilayah Darfur.

Editor: Redaktur TVRINews

Komentar
1000 Karakter tersisa
Kirim
Komentar

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Timnas Futsal Indonesia Melaju ke Semifinal Piala Asia 2026, Hector Souto: Kami Hanya Bagus dalam Bola Mati
• 21 jam lalubola.com
thumb
IHSG Berpotensi Koreksi, Pasar Cermati Tekanan Global hingga Daya Beli Domestik
• 9 jam laluidxchannel.com
thumb
Nia Ramadhani Dirumorkan Gugat Cerai Ardie Bakrie, Asisten Buka Suara
• 5 jam lalucumicumi.com
thumb
Demam Teknologi Kembali Menyelimuti Bursa Saham Asia
• 16 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Diduga Terlilit Utang, Sopir Truk Nekad Gantung Diri
• 20 jam lalurealita.co
Berhasil disimpan.