Forum ini menjadi platform strategis bagi komunitas jasa keuangan Indonesia untuk bertukar wawasan dan meningkatkan kesiapan kolektif seiring meluasnya penggunaan pembayaran digital melalui kartu, dompet digital, QR, hingga jaringan real‑time A2A.
Ekonomi digital Indonesia kini memasuki era baru yang lebih luas dan lebih matang. Melalui QRIS yang telah menjangkau puluhan juta merchant, BI-FAST yang memungkinkan transfer real-time berbiaya rendah, serta dompet digital yang semakin menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, Indonesia bergerak cepat menuju standar kota digital kelas dunia.
Seiring dengan percepatan momentum ini, memastikan pembayaran digital yang terpercaya, aman, dan saling terhubung menjadi semakin penting, baik untuk melindungi konsumen, memberdayakan UMKM, maupun menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
Baca juga: Visa Dorong UMKM Bali Lewat Solusi Pembayaran Cerdas
Kebutuhan ini menjadi semakin jelas ketika melihat bagaimana pertumbuhan pembayaran digital di Indonesia terus meningkat secara signifikan. Transaksi melalui kartu, dompet digital, QRIS, mobile banking, dan internet banking tumbuh 26 persen YoY, mencapai Rp 7.000 triliun
Momentum yang lebih kuat terlihat pada pembayaran real time A2A, yang melonjak 37 persen YoY menjadi Rp 12.000 triliun. Namun, ekspansi pesat ini juga menghadirkan tantangan baru. Berdasarkan data dari Indonesia Anti-Scam Center (IASC) – OJK, lebih dari 400.000 laporan penipuan online tercatat sepanjang tahun lalu, dengan total kerugian mencapai Rp9,1 triliun.
Tren ini menegaskan pentingnya keamanan yang tepercaya serta kolaborasi lintas industri seiring meluasnya adopsi pembayaran digital di seluruh Indonesia. Wawasan global yang dipaparkan dalam forum menunjukkan bahwa kejahatan siber berevolusi dengan kecepatan dan skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Jaringan kriminal kini beroperasi menggunakan infrastruktur sistematis berskala industri termasuk botnet, skrip otomatis, dan alat berbasis AI, untuk melancarkan berbagai serangan secara simultan. Penyebutan istilah “AI Agent” meningkat 477 persen, menandai pesatnya pertumbuhan taktik rekayasa sosial berbasis AI, ekstraksi data otomatis, dan kapabilitas serangan lainnya.
"Visa berkomitmen memastikan kemajuan digital Indonesia dibangun di atas fondasi kepercayaan. Dengan membawa wawasan global dan kapabilitas keamanan canggih kepada para mitra lokal, kami membantu menghadirkan pengalaman yang lebih aman dan lebih seamless bagi seluruh masyarakat Indonesia,” ujar Country Manager, Visa Indonesia, Vira Widiyasari dalam keterangan terulis, Rabu, 4 Februari 2026.
Sementara itu, Head of Risk, Regional Southeast Asia, Visa, Abdul Rahim, menekankan pentingnya kolaborasi lintas pasar. Terlebih, Indonesia adalah salah satu pasar pembayaran digital paling dinamis di Asia Pasifik.
"Dengan inovasi yang berkembang begitu cepat di seluruh ekosistem, kita harus tetap
selangkah lebih maju dari ancaman yang semakin canggih, termasuk yang didorong oleh
AI. Ketika inovasi berjalan beriringan dengan keamanan yang kuat dan kolaborasi,
ekonomi digital dapat tumbuh dengan kepercayaan yang berkelanjutan,” ucapnya.
Head of Risk, Visa Indonesia, Nitia juga mengatakan, keamanan adalah fondasi utama pembayaran digital.
"Seiring pertumbuhan QRIS, dompet digital, dan pembayaran real‑time, masyarakat Indonesia perlu merasa yakin bahwa setiap transaksi terlindungi. Dengan menggabungkan intelijen global dan kemitraan lokal, kami membantu issuer, acquirer, dan fintech mendeteksi ancaman lebih
awal dan mencegah penipuan sebelum berdampak pada konsumen dan pelaku usaha,”
ujarnya.
Adapun, kapabilitas global Visa mulai dari deteksi risiko berbasis AI, tokenisasi, autentikasi modern, hingga alat‑alat scam disruption mendukung para mitra di Indonesia untuk menghentikan penipuan sebelum meluas. Salah satu contohnya adalah program Visa Scam Disruption, yang memanfaatkan intelijen global untuk mengidentifikasi dan membongkar jaringan penipuan sebelum mencapai skala besar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ANN)



